25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa

Sebuah penghormatan terhadap para ikon terbesar dalam sejarah dunia musik populer Indonesia, oleh para rekan seperjuangan dan pengikut jejak.

Oleh
Rolling Stone Indonesia

Legenda adalah kata yang sering diumbar saat membicarakan seseorang yang signifikan. Begitu seringnya kata tersebut digunakan, hingga rasanya siapa saja dapat dikatakan legenda. Konsep itu memang relatif, di mana tiap orang memiliki pemahaman dan interpretasinya sendiri tentang apa yang menjadikan seseorang lebih bermakna dan berprestasi dibanding rekan-rekannya yang bisa jadi tak kalah berjasa.

Kalau kita bertanya kepada 100 orang tentang siapa yang layak disebut legenda, bisa jadi kita akan mendapat 100 jawaban yang berbeda-beda. Kini, kami akan mencoba menawarkan jawaban yang lebih pasti. Mengikuti konsep yang dicetuskan oleh Rolling Stone Amerika Serikat saat hendak menentukan sosok-sosok yang paling berpengaruh sepanjang sejarah musik rock & roll, maka The Immortals - 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia berupaya menjawab pertanyaan seputar siapa saja figur-figur yang paling berperan dalam membentuk dunia musik populer Indonesia yang kita kenal sekarang ini.

Dalam menyusun daftar ini, kami meminta kesediaan puluhan nama pelaku dunia musik Indonesia – musisi, produser, pengamat dan lain-lain – untuk membantu dalam menyusun kriteria seputar siapa saja yang layak masuk daftar Immortals. Setelah diskusi yang panjang dan konstruktif, akhirnya diputuskan bahwa mereka yang terpilih adalah mereka yang membawa kontribusi signifikan dalam memajukan dan memperkaya dunia musik populer Indonesia lewat kehadirannya.

Setelah menetapkan kriteria tersebut, kami meminta tiap anggota tim pemilih untuk menyusun daftar Immortals menurut mereka masing-masing, dan mengurutkan nama-nama tersebut sesuai preferensi. Daftar-daftar tersebut dikumpulkan dan ditabulasi dengan sistem nilai di mana perolehan nilai disesuaikan dengan peringkat pada daftar masing-masing pemilih. Semakin tinggi peringkat, semakin banyak nilai yang diperoleh, dan semakin tinggi pula posisi di daftar akhir Immortals. Setelah semua daftar dari tim pemilih dikumpulkan dan ditabulasi, jumlah nama yang masuk mencapai 180. Sesuai dugaan, jumlah yang tidak sedikit.

Berkat sistem nilai, kami mengambil 25 nama dengan perolehan nilai terbanyak dan menetapkan mereka sebagai yang berhak masuk daftar akhir Immortals. Lalu, kami juga menyertakan kisah-kisah tentang para Immortals itu, dari sudut pandang rekan-rekan seperjuangan yang menjadi saksi sejarah, para penggemar yang kemudian sempat lebih dekat dengan idolanya, maupun mereka yang sekadar mengagumi dengan batasan zaman dan mencari inspirasi dari karya dan cerita.

Mereka semua bercerita tentang kontribusi sang artis terhadap dunia musik Indonesia maupun terhadap dirinya sendiri, dan bahkan ada yang memberikan kritikan, karena legenda pun adalah manusia. Dari kisah-kisah ini, diharapkan pembaca bisa tahu lebih banyak tentang artis-artis yang paling berpengaruh itu, dan bagaimana kehadiran mereka membawa perubahan dan inspirasi bagi kita semua.

Tentu saja, daftar semacam ini tak akan luput dari perdebatan, entah itu seputar penempatan masing-masing artis atau bahkan apakah artis-artis tertentu layak atau tidak untuk masuk daftar Immortals. Itu sah-sah saja; lagipula, daftar ini tidak bermaksud untuk mengakhiri perdebatan itu secara tuntas. Yang pasti, nama-nama yang terdapat di sini sudah mengukir tempatnya tersendiri dalam sejarah dunia musik Indonesia. Rasanya itu tidak perlu diperdebatkan lagi.

(Artikel ini pertama kali diterbitkan pada majalah Rolling Stone Indonesia edisi 43/November 2008)

25) Indra Lesmana

Luar biasa rasanya bila mengingat kontribusi seorang Indra Lesmana kepada musik Indonesia, bisa demikian besar walau berpijak pada kenyataan bahwa Indra sebagai seorang musisi jazz, notabene adalah sebuah jenis musik yang segmented atau tidak mainstream, namun tetap bisa diakui sebagai seorang legenda hidup. Seorang prodigy musik yang menelurkan album pertamanya, Ayahku Sahabatku, tahun 1978. Untuk seorang yang terlahir pada 1965, berarti saat itu Indra masih berusia 13 tahun dan sudah menelurkan sebuah album jazz yang kental dipengaruhi John Coltrane, Charlie Parker dan Miles Davis. Seorang sosok musisi yang intelligent, pekerja keras, dan membekali diri dengan determinasi yang tak terkira tingginya.

Mungkin bisa saya bilang ini tak mungkin dipisahkan dari jasa ayahnya oom Jack Lesmana dan tante Nien yang memang merupakan orang tua yang asyik, dan terbukti berhasil mendidik anaknya ini [yang pada dasarnya sudah punya IQ tinggi]. Orang tuanya berhasil memberikan wawasan yang sedemikian luas mengenai berbagai aspek musik. Ditambah dengan kejeniusan seorang Indra Lesmana, yang saya pikir sudah diakui oleh semua orang.

Saya bisa mengakui bahwa Humania cukup terpengaruh Indra Lesmana. Mungkin bukan dari sisi musikal-nya, tapi lebih dari sisi spirit dalam bermain musiknya. Kesimpulan yang saya dapatkan dari hasil sering diskusi dengan Indra menyatakan bahwa aksi musik macam Indra Lesmana maupun Humania memiliki fungsi yang sama, yakni sebagai "penyeimbang" dari perkembangan musik Indonesia. Misalnya ada sisi musik yang banyak orang sebut sebagai pop standar dan berusaha memanfaatkan industri untuk kepentingannya. Nothing is wrong with that, tapi musik yang kami usung adalah sisi yang mungkin menyeimbangkan.

Saya ingat betapa leganya saya, ketika Humania diminta Indra Lesmana untuk mereproduksi lagu "Nostalgia" di album Reborn. Saya minta izin untuk mengubah total nuansa lagu ini, dari fusi reggae dan jazz, menjadi lebih in your face dengan beat drum yang tegas. Dia menyetujui dengan senang hati, "Wah asyik tuh, gue nggak terpikir yang kayak gitu," jelas Indra. Seperti inilah di mana saya dan Indra saling mengisi dan menyeimbangkan, dan friendship ini tumbuh berkembang seiring waktu.

Kisaran 1995 saya pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Indra Lesmana. Saat itu saya di Humania, kami berkumpul dengan artis–artis lain dalam rangka undangan Indra Lesmana, sang empunya wacana untuk mendirikan sebuah wadah bagi para musisi Indonesia. Dan saya sangat menghargai usahanya ini. Menurut saya, Indra Lesmana adalah musisi yang hidup di beberapa generasi, dan ini membuatnya bisa menyambungkan gap generasi antara musisi awal '80-an dengan generasi '90-an se-perti kami. Ini tak lain karena ia mengawali kariernya de-ngan lebih cepat.

Ingatan saya terhadap karakternya adalah betapa passionate-nya seorang Indra Lesmana. Ia juga adalah salah satu orang paling peka dan thoughtful yang saya kenal. Selalu berpikir mencari solusi untuk berbagai pihak. Seorang studio boy saja diperhatikan sekali olehnya.

Dalam sekilas pandang, memang sosok Indra Lesmana sudah mendapat apresiasi yang besar dari Indonesia. Namun menilik kualitas Indra Lesmana sebagai manusia dan musisi, khususnya sebagai musisi jazz, ia bisa lebih maksimal dan go all the way. Saya ada di sana ketika dalam sebuah titik di hidupnya, Indra Lesmana memutuskan untuk hidup di Indonesia. Saya juga sering berbincang dengannya, bahwa sebenarnya Indonesia membutuhkan orang-orang seperti dia. Bagi saya Indra Lesmana sudah mencapai titik yang tinggi dalam hal pencapaian seorang musisi. Namun saya juga menyadari bahwa dengan kemampuannya, ia akan lebih bersinar bila ada di luar negeri, di mana ia akan kerap dikelilingi oleh orang-orang yang berlevel sama [tanpa bermaksud merendahkan orang-orang yang ada di Indonesia tentunya]. Namun pada akhirnya ia sadar bahwa ia memiliki semacam tanggung jawab moral, atau bisa dikatakan peran, yang harus ia jalankan di sini.

Menurut saya, banyak sekali hal yang bisa diteladani dari seorang Indra Lesmana. Yang paling signifikan, ia adalah seorang manusia yang tidak pernah berhenti belajar, mendekati tahap obsesi untuk menguasai. Ia menguasai seluruh pengetahuan dalam merilis sebuah produk musik, dari mulai pembuatan CD, distribusi, membuat musiknya, sampai mendesain studio rekaman lengkap dengan hitungan-hitungan matematis dalam mengukur akustik. Semua ia pelajari sendiri dan pada akhirnya ia kuasai.

Banyak pertanyaan muncul ke permukaan, mengapa seorang Indra Lesmana yang notabene musisi dengan latar belakang jazz yang kental, bermain-main di ranah pop mainstream seperti dalam band Adegan. Bagi saya, langkah-langkah seperti apa yang Indra lakukan banyak sekali dilakukan dan dicontoh oleh musisi lain. Dan di antara kawan-kawan Indra, mungkin hanya saya yang berani mendiskusikan ini dengannya, ketika album kedua akan dibuat. Saya tanya, "Jadi apakah proyek pop ini akan berlanjut? Saya pikir hanya hit and run saja." Ia sempat sedikit terkejut dan kembali bertanya, "Maksud elo?"

Bagi saya, ada beberapa faktor kenapa kawan saya melakukan itu. Salah satunya yang kami bahas adalah adanya permintaan dari pihak label saat itu, ditambah lagi adanya berbagai masalah dan kebutuhan yang mulai menghadang hidupnya saat itu. Nyaris semuanya berperan, membuat kawan saya ini sempat "ngambang" dalam kariernya. Saya sempat mempertanyakan, seperti apa karakter Indra Lesmana yang sebenarnya. Seorang pianis jazz? Vokalis pop? Anggota band? Produser? Arranger? Songwriter? Saat itu kami brainstorming mengenai isu ini, sampai akhirnya muncul sebuah ide untuk menggabungkan segala kemampuannya dalam sebuah album. Maka Reborn mulai dikonsep dan akhirnya dibuat.

Sebuah album yang menurut saya merupakan gambaran sebenarnya tentang seorang Indra Lesmana. Saya bangga ketika kawan saya ini melalui hal-hal yang tak ringan untuk dilalui. Dari mulai masalah hidup yang sensitif seperti pindah agama, mulai bangkit dan kembali berkarya dan lain-lain, saya ada di sana dan menyaksikannya di depan mata. Ketika ia bermain di ranah pop, banyak yang mempertanyakan kenapa, dan saya berhasil menariknya kembali ke ranah yang merupakan identitasnya. Mungkin ini juga filosofi dari Reborn, yang bagi saya adalah album terbaik yang pernah ditelurkan oleh seorang Indra Lesmana, dan saya bangga bisa ada di sana untuk berperan serta dalam tahap konsep ini bersama seorang legenda. (Eki Puradiredja)

24) Ahmad Dhani

Kalau ada pertanyaan, "apa yang paling kamu sesali seumur hidup?" maka jawaban saya adalah, "Kenapa saya bermimpi menjadi pemain band atau musisi Indonesia?" Kenapa kok saya tidak bermimpi untuk menjadi musisi internasional seperti Bono atau Brian Eno. Padahal mimpi itu kan gratis? Padahal kalau saya bermimpi untuk jadi musisi dunia, mungkin saja tercapai. Siapa tahu? Only God knows.

Pernyataan di atas bisa saja dianggap pernyataan yang arogan atau sombong. Tapi pernyataan di atas bisa menjadi penyemangat dan pencerahan untuk anak-anak muda di Negeriku Indonesia. Karena semua bangsa yang besar diisi oleh generasi mudanya yang suka berimajinasi dan mewujudkan khayalannya.

Selain saya adalah seorang pemimpi, saya sadar dan mengerti benar bahwa saya adalah orang yang juga memiliki faktor luck, dan itulah yang membuat saya terus bisa berkarya hingga sampai saat ini masih bisa memperkaya [tidak hanya me-ramaikan] khasanah musik Indonesia. Pernah salah satu musisi Indonesia tidak percaya adanya faktor luck dan menyatakannya langsung di depan Habib saya. Kata Habib saya, "Kalau faktor luck itu tidak ada, maka kata luck itu pun tidak ada di dalam kamus bahasa Inggris." Suatu jawaban yang logis.

Lalu apa faktor luck saya? Saya beruntung memiliki papa dan mama yang menggemari musik kelas dunia. Sejak saya masih dalam kandungan, mama adalah penggemar lagu-lagu populer Indonesia maupun dunia. Sangat mudah bagi saya ketika masih balita untuk menggemari lagu-lagu tersebut. Untungnya juga, mama selalu mengajak saya ke toko kaset dan membelikan kaset kesukaan saya. Dan karena waktu itu semua kaset adalah kaset bajakan, harganya terjangkau oleh keluarga sederhana seperti keluarga saya.

Karena saya terbiasa mendengar Frank Sinatra dan Andy Williams, maka sangat mudah bagi saya untuk menjadi penggemar berat Tony Bennett. Kadang saya berpikir, kenapa tidak banyak yang bisa menikmati dan menggilai album Tony Bennett dan Bill Evans? Padahal tidak lahir lagi orang dengan suara semahal Tony Bennett, Sarah Vaughan, dan juga tidak lahir lagi pemain piano jazz seperti Keith Jarret dan Chick Corea.

Saya beruntung memiliki saudara-saudara sepupu yang menggemari musik rock. Maka saya menyukai Queen, The Rolling Stones, dan Yes saat umur saya sama seperti ketiga anak saya sekarang. Saya beruntung ketika di SD punya sahabat penggemar Van Halen dan Led Zeppelin, sehingga saya banyak mendapat pengetahuan luas dan modern tentang musik rock. Saya beruntung ketika SMP bertemu dan bersahabat dengan teman- teman penggemar musik pop seperti Madonna, a-Ha, Spandau Ballet, Michael Jackson dan juga mulai ngeband bareng teman-teman penggemar musik fusion seperti Casiopea, Uzeb, dan Spyro Gyra. Beruntung juga gedung SMP saya dekat dengan toko kaset yang kasetnya bisa dicoba dulu sebelum membeli. Maka ketika bolos sekolah, saya ke toko kaset dan semua musik saya coba. Jadilah saya penggemar berat Michael Franks, Dian Pramana Putra, Indra Lesmana, Chaka Khan, Kenny Loggins, Gino Vanneli dan musisi-musisi yang jarang dimuat di Rolling Stone ini.

Saya beruntung, ketika SMA bertemu lagi dengan sahabat memperkenalkan saya pada Pat Metheny, dan langsung saya menjadi penggemar berat Pat Metheny. Sahabat saya, Roes, mengenalkan saya lebih dalam pada Miles Davis, Michael Brecker, Ornette Coleman dan banyak lagi. Di SMA saya juga bersahabat dengan penggemar Metallica, Anthrax, dan Megadeth. Tidak lupa juga pertemuan saya dengan Ari Lasso yang memperkenalkan saya pada Bon Jovi dan Warrant. Kalau saya tidak sempat menjadi penggemar easy rock, mungkin saya tidak beruntung bisa membuat lagu semudah "Kangen". Dikarenakan saya bergabung dengan Ari Lasso dalam sebuah band, maka saya harus mengadaptasi selera saya yang fusion dan jazz dengan musik easy rock. Terpilihlah Toto dan Chicago sebagai band yang harus dikhatamkan. Beruntunglah saya khatam semuanya.

Saya kembali beruntung dalam menjalani karier musik bersama Dewa19, bertemu dengan kawan bernama Think Morrison yang memperkenalkan saya pada Kayak, Alan Person Project, dan ELP. Kemudian saya bersahabat dengan Bebi dan Bimo yang mengenalkan saya lebih jauh dengan The Beatles.

Saya beruntung sampai saat ini saya dianugerahi oleh Allah SWT seabreg selera musik yang beraneka ragam, sehingga saya menikmati karya Sergei Rachmaninoff atau juga Maurice Ravel, akibat bergaul dengan pemain orkestra saat rekaman string untuk album-album Dewa19. Saya juga tidak tahu kenapa saya menggemari musik R&B, mungkin mencari format musik fusion yang memudar di era "90-an, maka saya menggemari TLC dan Faith Evans.

Saya beruntung bisa alat musik kibor dan gitar sehingga memudahkan saya memahami musik Steve Vai sekaligus musik elektronik Chemical Brothers. Karena saya mengerti gitar, maka saya mengagumi dan mengadopsi The Edge dan Brian May. Dan setelah saya lakukan riset lagi, memang musisi yang menguasai gitar dan kibor akan menghasilkan karya yang lebih beraneka ragam ketimbang musisi yang hanya menguasai satu alat musik. Dan keberuntungan saya yang terbesar adalah selalu mendapatkan kebetulan dalam memproduksi album. Kebetulan dapat nada-nada bagus. Kebetulan dapat lirik-lirik komersial. Kebetulan dapat sound-sound bagus. Kebetulan dapat ide bagus buat aransemennya. Kebetulan ada yang beli kaset/CD-nya. Kebetulan ada yang mengaktivasi RBT-nya. Kebetulan ada 'kebetulan' yang lainnya.

Kenapa saya begitu yakin dengan faktor luck tersebut? Karena saya adalah orang yang tidak pernah berusaha untuk menciptakan karya musik yang bagus dan sekaligus digemari masyarakat. Karena memang tidak ada suatu usaha yang kongkret untuk bisa mencipta. Semuanya tergantung sumbernya. Kalau sumbernya sudah habis, ya habis saja. Bisa saja pendapat saya salah.

Satu yang pasti, apabila kita memiliki keberuntungan untuk bisa memahami berbagai macam jenis musik, tentunya kita akan paham bahwa musik adalah sebuah evolusi yang memengaruhi berbagai generasi sesudahnya. Contohnya, lagu "Julia" karya The Beatles mempengaruhi "Run To Me" milik Bee Gees. Lagu "Run To Me" mungkin saja mempengaruhi "Jealousy" karya Queen. Lalu semua lagu tersebut mempengaruhi "Kosong"-nya Dewa19. Orang awam atau wartawan musik awam akan dengan entengnya menyebut lagu "Kosong" menjiplak "Jealousy" dan "Jealousy" menjiplak "Run To Me". Begitu juga seterusnya. Capek deh… (Ahmad Dhani)

23) Dewa19

Saya sulit menulis tentang Dewa19. Ada begitu banyak orang yang terlibat di dalamnya, dan saya bingung harus mulai dari mana. Berapa kali mereka ganti drummer? Dua kali ganti bassis. Saya mau bicarakan image, tapi selalu berubah-ubah. Sekali-sekali mereka pakai baju tentara, grunge, atau rock & roll. Saya tanya ke Ari Lasso, "Kenapa sound-nya beda banget dengan album-album sebelumnya?" Dia bilang, "Karena waktu itu kami sedang dengar grunge. Kami benar-benar eksplorasi sound grunge. Gaya berpakaian, itu zaman grunge sedang jaya-jayanya."

Tapi walaupun mereka berubah-ubah image, Ahmad Dhani terkenal dengan arogansinya, ada banyak konflik, Ari Lasso kena drugs dan bangkit lagi, semua hal di media tentang Ahmad Dhani dan Dewa19, yang membuat mereka bagus adalah lagunya. Di era Ari Lasso, lagu-lagunya sangat simpel dan Indonesia. Bisa membuat sesuatu yang sangat berkualitas, tapi tetap down to earth. Kita masih bisa mendengar dan menikmatinya. Tapi begitu mereka upgrade di Pandawa Lima dan Bintang Lima, orang-orang masih membeli dan mencintainya.

Pertama kali saya benar-benar suka Dewa 19 adalah di zaman Pandawa Lima. Generasi saya adalah generasi awal MTV Indonesia, lagu "Kirana". Ari Lasso saja mengaku itu lagu yang benar-benar idealis, tapi sangat laku. Kalau didengarkan, tidak ada refrain; dari awal sampai habis begitu-begitu saja. Tapi ada sesuatu yang aneh dan mistis, yang tidak saya mengerti sampai sekarang. Pada dasarnya tentang orang yang sendiri, mengapa dia lahir di dunia.

Dari sana, saya beli Pandawa Lima. Tapi saya baru benar-benar jatuh cinta saat Bintang Lima, ketika semua orang skeptis bahwa Elfonda Mekel sanggup menggantikan Ari Lasso yang sudah sangat ikonik. Tiba-tiba Ahmad Dhani melakukan hal yang gila, dia bisa mendapatkan Once yang suaranya tidak ada lagi di dunia. Suara seperti milik Ari Lasso juga tak tergantikan. Bagi saya, Bintang Lima secara sound, aransemen dan lirik adalah salah satu album terbaik yang dibuat oleh orang Indonesia. Dari sana, saya selalu beli album-album Dewa. Yang saya suka adalah Bintang Lima dan Cintailah Cinta. Tapi sekarang, saya tidak terlalu mendengarkan lagi, karena saya lebih suka yang lama-lama. Yang sekarang terlalu industri, pattern terlalu sama. Walau Cintailah Cinta bagus, pengulangan kata "cinta" terlalu banyak di sana.

Dhani pernah cerita waktu memakai lambang Tuhan di Laskar Cinta, ada orang fanatik mendatangi Dhani dan ngomong, "Ini lambang Tuhan!" Dhani cuma ngomong ke temannya, "Oh, begini susahnya jadi John Lennon." Gila! Mungkin dia banyak menulis cinta karena hatinya percaya bahwa cinta bisa mengubah segalanya. Mungkin cara menga-takannya berbeda. Kadang-kadang orang menganggapnya terlalu arogan. Tapi kalau kita mengenalnya lebih dekat, he"s a very cool dude. Saat Nidji era album pertama, kami selalu takjub ketika bertemu dengan musisi-musisi senior, selalu ingin tahu lebih dekat. Ada yang pernah wanti-wanti ke saya, "Kalau dengan Dhani, siap-siap sakit hati." Tapi tidak seperti itu yang saya alami bersama Nidji. Yang membuat saya tertawa, waktu saya salaman, dia ngomong, "Lo salaman mulu." Ya sudah.

Mas Ari cerita kalau dia tahu Dewa sudah besar ketika dia berhalangan di sebuah konser karena masih kecanduan drugs. Lalu Dhani naik ke panggung dan bilang, "Konser ini ditunda. Tiketnya jangan dibuang, besok datang lagi. Pulanglah dengan damai." Semua pun pulang dengan damai. Keesokannya kembali lagi dan mereka main. Lucunya, ketika Once datang, Ari Lasso cerita kalau dia tidak merasa sakit hati sama sekali. Malah, "Gila! Suara orang ini gila!" Mungkin dia sendiri sadar, dia sedang kurang sehat dan band itu layak mendapat vokalis yang lebih baik.

Setiap kali single mereka keluar, kami berenam di Nidji sebagai musisi pasti selalu bilang, "Kok dia ada nada seperti ini? Lirik bagus banget! Sound bagus banget!" Selalu ada yang harus dibahas dan ingin dicari tahu. Selalu ada sesuatu yang membuat kami captivated. Ari Lasso menyebutkan, "Dhani adalah orang yang sangat detail." Saya pernah mau ajak Dhani ke klab. "Mas, lagi di mana?" "Lagi di studio." "Kok nggak malam mingguan?" "Nggak ada waktu. Kerja." Ternyata dia sangat mencintai musiknya.

Kalau tentang Andra, Ariel dan Rama sebagai gitaris menganggapnya sebagai salah satu gitaris yang isiannya maut semua. Menurut saya, isian dia yang paling abadi ada di "Pupus", di akhir lagu saat lead sendiri sampai habis. Benar-benar detail dan menyayat, lick-nya juga cocok banget. Itu sebabnya saya merasa "Pupus" adalah salah satu lagu terbaik mereka. Saya juga bingung dia tidak masuk edisi Gitaris Terbaik di Rolling Stone. Di gitar saya tertera tanda tangan Mas Andra.

Sebagai penggemar, saya ingin musik mereka kembali seperti dulu lagi, seperti zamannya Terbaik Terbaik atau Bintang Lima. Dari awal Bintang Lima, intro string sebelum masuk ke "Roman Picisan" saja sudah megah, lalu bersambung ke "Dua Sedjoli" dan "Risalah Hati". Tiga lagu awal itu sudah sangat bagus. Lagu yang paling booming di situ adalah "Separuh Nafas", yang dinyanyikan semua penyanyi dangdut sampai sekarang. Dhani malah bilang, "Itu mah lagu iseng-iseng aja!" Enak sekali bilang lagu "iseng-iseng aja", tapi jadinya seperti itu. Orang gila! Entah kalau arogan, tapi masa bodoh juga kalau arogan. Musik yang dulu sangat bagus dan sangat abadi. Sampai anak saya lahir juga akan dibawakan orang dan terus-terusan dipasang.

Lucunya, mereka bisa bikin sesuatu yang cerdas, tapi dikemas dengan sangat cerdas, elegan dan berkelas. Orang yang tidak mengerti musik masih bisa menikmatinya. Kalau Nidji membuat apa yang menurut kami bagus, bukan berarti semua orang bisa menikmatinya, karena tetap saja masalah selera. Bahkan orang yang tak mengerti musik bisa mengerti musik serumit "Roman Picisan".

Industri telah berbeda. Zaman dulu, kualitas masih dihargai. Lagu "Kirana" masih dibeli, tapi sekarang orang membeli lagu-lagu yang sangat mudah. Dhani pernah ngomong, "Gue nggak mau bikin album full lagi. Buat apa? Tinggal bikin tiga single yang kuat, yang lainnya repackaged. Industri berputarnya terlalu cepat. Kalau semua dituangkan, jadi berlebihan, dan gue yang rugi." Good point.

Di satu sisi, saya sangat sedih. Tapi saya mengerti, karena saya juga kerja di industri ini sekarang. Dulu orang bisa menjual jutaan kopi, sekarang tidak bisa. Sekarang orang cuma mengincar hook, terus jual ring back tone. Musik berkualitas, orang malah don"t give a shit. Seperti Efek Rumah Kaca, itu keren sekali. Dewa sedang berusaha bertahan, dan bagi saya itu wajar. Walaupun mereka sering di ujung tanduk, tapi orang-orang masih akan membeli dan menyukai musik mereka. (Giring Ganesha)

22) Yockie Suryoprayogo

"Sega bukalah tabirmu, misteri membisu yang membeku…" Syair lagu "Harapan" dalam album Jurang Pemisah di mana tertera, sepertinya sang alam sebagai suatu entitas yang bernyawa, tak pernah mendapat sapaan, pujian dan uraian kata-kata yang mengalir terkias dalam melodi nan anggun megah, seindah dan semenawan itu.

Orkestrasi sedemikian rupa terdapat dalam gubahan yang telah tersentuh oleh seorang "Kaisar Senja" yang selayaknya ia rasa, patut diperuntukkan pada setiap untaian lagu. Berasal dari sekumpulan anak muda Menteng era "70-an yang lebih dikenal dengan nama Gang Pegangsaan, Yockie – dan antara lain, Eros Djarot, Chrisye, Fariz RM, Guruh Soekarnoputra, Nasution bersaudara — merujuk untuk menggabungkan aspirasi dan jeritan hati menjadi ungkapan melodi dan syair yang mereka ramu.

Mengambil inspirasi dari persepsi pengalaman pribadi, dan juga dari sambutan alam yang menyentuh dan membuai setiap harinya, mendorong mereka untuk merangkai gubahan-gubahan yang khas, sehingga karya-karya yang terlahir terdengar jujur dan anggun, sopan nan dahsyat, gelap bertajuk terang, dan saga cinta berhujung dendam merindu. Semua tetap bersahaja. Layaknya perilaku seorang priyayi yang tersenyum semilih memandang sebuah lembah yang sunyi tertimpa hujan bergemuruh, berakhirkan secercah sinar sang surya yang merobek mega berlembayung lembut memerah. [Coba dengarkan "Cakrawala Senja" versi album Musik Saya Adalah Saya].

Seperti halnya dalam dunia sastra Amerika, The Beat Generation – ketika Jack Kerouac, William S. Burroughs, dan kawan-kawan mencetuskan gaya literatur yang baru di sana, urban/folk/semi-reportase – Gang Pegangsaan dari dunia musik Indonesia menelurkan suatu gaya bermusik yang berbeda dari para pendahulunya. Dari merekalah sebuah budaya populer baru telah terebak menyebar menyeruak. Sebagai pondasi bagi para musisi setanah air yang berumahkan "Musik Indonesiana." Rumah itu bagai sebuah kesadaran musik pop baru yang terinspirasi oleh band-band luar — berselera baik — pada era itu, seperti Genesis, Chicago, Average White Band, Steely Dan, Van McCoy serta Gino Vanelli, yang dilebur dengan aspirasi alam serta gaya lantunan lagu dan musik khas tradisional Indonesia. Dikendarai sentuhan jazz, gaya choir yang mencekam dan orientasi aransemen string klasik hingga menghasilkan musik pop yang prima.

Di antara segenap barisan para pahlawan budaya itu, Yockie Suryoprayogolah yang berlaku sebagai sang pendobrak, meramu karya-karya mereka dalam bentuk aransemen dan konsep akhir. Misalnya album soundtrack film Badai Pasti Berlalu, dirilis pada 1977 dan masih fenomenal hingga hari ini. Kepiawaian seorang Yockie dalam meramu notasi-notasi nada dan harmoni merupakan suatu terobosan baru dalam segi aransemen. Sebelumnya, pada album Lomba Cipta Lagu Remaja 1977, Yockie jugalah yang bertanggung jawab atas aransemen yang akan laris tidaknya sempat diragukan oleh khalayak musik itu.

Yockie membuktikan bahwa ia adalah agen anak muda zamannya, menjungkirbalikkan tren lama musik pop Indonesia yang "cengeng" dan "hipermelankolis" dengan sempurna. Ia juga yang meyakinkan Chrisye — yang pada saat itu lebih dikenal sebagai pemain gitar bas — untuk bernyanyi lagu klasik "Lilin-Lilin Kecil" hingga menerbangkan Chrisye ke singgasana kerajaan vokal teratas negeri ini. Yockie yang andal pada synthesizer, tidak tinggal diam dalam kesenggangan kesuksesan. Bosan dengan gaya "jalanan," ia berusaha memadukannya dengan sesuatu yang lebih "sekolahan". Ia yang pada saat itu belum mahir menulis notasi partitur, belajar kilat dengan maestro terkemuka Idris Sardi yang terkenal galak dan regimental, untuk menghasilkan masterpiece Musik Saya Adalah Saya. Imbuhan orkestra fundamental digunakan sebagai pengganti suara synthesizer untuk membuat aransemen repertoire pop "Indonesiana" hasil karya dia dan para kompatriotnya, menjadi preseden baru untuk khazanah musik Indonesia akhir "70-an hingga awal "80-an.

Keadaan petang memang terdengar jelas menjadi tema utama di dalam benak Yockie dan teman-temannya. Mungkin seperti dia, saya juga mengagungkan keadaan yang sama. Alkisah ketika saya masih duduk di kelas tiga SD, saya terdiam sendiri di kamar, pada sebuah petang dini. Mendengarkan lagu "Serasa" dari album Badai Pasti Berlalu di radio Top FM, stasiun yang lumayan mahsyur pada zaman itu. Dan pada sekejap itu juga keperawanan mental saya terenggut dan terhempas dari relungnya. Membuat hati pilu sekaligus riuh meregang riang di dalam kemuning senja yang menggarang. Menyadari bahwa hidup ternyata bukan apa yang disodorkan saja, tetapi ada kehebatan Tuhan menganugerahkan nikmat di alam sekitar, dengan cuma-cuma memberikan rasa dahsyat melena jiwa, tanpa imbuhan substansi-substansi yang tak berguna.

Semenjak itu persepsi saya terhadap fungsi hari menjadi berubah. Saya selalu menunggu petang layaknya seorang kekasih yang menunggu kabar dari tanah seberang. Terbayang indah lantunan lagu yang memerawani saya dan berharap ia akan bertandang lagi, menjemput menuju "semesta di malam pertama". Jurang Pemisah, Musik Saya Adalah Saya serta soundtrack Badai Pasti Berlalu menjadi bekal jiwa saya ketika saya melanjutkan studi ke Amerika. Dan selama 10 tahun, ketiga album tersebut menjadi pelipur akan tanah air dengan segenap alamnya yang membius rindu. Setiba di tanah air, saya dan teman-teman berkumpul – dan atas inspirasi yang telah disediakan Yockie – membuat sebuah band bernama Sore. Nama yang tak jauh dari dedikasi kami kepada petang hari, di mana terdengar saripati emas sang "kaisar" yang sangat kental. Dari aransemen, maupun lirik pemujaan alam yang metaforis, kami berusaha sejujurnya menginterpretasikan nuansa kehidupan. Seperti Sore, banyak musisi lain yang merasakan halusnya tapal jalan yang telah diaspal oleh Yockie, antara lain Efek Rumah Kaca dan White Shoes & The Couples Company.

Dampak dan efek yang telah dilandaskan oleh Yockie kepada budaya kita sangat monumental. Kita bisa dengan bangga menjadi bangsa yang berpotensi untuk memperindah kehidupan dengan alunan musik yang bisa dibilang kepunyaan kita sendiri. Dan sepertinya ketika dia dengan lantang menyebutkan motto pribadinya, "Musik Saya Adalah Saya," kita bisa dengan bersahaja juga bersarat bangga penuh penghaturan terima kasih menyuarakan "Musik Dia Adalah Musik Kita Semua". Salut untuk sang Kaisar Senja. (Ade Firza Paloh)

21) Erros Djarot

Saya pertama kali berinteraksi dengan Erros Djarot pada 1977 usai menggarap aransemen untuk lagu-lagu di album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia [LCLR 1977] yang salah satu lagunya adalah "Lilin-Lilin Kecil". Sebelumnya tentu saya pernah melihat Erros manggung bersama Barongs Band di Jalan Pegangsaan atau di Jalan Sriwijaya, kediaman Guruh Soekarnoputra. Hanya waktu itu baru mengenal muka, kami belum bersahabat.

Kemudian pasca-LCLR, Chrisye mengajak Erros ke rumah saya dan menyampaikan gagasannya untuk mengajak saya menggarap musik ilustrasi film Badai Pasti Berlalu. Karena setelah menggarap album LCLR, praktis saya selalu berdua dengannya, entah itu aktivitas di studio rekaman atau aktivitas keseharian. Karena itu pula Chrisye mengajak saya untuk proyek Badai Pasti Berlalu ini. Di situlah pergaulan pertama saya dengan seorang Erros Djarot.

Kesan pertama saya tentang Erros, ia tipikal orang yang sangat impulsif. Erros termasuk figur yang "kontroversial" juga. Apa yang ada di pikirannya sulit ditebak. Ia penuh dengan misteri terutama masa-masa pergaulan remajanya. Misteri itu artinya seperti lazimnya anak muda kebanyakan. Kebetulan masa muda saya banyak dihabiskan dengan keterlibatan bersama narkotika sehingga saya kurang akrab dengan dunia wanita. Kehidupan saya lebih menyerupai seorang junkie yang dunianya ada di dalam studio. Sementara Erros ada di dunia yang sebaliknya dengan saya. Ia memiliki banyak pacar, hidupnya bagaikan seorang Don Juan.

Ketika bekerjasama dengannya dalam menggarap musik di studio, terkadang terasa sulit untuk mengikuti alur Erros. Apalagi jika tidak terbiasa dengan pola berpikir Erros yang impulsif tadi. Terkadang ketika kami sudah menemukan tema, tiba-tiba saja ia berlari ke tempat lain lagi. Idenya selalu berlompatan dan membuat saya sering merasa kesulitan untuk mencari benang merahnya. Namun karena jam terbang pergaulan saya dengannya cukup tinggi, akhirnya komunikasi menjadi lancar dan berhasil juga. Ternyata hal itu kemudian saya pahami menjadi kekuatan seorang Erros.

Gagasan-gagasannya yang di mata saya impulsif, ternyata kejeniusannya justru terlihat dalam melakukan eksplorasi khalayalan. Biasanya kalau orang awam tengah berkhayal, pasti tujuannya akan ke satu titik, sementara Erros tidak seperti itu. Begitu ingin mencapai titik tujuan, khayalannya kerap kali bercabang dan berkembang luas. Walau kadang tidak tercapai tapi akhirnya semakin memperkaya. Itulah kelebihan Erros dibanding teman-teman komposer saya lainnya. Setelah mengenalnya, saya menjadi tertarik dan ikut termotivasi untuk mengembangkan khayalan saya juga.

Yang perlu diketahui Erros itu tipikal orang yang sangat romantis. Jadi kalau dia membuat lagu atau lirik, hampir seluruhnya romantis dan bagus sekali. Bisa dibuktikan di dalam album Badai Pasti Berlalu. Getaran romantikanya luar biasa. Bahkan pada saat ia menciptakan lagu dan bersenandung, sangat terasa getarannya. Saya sering mengalami hal ini jika kami tengah melakukan proses kreatif di studio.

Lalu apakah Erros Djarot itu seorang musisi? Kalau definisi musisi adalah pemain musik, tentu seorang Erros bisa bermain gitar dan piano seadanya. Hanya kalau musisi dalam pengertian profesional, Erros tidak seperti itu. Ia tidak punya komitmen untuk memahami instrumen musik melalui kredo-kredonya, hanya kekayaan imajinasi yang ia miliki.

Menurut saya, kelebihannya yang lain adalah konsisten memelihara imajinasi. Tidak semua orang dapat melakukannya. Seandainya ada orang lain memiliki kapasitas seperti dia, yang sadar menemukan bakat menciptakan lagu, biasanya akan diikuti dengan memperdalam teknis bermusik atau mengkomposisi aransemen. Sementara Erros hanya konsisten memelihara imajinasinya saja.

Oleh karena itu, setiap berproses menggarap musik bersama saya, ia selalu berkata, "Jangan berharap gue bisa memberikan masukan dalam bentuk progresi kord, notasi dan segala macamnya." Ini karena dia tidak memiliki kemampuan tersebut.

Kemampuan dia adalah ketika saya membuka ruang eksplorasi dan ia mampu membaca dan mengarahkan musiknya. Memang proses kreatif kami sangat absurd. Jika tidak memiliki chemistry dengan Erros, tidak akan nyambung idenya. Itu yang saya lihat terjadi dalam proses-proses kerja kreatif Erros dengan teman-temannya, entah di wilayah musik, film bahkan politik. Itu adalah tiga wilayah utama yang Erros geluti sepanjang hidupnya. Oleh karena itu memahami seorang Erros tak hanya bisa dilakukan melalui mulut namun karakter jiwanya juga.

Kelemahan Erros adalah banyak pekerjaannya yang tidak tuntas karena terlalu luas khayalan dan pemikirannya. Namun dia bukan tipikal pembosan. Erros itu tipikal pemikir. Seharusnya ada pola manajemen bagaimana mendayagunakan dan memanfaatkan kapasitas otak seorang Erros Djarot. Kalau bisa atau mampu mengelola hal itu, pasti hasilnya akan luar biasa. Sulitnya sampai sekarang belum ada yang bisa melakukannya.

Belakangan Erros terlibat intens dalam dunia politik. Sebagai seniman dan teman baik dari wilayah kesenian, saya terus terang sangat tidak mengamini pilihannya itu. Hanya sebagai warga negara, saya memahami juga sedikit banyak carut marutnya bangsa ini. Menurut saya memang harus ada orang seperti Erros.

Selama Erros terjun ke politik, sebagai seniman saya merasa sangat "dirugikan". Tentu yang berhubungan kerjasama musikal saya dengan dia, selalu tidak tuntas, karena kepentingan di wilayah kesenian berbeda dengan wilayah politik. Kesenian berbicara dengan rasa, etika, moralitas sementara politik berbicara dengan kepentingan demi kekuasaan. Saya selalu gamang untuk menyeret dia, ke wilayah kesenian atau wilayah politik? Erros pun sepertinya bingung menempatkan dirinya sebagai seniman atau politikus.

Pada akhirnya saya menyadari skala prioritas Erros. Sebagai musisi, domain saya ada di musik hingga skala prioritas pertama adalah musik sementara Erros selama puluhan tahun domainnya politik. Otomatis skala prioritasnya adalah politik. Saya kini memahaminya dan tidak berharap banyak.

Sebagai teman baik, saya hanya kangen sebuah karya atau konsep dari Erros Djarot yang bisa menjadi karya utuh seperti album Badai Pasti Berlalu, film Cut Nyak Dhien atau Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan [PDIP] yang ikut ia desain bersama Megawati Soekarnoputri.

Saya berharap ada karya-karya darinya lagi yang utuh dan tidak menjadi mubazir. Misalnya saya memiliki kemampuan otak seperti Erros Djarot, maka dalam perjalanan hidup saya ingin sekali melakukan banyak hal dan menyelesaikannya. Kongkret. (Yockie Suryoprayogo)

20) The Rollies

"The Rollies sebagai teman dan saingan." Kalimat di atas adalah ucapan kang Gito pada saat memperkenalkan saya kepada peserta itikaf yang diselenggarakan beliau beberapa saat sebelum dipanggil Sang Khalik. The Rollies adalah group jazz rock [bukan rock] pertama yang berhasil mengekspresikan sempurna baik musik secara live show maupun musik pada rekaman secara komersial. Salah satu contoh terbaik adalah ketika mereka membawakan lagu-lagu milik Titiek Puspa dan lagu hits seperti "Kemarau" ciptaan Utje F. Tekol. Ikon Gito dan Deddy Stanzah berkarakter kuat, mulai dari penampilan fisik [rambut yang sama-sama kribo], juga karakter "anak gaul" yang kuat.

Sebetulnya musik kami berbeda karena saya bersama Giant Step lebih banyak membawakan musik beraliran proggresive rock. Puncak persaingan kami adalah saat kami diundang oleh salah satu promotor dari Medan untuk tampil bersama dalam satu panggung di Stadion Teladan. Saya ingat suasana konser saat itu. Nyaris semua penonton VIP yang ada di sana terdiri dari para musisi Medan, sayangnya tidak ada band yang mau manggung bersama kami. Saya ingat salah satu penonton konser itu adalah bung Jelly Tobing. Pria ini pada akhirnya bergabung dengan Giant Step, selain pernah membuat band bernama Superkid bersama almarhum Deddy Stanzah.

Malam itu show-nya tidak seperti biasa yang mengandalkan sistem duel meet di mana dua band diadu secara permainan. Bagai adu banteng. Namun walau bukan dengan format show yang biasanya, ternyata sambutan ribuan massa cukup berimbang antara kedua band kami, karena memang penampilan kedua band ini sangat dinantikan penggemar musik di Medan. Waktu itu vendor penyewaan alat musik yang terbaik di Indonesia adalah LASIKA di Surabaya. Demi menjaga kualitas show, kami bahkan sampai memboyong alat LASIKA Surabaya tersebut untuk digunakan di Medan. Salah satu hal berkesan yang saya ingat dari konser Giant Step/The Rollies adalah para penonton yang datang malam itu. Semua penonton masuk setelah membayar tiket, bukan show gratisan seperti umumnya konser zaman sekarang. Mungkin demikianlah persaingan yang terjadi antara Giant Step dan The Rollies, namun sekali lagi kami tetap dan selalu menjalin persahabatan di luar arena konser.

Sebenarnya jauh sebelum The Rollies berdiri, saya sudah pernah bermain musik bareng Gito di band pelajar saya sebagai siswa SMAN 5 Bandung, sementara Gito di SMAN 2 Bandung. Menilik musikalitas mereka, bagi saya The Rollies telah berhasil memberikan kontribusi positif bagi perkembangan musik pop di Indonesia. Mereka menambahkan unsur alat musik tiup atau brass section. Menurut saya sampai sekarang belum pernah ada lagi band seperti Rollies, dalam arti grup yang siap untuk mengetengahkan konsep bermusik sendiri tanpa harus mengikuti selera pasar. Sebuah penyikap-an yang sangat jarang ditemukan di industri musik arus utama, terlebih pada zaman musik sekarang. The Rollies di samping berhasil mengekspresikan musik Indonesia, beberapa personelnya, terutama Gito dan Deddy, sungguh pandai bermasyarakat dan bergaul dengan semua lapisan. Contohnya saja, apabila kami sedang show di luar kota, bila personel The Rollies yang lain menghabiskan waktu luang dengan istirahat di hotel, beliau-beliau ini selalu menyempatkan untuk jalan keliling kota demi mengunjungi dan berkenalan dengan komunitas teenager di kota tersebut [kegiatan "kunjungan" ini adalah merupakan kegiatan tipikal musisi Bandung jaman baheula].

Dari sisi musikal, sungguh demikian besar kontribusi The Rollies terhadap kancah musik Indonesia era itu. Besar dalam artian The Rollies kerap mempergelarkan lagu-lagu karya sendiri yang merupakan hal yang berani di kancah musik saat itu, yang umumnya penuh dengan band-band yang mengandalkan lagu milik band lain. Tindakan mereka ini menginspirasi banyak pihak sehingga lama-kelamaan mulai terbina apresiasi penikmat musik di tanah air terhadap karya orisinil dari sang musisi sendiri. Dan kini sudah jelas bahwa lagu ciptaan sendiri sudah merupakan kebutuhan masyarakat di seluruh tanah air. Hilang sudah paradigma "menghibur penonton dengan lagu orang", yang di beberapa kesempatan biasanya bahkan mengemban risiko seperti ditimpuk batu. Kini sudah tidak lagi.

Mereka juga selain menjadi inspirasi yang positif dan cukup penting bagi saya dalam bermusik. Khususnya kang Gito, kepada saya pribadi beliau memengaruhi saya dalam cara memandang kehidupan duniawi, terutama pada saat sebelum dipanggil sang Khalik. Kang Gito dengan bijaksana mengajak saya bergabung untuk beritikaf bersama di mesjid dengan para jamaahnya. Beliau menjanjikan bahwa setelah mengikuti itikaf ini, kita akan menjadi manusia yang baru. Dan ternyata memang saya merasakan sesuatu yang berubah di dalam diri saya, terutama dalam memandang dan menghadapi hidup ini.

Selain diri saya, saya pikir generasi zaman sekarang pun bisa belajar banyak dari The Rollies, seperti spirit dalam bermusik. The Rollies memberi inspirasi bahwa bermain musik bukanlah mencapai tujuan untuk menjadi orang kaya. Tetapi jika ada pemusik-pemusik yang menjadi kaya karena kreasinya, itu adalah anugerah Allah SWT, oleh karena itu patut disyukuri dan tidak perlu menjadi sombong dan takabur. Satu lagi pelajaran berharga dari The Rollies adalah betapa pentingnya team work. Bermain musik dalam suatu kelompok band adalah suatu hasil kerja sama. Sehingga dalam sebuah grup tidak boleh ada personel yang merasa paling hebat, tidak ada yang paling penting.

Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada majalah Rolling Stone yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengapresiasi langkah The Rollies, sebuah band yang memang layak untuk memperoleh penghargaan ini mengingat usaha dari mereka dan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan dunia musik Indonesia, dari dulu sampai sekarang. Wassalam. (Benny Soebardja)

19) Achmad Albar

Saya pertama kali mendengar nama Achmad Albar dan Godbless pada 1973, sewaktu masih bersama band Bentoel di Malang, Jawa Timur. Saat itu saya belum pernah menyaksikan mereka manggung. Ketika akhirnya Bentoel manggung dengan Godbless di Bandung, waktunya berbarengan dengan peristiwa ditangkapnya Micky oleh polisi karena menggigit leher kelinci dan menenggak darahnya. Saat itu drummer Godbless masih alm. Fuad Hassan.

Kesan pertama saya tentang Godbless adalah mereka membawa pembaruan terhadap musik rock di Indonesia. Apalagi karena saat itu kebanyakan band lokal belum terlalu memikirkan kostum dan aksi panggung. Sementara kesan pertama saya tentang Achmad Albar sangat luar biasa. Wibawa dan karismanya tinggi sekali.

Boleh dibilang dengan rambut kribonya itu, Achmad Albar membawa perubahan yang besar. Apalagi ia keren, bule dan performance-nya di atas panggung bagus. Suatu ketika Bentoel bermain di Jakarta Fair yang masih terletak di Monas, Donny Fattah dan Achmad Albar datang menyaksikan. Saya bangga sekali. Sepulangnya dari Jakarta, saya bertemu Yockie Suryoprayogo di Malang, dan ia adalah yang pertama kali menawarkan saya untuk bergabung dengan Godbless.

Saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Bentoel, meninggalkan Malang dan pindah ke Jakarta. Saat pamit dengan orangtua, saya tidak diperbolehkan berangkat namun akhirnya nekat kabur. Saya naik kereta api dengan membawa sekoper baju. Kalau tidak salah usia saya waktu itu 23 tahun.

Tujuannya saat itu sederhana saja, ingin menjadi anak band. Pertama kali tiba di Jakarta, saya ditampung Achmad Albar di rumah keluarganya di Perdatam, Jakarta Selatan. Keluarga besarnya sangat mendukung kami. Kebetulan ia tinggal bersama ibunya karena ayahnya telah wafat sejak ia masih kecil.

Ketika menjalankan fungsi sebagai leader band, Achmad Albar adalah tipikal figur yang demokratis. Tutur bicaranya halus sekali, tak pernah ada "Anjing!" keluar dari mulutnya. Kata seperti itu tidak pernah ada di Godbless. Kami sangat menghargai satu sama lain. Mungkin karena itu Godbless awet sampai sekarang.

Selama di Godbless, Achmad Albar jarang menulis lirik namun justru aktif saat bersolo karier. Mungkin karena Donny dan saya sudah siap dengan lagu dan liriknya, sementara di album solo, biasanya saya yang membuat lagu dan dia membuatkan liriknya.

Saya mengagumi karisma Achmad Albar. Hal itu tidak bisa dibentuk karena sifatnya sangat alamiah. Ketika di atas panggung, ia memiliki wibawa yang berbeda dengan siapa pun. Seperti halnya kita menyaksikan aksi panggung Mick Jagger, walau diam saja di atas panggung, orang tetap antusias melihatnya. Kira-kira seperti itulah seorang Achmad Albar.

Selain penuh wibawa, ia juga sangat tenang saat berada di atas panggung. Terkadang kalau saya menyanyi di depan mike dan ia ada di samping saya, suaranya bisa lebih keras daripada saya. Jika terjadi keributan di antara penonton, dengan suaranya yang keras itu ia berteriak menengahi. Teriakan panitia atau polisi selalu gagal, tapi suara Achmad Albar membuat mereka langsung berhenti.

Walau begitu, hubungan Achmad Albar dengan penggemar sangat baik. Sewaktu tur ke daerah, walau capek sehabis manggung dan banyak orang meminta foto, ia layani satu persatu. Urusan dengan penggemar-penggemar perempuan Godbless, dulu ia rajanya. Bahkan bukan penggemar saja, pacarnya pun dulu banyak. Saya tahu ia memang suka jalan bebas dengan siapa saja.

Pengaruh Achmad Albar sangat besar terutama di jalur rock. Dulu orang di Indonesia mungkin belum mengenal rock seperti apa, belum ada standar bagi sebuah grup rock. Setelah Achmad Albar dan Godbless hadir, barulah di daerah orang berlomba-lomba membuat band rock. Bukan berarti Godbless band rock terbaik di tanah air tapi mungkin kami yang mengawalinya.

Yang menarik bagi saya adalah dedikasinya. Walau sering ditawarkan orang untuk mengelola berbagai bisnis, dia tetap memilih menjadi vokalis. Di luar bermain musik dan berenang, ia hobi mengumpulkan barang-barang antik, sangat menyukai kayu-kayu tua, apalagi sekarang tengah membangun vila di Gunung Salak. Namun untuk masalah pribadi, Achmad Albar adalah pribadi yang tertutup. Juga tentang istri. Ia hanya sering "curhat" tentang perkembangan anak-anaknya. Apalagi untuk urusan musik dan rekaman, pasti kami ngobrol panjang lebar.

Achmad Albar tipikal orang yang sangat menghormati orang lain. Berlaku baik bukan terhadap teman saja, bahkan pembantu rumah tangganya. Dengan anak kecil pun orangnya penyabar dan sangat penyayang. Achmad Albar dari dulu memang paling suka anak kecil. Bukan anaknya saja tetapi anak siapa saja. Sampai istrinya yang sekarang pun anak kecil.

Saya mendengar kabar ia ditangkap polisi justru dari wartawan sebelum beritanya masuk TV. Selama puluhan tahun kami bersama, belum pernah ada kejadian seperti itu. Sampai sekarang saya tidak pernah tahu apakah Achmad Albar memakai atau tidak memakai narkotika. Banyak orang bilang saya hanya membela dia, padahal bukannya membela, saya memang tidak pernah melihat. Kalau dia bergaul di diskotek, mana saya tahu apa saja yang dilakukannya.

Sebelumnya saya sudah mengira kalau ia bergaul dengan orang-orang yang menyerempet bahaya, hanya kami tidak berani bicara dengannya. Pergaulannya memang menakutkan waktu itu. Tapi ia tipikal orang yang bisa kemana saja dan punya sangat banyak teman.

Ketika di penjara, ia sempat bercerita walau tidak banyak. "Gila ya, ternyata kita nggak boleh sembarangan menolong orang, jangan terlalu baik sama orang, kadang niat baik malah kena batunya," katanya. Yang saya yakin, jika ia bukan orang terkenal, pasti tidak akan mengalami hal seperti itu.

Setelah ia keluar penjara, saya melihat ia sangat berubah, menjadi pendiam. Yang saya suka sekarang shalatnya rajin, padahal selama puluhan tahun bermain band dengannya, saya belum pernah melihatnya shalat. Sekarang jika datang ke rumah saya, setiap mendengar adzhan ia pasti langsung pergi ke mesjid di depan rumah. Sehari-harinya kini ia lebih banyak berada di rumah saya.

Selama tujuh bulan ia berada di penjara, kami ikut terombang-ambing. Melakukan apa saja seperti tidak pas waktunya. Ini karena Godbless tidak mungkin eksis tanpa Achmad Albar. Tak ada Achmad Albar, maka tak ada Godbless. Akan selamanya seperti itu. God bless Achmad Albar! (Ian Antono)

18) Jack Lesmana

Genap 20 tahun lalu pada 17 Juli 1988, almarhum ayah Jack Lesmana meninggal dunia. Bagi kami sekeluarga, teman-teman musisi, juga kerabat lainnya, kenangan mengenai beliau selalu menjadi hal yang menyenangkan, sehingga waktu 20 tahun itu terasa singkat dan kami kerap masih merindukannya.

Ayah lahir dengan nama Jack Lemmers di Jember pada 18 Oktober 1930, sebagai putra kedua dari pasangan Lui Lodeweyk Lemmers [seorang turunan Madura dan Pakistan yang kemudian diadopsi oleh warga Belanda] dan Jannette Charlotte Wendelstigh [seorang turunan Dayak dan Jerman]. Beliau memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia pada saat seluruh keluarganya harus tersisih kembali ke Belanda.

Lewat cerita beliau, kami sangat terkesan mendengar bakat dan referensi bermusiknya dikembangkan secara otodidak dan melalui acara musik yang diputar di radio zaman itu. Hal ini menunjukan kegigihan dan ketekunannya dalam meningkatkan interest-nya pada musik. Semangatnya untuk menekuni musik ini pun terus berlanjut bersama hobinya mengoleksi piringan hitam yang jumlahnya kurang lebih mencapai 2000 buah pada saat itu [walaupun akhirnya dengan berat hati kami harus merelakan semuanya lenyap bersama banjir....]. Melalui koleksi musiknya, ayah secara tidak langsung memperkenalkan kepada saya berbagai jenis musik, lagu dan improvisasi musisi-musisi andal seperti Miles Davis, John Coltrane, Charlie Parker, Dizzy Gillespie dan lain sebagainya, yang menjadi referensi dan pengaruh penting bagi musik saya.

Kegigihan ayah nampaknya menjadi highlight dalam hidupnya. Bagi setiap orang yang mengenalnya, ayah adalah figur edukator musik dan musisi yang punya semangat serta dedikasi tinggi. Beliau adalah ikon bagi semua muridnya. Rumah kami di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, masa itu kerap dikunjungi oleh banyak musisi dan kerabat ayah. Musik selalu menjadi topik dan bahasa utama kami, dan ayah nampak menjadi seorang leader dengan karisma yang sangat istimewa dalam lingkaran komunitas kami. Ayah pun dikenal sebagai "ayah". Sebutan yang saya yakini terjadi secara alami dari orang-orang terdekatnya berdasarkan rasa respect dan kenyamanan terhadap beliau.

Kontribusi utama yang telah ayah berikan adalah upaya dan kegigihannya dalam mengenalkan musik jazz. Segenap aktivitasnya menjadi terobosan, perubahan dan pengaruh baru bagi perkembangan musik di Indonesia. Ayah mendirikan grup "Indonesian All Stars" bersama alm. Bubi Chen, alm. Yopie Chen, alm. Maryono dan Benny Mustafa. Formasi ini berhasil membuka mata dunia akan kemajuan musik jazz di Indonesia. Penampilan mereka di Berlin Jazz Festival pada 1967 dan membuat album rekaman kolaborasi bersama pemain clarinet jazz dunia, Tony Scott, adalah salah satu masterpiece yang membanggakan. Prestasi yang mereka berikan menjadi bibit dari hubungan baik program seni budaya Indonesia dengan beberapa negara luar, khususnya dalam mendatangkan beberapa musisi jazz dari mancanegara.

Aktivitas ayah dalam membuat program reguler di Taman Ismail Marzuki di awal '70-an merupakan kontribusinya yang lain dalam musik. Ajang tersebut menjadi event penting bagi musisi dan pecinta musik masa itu karena menampilan tema dan kolaborasi dari musisi senior dan musisi muda berbakat. Event ini berakhir pada 1979 dengan tema Farewell Jazz, yang merupakan konser terakhir sebelum kami sekeluarga berangkat ke Sydney, Australia. Kontribusi berikutnya adalah penampilan reguler program musik di TVRI yang dibawakan oleh ayah dengan judul acara "Nada dan Improvisasi".

Dalam industri rekaman, ayah bekerjasama dengan perusahaan rekaman Hidayat untuk membuat beberapa album rekaman yang dibuat di studio di rumah. Ayah pun secara produktif merekam karya-karya dari beberapa musisi papan atas masa itu. Aktivitas ini dapat disebut sebagai salah satu pionir dalam produksi rekaman indie yang cukup sukses di tanah air. Sepulang dari Sydney, Australia, ayah dan saya mendirikan sebuah komunitas pendidikan musik jazz yang kami beri nama Forum Musik Jack dan Indra Lesmana. Melalui komunitas ini kami berkeinginan mendukung bakat-bakat dari musisi muda dan mendorong mereka agar menjadi musisi-musisi terbaik yang Indonesia miliki. Sunday Jazz yang terbentuk sejak 1985 adalah suatu aktivitas terakhir ayah yang merupakan silaturahmi antarmusisi dan pecinta musik.

Ayah adalah seorang multi-instrumentalis, dengan gitar, contra bass dan trombon sebagai instrumen utamanya. Kelebihan permainan musik ayah terdapat pada kemampuan swinging dan improvisasi yang sangat tematik. Sebagai komposer dan penata musik, ayah berhasil menghasilkan beberapa karya melalui album rekaman maupun dalam ilustrasi film bersama rekan-rekan musisinya, juga bersama ibu saya, Nien Lesmana. Lagu berjudul "Ku Lama Menanti" adalah karya ayah yang diciptakan bersama Bubi Chen yang pertama saya dengar. Bagi saya, lagu tersebut merupakan salah satu komposisi modern jazz pertama di Indonesia. Segala prinsip, dedikasi, karya dan kontribusi ayah adalah warisan berharga yang akan terus ada bersama perjalanan musik di Indonesia. (Indra Lesmana)

17) Harry Roesli

"Eeeeh, si bule! kamana wae atuh? meni keterlaluan pisan, berkunjung kadieu 20 tahun sekali!" begitu pasti canda Kang Harry almarhum setiap kali bertemu saya di rumahnya di Jalan Supratman, Bandung. Sampai sekarang, sambil mendengar Titik Api yang menurut saya adalah masterpiece Kang Harry [saya masih mengoleksi semua albumnya!], saya masih bisa mendengar celotehnya si Akang, yang pernah sambil berseloroh saya bilang, bisa cocok buat ngedalang wayang Sunda. Si Akang kontan menoleh, tersenyum, lalu terkekeh dan berkomentar: "Daripada lu, si Pais... pais ikan mas!" [Pais, dalam bahasa sunda berarti pepes, jadi.. pepes ikan mas!].

Harry Roesli adalah tokoh penting bagi karier bermusik saya. Kalau Chrisye menyadarkan saya akan sikap profesionalitas, Yockie Suryoprayogo dalam musikalitas dan Eros Djarot memengaruhi cara berpikir saya, Harry Roesli adalah satu–satunya pemusik pribumi yang saya kagumi prinsipnya. Sebagai pribadi, Kang Harry adalah contoh yang seharusnya menjadi pembelajaran bagi generasi musik muda nasional dalam hal mencintai musik dan bagaimana seha-rusnya pemusik memiliki kepercayaan atas hasil kreativitasnya sendiri. Seingat saya, Kang Harry tidak mau kompromi jika sudah bicara soal apa yang ada di isi kepalanya. Kalau ditegur soal kebiasaannya merokok, si Akang selalu menyahut, "Sambung menyambung menjadi satu".

Sering saya mendengar orang bilang bahwa saya adalah pemusik yang memperkenalkan musik dansa di tanah air. Tapi menurut saya Kang Harry sudah memperkenalkannya sejak Philosophy Gang – Gang of Harry Roesli [1971]. Saya yang waktu itu masih duduk di kelas satu SMP sering liburan ke rumah sepupu saya: Triawan Munaf [ayah Sherina] di Bandung. Dari Triawan , saya pertama kali mendengar album funky tersebut. Saya langsung jatuh cinta pada dua karya di album tersebut: "Peacock Dog" dan "Malaria". Buat saya, sampai sekarang "Malaria" adalah lagu pop-rock ballad paling dahsyat – dari segi melodi, komposisi, dan syair – dan belum pernah ada lagi karya di sepanjang sejarah musik nasional yang mampu disandingkan dengannya! Kesederhanaan kord, melodi yang pas serta kedalaman tematik yang mampu mencair dalam relevansi lintas zaman [terutama kehidupan di tanah air kita], seolah membuat Kang Harry sudah mampu melihat dan peka terhadap aneka problem sosial sejak dulu.

Jauh sebelum era Iwan Fals, Kang Harry telah menyuarakan kepedulian terhadap berbagai ketimpangan dan berupaya menggugah kepedulian sosial lewat lagu–lagunya. Sejak Opera Ken Arok [1975], Harry Roesli seperti merambah ke wilayah multimedia guna mencari solusi ekspresi total dalam berkesenian, sehingga apa yang ingin disampaikannya dapat tercapai. Tak heran di kemudian hari ia menjadi "mitra" berkarya yang tepat bagi tokoh-tokoh teater nasional seperti Nano Riantiarno dan Putu Wijaya. Demikian pula di industri perfilman nasional, di mana ia sering dipercaya sebagai ilustrator.

Kang Harry seperti tak puas dengan media yang sudah dikuasainya. Belakangan ia pun tampil sebagai seorang kolumnis di surat kabar Kompas Minggu, menulis rubrik kolom khusus yang menjadi favorit saya. Kang Harry menyajikan opininya terhadap masalah yang sedang jadi polemik di masyarakat. Lucu, bandel, sekaligus cerdas, persis seperti yang akrab kita dengar lewat sajian karya musik dan syairnya.

Saya terus terang agak merasa sial, karena justru ketika saya susah payah berusaha melanjutkan studi di Bandung setelah lulus SMA, bertepatan dengan Kang Harry mendapat beasiswa studi musik di sebuah konservatorium terkemuka Belanda. Maka sambil studi di Seni Rupa ITB, saya pun bergaul akrab dengan para "jenderal"nya Harry Roesli, seperti drummer Imank Koshardiman, Harry "Potjang", Albert Warnerin, Sabri, Erwin Badudu, dan banyak lagi. Bahkan jujur saja, walaupun saya memang anak Jakarta, tetapi berkat bergaul dan merasa dibesarkan di Bandung, saya lebih nyaman mengaku bahwa saya pemusik Bandung.

Harry Roesli adalah contoh seorang seniman yang jujur sekaligus bijak. Tak pernah ingin berbasa-basi, bisa dilihat ketika jadi salah satu komentator AFI – Indosiar. Komentarnya polos-polos saja. Bergaul dengan si Akang Gelo, kita jadi belajar banyak tentang kejujuran bermusik. Bermusik dan berkreasi tanpa batas!

Indonesia akan mengingatnya sebagai seorang pelopor kreativitas musik yang berani. Dialah yang memperkenalkan konsep "pola ritmis" [bermain dengan aneka ketukan irama dalam satu konsep karya lagu], menguji seberapa telinga penikmat musik kita bisa menerima permainan "nada/notasi simpang " – lazim disebut strain notes [memilih nada–nada yang tak lazim dan terkesan "miring" untuk membentuk berbagai melodi, improvisasi dan progresi] dan yang tak boleh dilupakan, Kang Harry memperkenalkan saya dan teman-teman pemusik di Bandung untuk bermain musik dengan partitur warna! Suatu cikal bakal musik elektronik dan itu semua terjadi di akhir '70-an! Kalau saya akhirnya tertarik mempelajari bermacam instrumen musik, itupun karena melihat si Akang yang main alat apa saja, "Hayo! Biar cepat kaya..." katanya.

Kang Harry tidak hanya bisa komentar belaka. Sepak terjang serta rasa kepeduliannya sering diwujudkan langsung, seperti ketika bersikap peduli kepada anak-anak jalanan dan para pengamen yang dibina dan diajak pentas. Sebaliknya dengan masalah yang dinilainya "palsu", apalagi sok birokrasi yang "tak bernilai positif" di matanya, si Akang akan menanggapinya dengan santai dan seenaknya. Seperti ketika ditegur aparat berkaitan dengan tindakannya memplesetkan lagu "Garuda Pancasila" ciptaan Sudharnoto. Ia meminta maaf pada keluarga Sudharnoto, tapi santai-santai saja menghadapi ancaman hukum dan birokrasi aparat. Khas gaya si Akang Gelo!

Di masa kini, kita seperti kehilangan referensi. Kalau melihat blantika musik dan industri musik kita, rasanya mustahil bisa menemukan lagi karya berbobot seperti lagu monumental "Jangan Menangis Indonesia" [L.T.O. / 1978], yang menempatkan seorang seniman musik [baca: pemusik] Indonesia memiliki "peran" yang lebih terhormat, mencatat sejarah yang berarti dan memiliki eksistensi.

Kang Harry sesungguhnya telah banyak menanam pondasi yang berarti. Bukan hanya di musik, tetapi juga prinsip berkesenian serta cara bagaimana sesungguhnya menghargai kesenian yang kita miliki. (Fariz RM)

16) Gesang

Saya harus mengatakan bahwa saya setuju dengan pemilihan Gesang untuk edisi Immortals ini. Karena dengan satu lagu saja, beliau mampu menjadi ikon sepanjang masa. Lalu dibantu dengan kepedulian media untuk mengangkat ikon-ikon yang ada dan tiada [punya prestasi namun terkubur bersama gencarnya industri pop], itu patut didukung. Kita tidak berpikir Gesang itu sebagai The Greatest Songwriter of All Time, namun kita melihat Gesang Martohartono sebagai seseorang yang diberikan berkah untuk bisa mencipta lagu macam "Bengawan Solo", sehingga ia menjadi ikon.

Saya hanya tahu dua hal mengenai Gesang Martohartono. Beliau adalah pencipta lagu "Bengawan Solo" dan sekarang tinggal di Solo. Beliau adalah orang yang sangat sederhana. Untuk orang setenar beliau – dengan lagu-lagu ciptaannya yang banyak dikenal dan digunakan di mana-mana – penampilan dan gaya hidup beliau sangat sederhana. Saya tidak tahu apakah ada sesuatu yang berbeda dengan kami para musisi zaman sekarang, sehingga sepertinya popularitas sebuah lagu itu tidak sesuai dengan apa yang didapat oleh penciptanya. Coba lihat d"Masiv ketika ring back tone mereka diunduh 1 juta kopi, atau ketika album Sheila On 7 mencapai penjualan yang sangat tinggi. Perubahan ekonomi mereka sangat pesat, dan cukup mengerikan. Namun walaupun lagu-lagu ciptaan Gesang ini sudah diekspor ke luar negeri, tampilan beliau sangat sederhana.

Sosok Gesang adalah sosok yang sangat identik dengan orang Jawa: rendah hati dan kalem. Empat atau lima tahun yang lalu, saya pernah berada di satu acara bersama beliau di mana ia menyanyi "Bengawan Solo" untuk salah satu stasiun televisi swasta. Pada saat itu suaranya memang sudah tidak terdengar seperti penyanyi, namun saya maklum karena itu pasti akibat faktor usia. Saya tidak sempat berbincang dengannya, saya hanya bisa melihatnya dari jauh. Namun dari situ saya menangkap kesederhanaan dan keramahan yang dipancarkan olehnya. Beliau datang dengan memakai baju batik, tidak banyak bicara, sangat low profile. Kondisinya saat itu sangat sehat dan masih bisa menyanyi. Yang saya tahu, sekarang ini keadaan Gesang secara fisik boleh dibilang masih sangat hebat. Untuk usia seuzur beliau, fisiknya masih bagus sekali. Ini pasti orang di atas rata-rata.

Lagu "Bengawan Solo" adalah lagu yang begitu populer, sehingga pernah dipakai baik secara serius, parodi, maupun untuk iklan. Saya mulai mendengar lagu tersebut sejak duduk di bangku sekolah dasar ketika tinggal di Blitar, lalu di bangku SMP [ketika tinggal di Banyuwangi], dan ketika mengenyam pendidikan di Yogyakarta semasa SMA. Saya pun kenal lagu ini karena saya sering diajak ke acara-acara kantor bapak atau acara Dharma Wanita, dan lagu itu selalu menjadi lagu yang wajib dibawakan di acara-acara tersebut. Di sekolah, saya juga diajarkan lagu daerah, salah satunya "Bengawan Solo" itu. Padahal setahu saya lagu itu seharusnya adalah lagu pop, tapi kita mengenal lagu itu sebagai lagu daerah.

Saya pernah melihat sebuah wawancara dengan Gesang mengenai pembuatan lagu dan lirik. Ternyata beliau itu hanya menangkap momen. Kenapa -"Bengawan Solo" itu dibuat, karena ia menangkap momennya, karena itulah yang ia lihat. Perbedaan songwriter dengan seseorang yang bukan songwriter adalah kemampuannya, atau sensitivitasnya, dalam menangkap momen. Mungkin yang melihat Bengawan Solo tidak hanya Gesang, tapi banyak orang. Namun yang menganggap sungai itu indah dan menerjemahkannya dalam bentuk lirik adalah Pak Gesang. Itu adalah ilmu yang sampai sekarang saya sepakati, bahwa apapun sebetulnya bisa menjadi bahan inspirasi. Gesang memutuskan kali itu bisa menjadi lagu yang indah. Penggalan lirik "Air mengalir sampai jauh…" menjadi kalimat yang sungguh ikonik. Kenyataan bahwa seorang penulis lagu itu bisa menangkap sesuatu yang tidak ditangkap oleh orang lain, itu adalah prinsip yang sama-sama saya pahami sebagai orang yang juga sering membuat lirik. Seingat saya, itulah mengapa Gesang membuat lagu tersebut.

Saya tidak dekat dengan lingkungan yang mengapresiasi musik keroncong. Saya tinggal di Jakarta di mana musik sekuler atau musik pop menjadi makanan sehari-hari. Keroncong seperti tidak mempunyai daya tarik, karena acara TV swasta jarang menayangkan musik keroncong. Yang ada malah musik keroncong yang digabungkan dengan musik pop. Yang saya tahu, hanya TVRI yang masih menayangkan musik keroncong. Mungkin keroncong tidak begitu diminati sekarang karena banyak orang mengasosiasikan musik keroncong dengan sesuatu yang tua, alias oldies.

Memang ada musisi muda yang membawa kembali musik keroncong yang digabungkan dengan musik pop. Itu adalah sebuah pembaruan, namun saya rasa tidak memberikan dampak yang begitu besar terhadap perkembangan musik keroncong dan keseluruhan industri musik di negeri ini. Masih ada kesan bahwa musik keroncong itu adalah musik orang tua, keroncong itu adalah musik yang kuno, maka orang enggan menyentuhnya. Menurut saya pribadi, musik keroncong itu bukan musik yang ekspresif. Mengapa musik ini seperti ditelan bumi tentunya juga berhubungan dengan kecilnya peran media untuk mengangkat musik keroncong. Harusnya, jika ingin memajukan musik ini, media bisa mengangkat sisi yang menarik dari musik keroncong sehingga bisa menggali budaya yang telah terkubur sekian lama.

Gesang Martohartono adalah orang yang sangat berprestasi. Buktinya, ia mampu membawa lagu Indonesia sampai ke mana-mana, bahkan sempat dibuat dalam berbagai versi bahasa [di antaranya bahasa Inggris, Cina, dan Jepang]. Lagu ini pun sempat diakui sebagai hasil karya orang lain. Bahkan royalti yang beliau terima pun dari luar negeri. Kalau di-tanya, "Perlukah ada sosok seperti beliau di generasi sekarang?", maka jawabannya adalah antara perlu dan tidak.

Keperluan itu ada karena Gesang adalah orang yang terpilih, bukan karena ada permintaan yang tinggi untuk itu. Permintaan untuk lagu seperti "Bengawan Solo" di zaman sekarang tidak ada. Tapi apakah sistem ini dapat berlaku umum atau karena situasi dia saat itu? Saya tidak tahu. Kalau bisa berlaku secara umum, alangkah berpotensinya musik Indonesia. Mungkin bukan lagu pop yang akan terkenal, tapi lagu daerah. Tapi sekali lagi, Pak Gesang adalah orang yang terpilih. Tidak ada yang dapat melawan kenyataan itu dan tidak ada yang dapat dengan sengaja menggantikan posisinya saat ini. (Pongki Barata)

15) Ebiet G. Ade

Ebiet adalah goth! itulah impresi pertama yang timbul sewaktu mendengar intro "Camelia I". Waktu itu usia masih sangat kecil dan belum lancar membaca. Dan saya lari tunggang langgang mendengar intro lagu tersebut. Namun ketika Ebiet mulai bernyanyi, barulah saya mulai memberanikan diri mendekat pada tape deck Akai di ruang keluarga. Mendengarkan album Camelia I lagu demi lagu. Kakak perempuan tertua sayalah yang bertanggung jawab memperdengarkan Ebiet pada saya untuk pertama kalinya. Memang Ebiet G Ade dan Bimbo adalah soundtrack masa-masa pertumbuhan saya di rumah.

Pada saat itu Ebiet sekadar penyanyi pop yang kondang belaka buat saya. Tanpa harus memutar abumnya, otomatis saya akan mendengarkan lagu-lagunya di rumah. Lagu "Untuk Sebuah Nama" hampir lazim terdengar di setiap tongkrongan remaja yang menghabiskan malam sambil bermain gitar. Dan di setiap gitar mereka sering terlihat sticker urban yang melambangkan betapa identiknya Ebiet dengan gitar akustik. Sticker yang bertuliskan "Gitar milik pribadi, Ebiet minjem aja gak gue kasih."

Seiring bertambah tingginya badan, musik yang yang saya dengar bertambah banyak, dan selera pun ikut berubah. Namun Ebiet G Ade sepertinya tak mau melepaskan saya begitu saja. Ketika celana pendek saya berubah menjadi biru, bernyanyi di depan kelas adalah neraka bagi saya. Dan saya masih saja berkutat dengan lagu "Garuda Pancasila". Saya ambil jalur aman, agar bisa duduk lagi di bangku dengan cepat. Namun ketika saya duduk, dan nomor absen berikut dipanggil, kawan sekelas saya berjalan dengan penuh percaya diri.

Sesampainya di depan kelas dia membisikkan sesuatu ke guru saya, seperti menyebutkan judul. Hmmm. Kelas hening. Lalu tampak dia memejamkan mata. Dan mulai bernyanyi. "Kabut/Sengajakah engkau mewakili pikiranku.." Saya pun terperanjat. "Ebiet, nih." Lalu ketika dia menyanyikan bagian "Roda zaman menggilas/Kita terseret tertatih-tatih/Sungguh hidup terus diburu/Berpacu dengan waktu/Tak ada yang dapat menolong selain yang di sana/Tak ada yang dapat membantu selain yang di sanaaa." Sontak semua anak-anak sekelas bertepuk tangan."Waduh, kok saya terharu yah," saya bergumam sambil bertepuk tangan keras. Canggih banget dia bisa nyanyi "Menjaring Matahari" di depan kelas. Kepala saya terus menoleh mengiringi dia berjalan menuju bangkunya.

Beberapa tahun kemudian dan karena sesuatu hal, saya harus bermalam di rumah kerabat saya. Gila! Suasana rumah sepi hiburan. Hanya ada tape di kamar dan beberapa kaset pop cengeng dengan artwork norak. Tetapi, hei! Saya menemukan sesuatu. Di antara kaset-kaset kancut tadi, terselip satu kaset lusuh zaman dahulu. Ebiet G Ade, Camelia III. Akhirnya kaset inilah satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan hidup saya pada malam itu. Padahal saat itu lagu-lagu di album ini pun sudah tidak lagi masuk chart di radio-radio lokal. Dan saya sedang tidak sabar-sabarnya ingin segera lulus SMA. Agar bisa memanjangkan rambut seperti Mille Petrozza.

Apa daya, keadaan akhirnya membuat saya menyerap semua isi album. Dari komposisi musik, suara Ebiet, liriknya, hingga artwork cover-nya. Perlahan menyerap dari telinga, mata, bahkan menaikkan bulu remang segala.Tiba pada lagu "Lolong", frekuensi selera dan tape compo seperti menyatu. Tangan saya pun tak henti-hentinya menyiksa compo butut itu untuk me-rewind lagu tersebut lagi dan sekali lagi. Dan "Lolong" menjadi titik balik kembalinya saya kepada album-album lama Ebiet G Ade. Sejak malam itu Ebiet G Ade bukan lagi sekadar penyanyi pop belaka buat saya. Hingga kini namanya telah sejajar dengan Lou Reed, Bob Dylan, dan Iggy Pop dalam benak saya.

Ketika mendengarkan kembali album Camelia I, saya tercengang. Gila. Ternyata sejak kecil saya terbiasa mendengarkan album sehebat ini. Puisi dan lagu Ebiet bertambah dahsyat dengan kemasan musik Billy J Budiarjo. "Lelaki Ilham Dari Surga" adalah nomor terbaik di album ini. Lagu yang bernuansa religius, dengan lirik jenius. Dalam suasana-suasana tertentu, lagu ini dapat membuat saya terharu mendalam. Untuk yang bernuansa cinta, "Episode Cinta yang Hilang" adalah pilihan saya. Billy J Budiarjo bermain gitar dengan apik di sana. "Kapankah akan kudengar lagi/Nyanyian angin dan denting gitarmu", langsung disambut dengan sekelebatan gitar. Itu adalah sebagian kecil part yang menggoda. Walau tak dipungkiri, "Lagu Untuk Sebuah Nama" adalah pembenaran ketika kita jadi pecundang. Dan "Camelia", waaah, Dodo Zakaria membuat lagu ini jadi semakin megah. Ketika kecil saya tidak merasakan semuanya sejauh ini. Yah, lebih baik terlambat menyadarinya daripada tidak sama sekali.

Ketika mulai coba-coba bermain musik, saya pun tergelitik untuk mulai menulis lirik. Dan mendengar ulang lagu-lagu Ebiet adalah ritual yang harus dijalani. Album yang digarap bersama Billy J Budiarjo adalah yang paling tepat: Camelia I, II, III, IV, Langkah Berikutnya, Tokoh Tokoh, dan 1984. Bukan untuk mengadaptasi lirik apalagi musiknya, tetapi pemilihan kata-kata pada tiap puisi Ebiet G Ade memicu saya untuk kembali menoleh pada bahasa Indonesia. Banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang terlupakan. Dan Ebiet adalah salah satu yang berhasil merangkainya dengan sopan.

Sayangnya, sulit untuk mendapatkan album-album klasik Ebiet G Ade sekarang ini. Hanya sekadar kompilasi-kompilasi yang berisi pecahan lagu hits tanpa ada keterangan musisi pengiringnya, tahun pembuatan, dan sayangnya lagi, dengan artwork cover seadanya. Andai album klasik Ebiet G Ade didapat semudah mendapatkan Led Zeppelin, mungkin saja musik Indonesia bisa berubah. Yakin? Ah, tidak usah diambil hati. Ini sekadar teori gembel penggemar belaka.

Sebenarnya apa yang saya tulis ini adalah sebagian kecil cerita yang ingin saya sampaikan pada Ebiet G Ade, ketika tanpa sengaja saya bertemu dia di kala melawat mendiang Dodo Zakaria. Namun ketika berhasil mendekatinya, saya kehilangan perbendaharaan kata. Bahkan judul lagu "Lolong" saja sampai lupa. Perasaan saya persis sama ketika harus bernyanyi di depan kelas ketika kecil. Dan kawan-kawan yang hadir malam itu tak habis-habisnya menertawakan saya di hari-hari berikutnya. Mereka tidak tahu kalau dulu saya sering berkhayal. Andai saya memiliki kemampuan seperti Ebiet, dan bertemu kawan-kawan seperti Devo, mungkin saya bisa memulai band yang ajaib. Du du du du du du du du du du du du… (Jimi Multhazam)

14) Gombloh

Hong wilaheng sekar mayang bawono Langgeng. Saya kira, Gombloh mungkin pada awalnya tidak pernah mengikuti dan menuruti resep "yang penting menuruti selera pasar" untuk bisa menjadi legenda musik Indonesia seperti sekarang ini, meski pada akhirnya lagu "Kugadaikan Cintaku" [Apel/ Nirwana Record, 1986] yang sangat komersial tersebut mendapat kesuksesan luar biasa di pasar musik Indonesia saat itu. Namun karya-karya lainnya buat saya adalah karya fenomenal yang memiliki intensitas tinggi dalam aransemennya. Beberapa karyanya bahkan bisa dibilang sangat eksperimental.

Buat saya pribadi, pemusik asal Surabaya ini memiliki karakteristik yang sangat unik, ditilik dari sikap kesehari-an dan juga gaya hidupnya [antikemapanan, memiliki rasa sosial yang tinggi terhadap lingkungannya dan memendam semangat kebangsaan], maupun dalam cerminan karya ciptanya, seperti beberapa albumnya yang bertema tentang kecintaannya pada bangsa dan negara ini. Di luar lagu dan album fenomenalnya, Kebyar Kebyar [Golden Hand, 1979], ada beberapa albumnya yang mengusung tema itu, seperti Kadar Bangsaku [Golden Hand, 1979], Pesan Buat Negriku [Golden Hand, 1980], Terimakasih Indonesia [Chandra Recording, 1981], dan Pesan Buat Kaum Belia [Chandra Recording, 1982].

Inilah daya tarik Gombloh dalam merefleksikan kegelisahannya terhadap masalah-masalah sosial negara ini ke dalam lagu-lagunya, di luar itu pun musiknya memiliki akar pengaruh-pengaruh rock progresif dalam aransemennya. Ini tentunya sangat jauh dari bayangan kita bila dibandingkan dengan lagu "Kugadaikan Cintaku" yang sangat kental unsur popnya, dan bisa dikatakan membawa spirit yang tak jauh berbeda dengan lagu-lagu pop pada era tahun itu, seperti "Madu dan Racun" atau "Anak Singkong"-nya Ari Wibowo. Gombloh sudah memberi saya inspirasi untuk bersikap.

Kalau kita menelusuri lagu-lagu karyanya seperti album Sekar Mayang [Golden Hand, 1981], jelas kita akan menyadari bahwa Gombloh bukan sekadar penyanyi atau pencipta lagu pop biasa, sekelas sebagian musisi pada eranya yang berlomba-lomba ingin menciptakan lagu cinta [baca: lagu cengeng] yang cepat laku di pasaran, namun dia memiliki sesuatu yang berbeda dalam idealis bermusiknya, seperti dalam album Sekar Mayang. Dia pun bereksperimen dengan menyanyi dalam bahasa Jawa, tapi apakah pemikiran penggarapan album tersebut memang sengaja dikondisikan untuk membidik masyarakat pendengar musik yang mengerti bahasa Jawa, atau memang kebutuhan berekspresinya yang hanya bisa diluapkan dengan menyanyi dalam bahasa Jawa, saya tidak tahu. Yang bisa saya mengerti adalah Gombloh sekali lagi sudah memberi inspirasi untuk saya.

Gombloh tidak akan dikenal dan dikenang seperti sekarang ini, album lawasnya tidak akan diburu kolektor musik Indonesia sampai detik ini, kalau dia tidak memiliki satu sikap dan konsistensi dalam bermusik, ditambah dengan gaya hidupnya yang eksentrik. Memang kalau melihat ke-"ajaiban"-nya dalam gaya hidup maupun penampilannya, dengan dandanan yang menjadi trademark: tubuh kerempeng bersepatu kets, topi dan rambut dikuncir, kacamata hitam dan setelan putih-putih, kita akan menyadari bahwa dia memiliki sikap dan konsistensi yang terus dipertahankan sampai akhir hidupnya.

Saya mendengar beberapa kisah hidupnya yang menjadi legenda dari orang-orang yang pernah dekat dan mengenal beliau seperti cerita berikut ini. Pernah dia membayar seorang perempuan pekerja seks komersial [PSK] untuk hanya duduk di dalam studio, memandanginya sambil memainkan gitar untuk mencari inspirasi. Mungkin itu yang tertuang dalam lagu "Doa Seorang Pelacur" [saya kurang tahu persis], karena lagu ini memotret sistem atau jebakan terhadap para pelacur yang membuat mereka tidak mampu keluar dari jaring laba-laba sistem pelacuran. Lalu ada juga lagu yang tercipta dari pengamatannya selama satu jam [pukul dua sampai tiga pagi] terhadap seorang ibu bersama anaknya yang menggelandang di trotoar, dalam lagu yang berjudul "3600 Detik".

Pernah lain waktu Gombloh mendapat uang dari hasil bermusiknya, dan dia merayakannya dengan membeli kutang [beha] sebanyak satu becak penuh. Sambil menumpang becak tersebut, dia membagi-bagikan seluruh kutang itu untuk PSK yang ada di Dolly [lokalisasi pelacuran di Surabaya]. Itulah Gombloh, yang begitu pragmatis pola pemikirannya. Dia sudah sadar secara spiritual bahwa keberadaan orang lain, terutama orang-orang pinggiran yang cenderung dibuang dan dianggap sebagai sampah masyarakat [baca: pelacur] ini pun manusia, boleh ikut serta menikmati kebahagiaannya. Gombloh merasa mereka adalah bagian dari pengentasan karirnya. Bila suatu hal bisa menginspirasikannya dalam menciptakan karya seni, mereka berhak mendapatkan cipratan kebahagiaan darinya. Untuk sekian kalinya, ia memberi inspirasi buat saya untuk bersikap.

Tapi kehendak manusia memang tidak seperti kehendak Sang Maha Pencipta. Walau kita mengharapkan hidup sehat panjang umur dan makmur secara rohani dan materi, dalam kenyataannya, kegemaran dan kebiasaan merokoknya telah membuat berbagai macam penyakit betah bersarang dalam tubuhnya, hingga akhirnya tubuhnya yang kurus itu tidak mampu bertahan. Pada tahun 1988, Soedjarwoto Soemarsono [nama asli Gombloh] dipanggil Sang Maha Pencipta. Sungguh ironis. Sebenarnya ada salah satu karya lagunya yang berjudul "Tetralogi Fallot", bertutur tentang orang sakit jantung. Mungkin hanya dia satu-satunya penulis lagu pop yang menulis lagu tentang penyakit jantung, dan pada akhirnya memang hidupnya harus berakhir karena penyakit jantung yang dideritanya. Meski dengan berbagai sakit yang diderita [salah satunya TBC akut], dia masih bertahan berkarya dan hidup untuk seni musik sampai akhir hayatnya. Itulah Gombloh, dan untuk kesekian kalinya sudah memberi inspirasi buat saya untuk bersikap. (Satriyo Yudi Wahono)

13) Fariz RM

Bercerita tentang Fariz RM memaksa saya untuk mengingat banyak hal di sekitar "80-an. Masa-masa di mana suara synthesizer dan kibor murahan merajalela, dan selera fashion sangat-sangat ajaib. Tak tahu bagus atau tidak, yang pasti tidak ada perempuan yang terlihat cantik pada masa-masa itu.

Musik era "80-an didominasi lagu-lagu tipikal ciptaan bapak Obbie Mesakh dan Rinto Harahap. Juga tipe-tipe lagu pop lain yang disebut "pop kreatif" yang menurut saya terdengar sama-sama saja dengan "pop yang dianggap tidak kreatif" itu. Yang membuat istilah 'pop kreatif' ini pasti kurang kerjaan dan cenderung agak bodoh, hehehe. Saat itu juga banyak band heavy metal dan lady rocker, tapi sayangnya hampir tidak ada lagu lokal yang saya suka.

Sama saja seperti sekarang, untuk melihat band-band yang keren, kita tidak bisa mengandalkan siaran televisi. Pada jaman itu televisi hanya TVRI dan tidak ada internet pula, kasihan yes? Jadi satu-satunya jalan adalah mencoba semua kaset yang ada di toko kaset. Kita dengar satu-satu sampai dipelototin penjaga toko, karena sejak kecil saya selalu yakin bahwa di antara 99% musik yang tak enak ini pasti ada yang sangat-sangat bagus dan enak di kuping, dan di hati tentunya.

Saya sangat mendengarkan Fariz RM waktu beliau bersama bandnya Symphony merilis album Trapesium. Sebagian besar pendengar Fariz RM tentunya menyukai "Sakura" dan "Barcelona", saya sendiri jatuh cinta pada lagu "Astoria". Ketiga lagu tersebut mempunyai formula dan aransemen lirik yang sama. Dan setelah bertahun-tahun kemudian, saya baru sadar ternyata album Trapesium ini tidak dikenal orang, padahal secara musikal dan teknologi, album ini keren sekali. Untuk saya pribadi, album Trapesium ini ada di peringkat pertama playlist saya untuk kategori musik lokal. Yang kedua itu Drakhma, ketiga adalah Indra Lesmana, dan yang keempat, tidak ada. Hehehe.

Fariz RM di era "Barcelona" sudah cheesy, karena saat itu lagu itu menjadi trendy, semua orang suka. Saya sudah tidak lagi bangga, walau saya akui pertama kali dalam hidup saya menaksir cewek ketika musik Fariz berada di era itu. Tapi pada prakteknya, ketika saya pertama kali jadi pemain band, musik Fariz di era itu tidak berpengaruh ke band saya. Ada saat-saat di mana saya mencari contekan dari dalam negeri.

Saat sekolah dasar, saya tidak tahu siapa yang beli album Trapesium itu pertama kali. Tiba-tiba saja kaset itu ada di mana-mana di sekitar hidup saya. Tidak tahu itu punya siapa, seolah-olah kaset itu being around di hidup saya saja. Untuk sebuah band seperti Koil, personel yang mendengar lagu-lagu Indonesia hanya drummer Leon. Donny, gitaris saya, sedikit dengar, saya dan bassis Adam juga sama, sedikit saja mendengar musik Indonesia. Bobby, gitaris saya yang satu lagi, malah sama sekali nggak dengar musik Indonesia. Maka satu-satunya album yang mendapat approval dari kami berlima di Koil hanya milik Symphony, album Trapesium. Walau menurut saya album Metal itu juga bagus, sayang Fariz tidak banyak bernyanyi di sana. Ketika bertemu Fariz, sempat saya tanya kenapa dia tidak menyanyi, malah personel yang lain. Dia memberikan alasan, "Giliran yang lain, biar gantian. Jangan gue terus."

Saya sangat suka lagu "Sirkus Optik Dan Video Game", karena sensasinya mirip seperti waktu pertama kali mendengar Nine Inch Nails. "Anjing, ini musik apaan ya?" Lagu itu sepertinya ada sebelum eksisnya musik rock industrial. Sangat berisik dan aneh buat anak SD seperti saya waktu itu pastinya. Saya sekarang punya sekian juta koleksi lagu dan ribuan vinil, dan kayaknya tidak ada satu pun band yang menggunakan electro keyboards tapi basic musiknya reggae. Yah, mungkin waktu itu Fariz sangat terpengaruh oleh The Police, hanya saja di blend lagi dengan musik art rock yang lagi populer di jaman itu.

Fariz RM adalah seorang multi-instrumentalis yang "katanya" sangat berbakat dalam menguasai semua jenis alat musik. Saya tidak tahu persis kebenaran hal tersebut karena pengetahuan saya hanya sebatas membaca kredit yang ada di sampul kaset. Saya juga tidak tahu apa kontribusi beliau terhadap musik Indonesia secara global, karena saya tidak peduli akan hal itu. Yang saya tahu pasti, beliau ini sangat-sangat berbakat dan bekerja keras untuk semua sound engineering dalam karya-karya musiknya. Hal inilah yang membuat Fariz RM sangat spesial di mata penggemarnya.

Selain sound yang unik dan canggih, beliau juga membangun sistem lirik dan aransemen yang cukup aduhai. Fariz RM punya kebiasaan unik dalam mematahkan dan menyambungkan kosa kata dalam lirik. Mungkin beliau tidak sadar akan hal tersebut, mungkin juga hanya saya sendiri yang memikirkan hal tersebut. Menurut saya, hal inilah yang paling penting dan tidak dimiliki oleh satu orang pun di negara ini. Kemudian saya curi sistem tersebut dan saya bawa ke titik paling ekstrem untuk mengaransemen karya-karya musik saya sendiri. Maafkan saya, tukang jiplak, Oom. Hehehe.

Saya tidak banyak mendengar kegiatan Fariz RM di era "90-an, walau sempat nonton beberapa konser beliau dan bertemu untuk minta tanda tangan bersama kerumunan penggemar lainnya. Saya sempat merekam cover version "Astoria", dan ingin menunjukkannya kepada beliau. Sayang, file-nya hilang.

Di tahun ini, saya sangat beruntung karena diberi kesempatan untuk mengenal Fariz RM dalam dunia nyata, bahkan bekerja bersama dalam musik.

Kami merayakan kembalinya Fariz RM dalam sebuah konser. Maka kami menjalani latihan bersama, nonton beliau berlatih dan soundcheck bersama White Shoes & The Couples Company, agak-agak terharu tidak jelas tea, hehehe. Dan kami cukup banyak ngobrol. Mungkin saya merencanakan membuat musik dan album khusus untuk Fariz RM, ada banyak ide tapi sulit mencari waktu. Saya berharap Fariz RM masih punya semangat membuat album baru untuk millenium baru ini.

Hal yang saya tidak suka dari beliau adalah semangat protesnya menyalahkan para pelaku industri musik Indonesia untuk urusan yang tak jelas. Please get over it, people. Banyak sekali cara untuk musisi selalu survive dengan hasil karyanya, dan Fariz RM adalah salah satu contoh yang baik untuk ditiru. Jadi saya pikir beliau tidak perlu capek-capek protes sama urusan industri musik ini.

Listen to Fariz RM. (Julius Aryo Verdijantoro)

12) Rhoma Irama

Saya pertama kali mengenal Rhoma Irama waktu umur 3-4 tahun, dari rumah tetangga. Saya tidak tertarik sama sekali, menganggap bahwa itu benar-benar mewakili daerah saya – Jati Baru, dekat Tanah Abang, Jakarta – yang sangat Brooklyn pada saat itu. Rumah berdempet-dempet, setiap menyetel lagu itu banyak gerombolan anak muda yang mabuk. Saya masih anak kecil di bawah lima tahun, yang kalau di rumah mendengar musik sweet memories yang disetel ibu-bapak. Musik ini brutal, benar-benar mewakili kebrengsekan.

Kira-kira tahun 2001, saya menonton film Rhoma Irama lewat VCD. Judulnya Cinta Segi Tiga, dia berperan buta. Saya sedang iseng sekali, di bulan puasa dan tidak melakukan apa-apa. Saya baru pertama kali kenal komputer dan bisa bikin musik, di rumah kru Naif. Setiap hari saya ke rumahnya, karena dekat, untuk membuat musik. Karena iseng bikin musik pakai komputer, tidak tahu mau bikin apa, yang penting bikin dulu. Sambil menonton VCD, saya berpikir, "Eh, kenapa tidak digabungkan saja?" Dialog yang ada di film dijadikan tema lagu: "Rika? Apakah kamu itu, Rika?" "Ya, Rhoma." Gila, selama bulan puasa itu saya sangat produktif gara-gara banyak menonton film Rhoma Irama ini. Lagu-lagu itu masih disimpan.

Dari sana, saya mulai perhatikan musiknya. Gila, orang ini musiknya sangat gurih! Aransemennya oke, harmoni dan melodi lagunya enak. Dari sana, ada saja hal-hal baru yang saya dengar tentang dia. Dia pernah menjadi sampul majalah Newsweek, disebut Pahlawan Asia dan sebagainya. Saya pikir dia salah satu musik dangdut berkelas yang pernah ada di Indonesia. Dia sangat peduli dengan sound, aransemen, lirik dan tema. Saya rasa dia seorang superstar. Karyanya banyak; saya pernah baca dia main empat film di tahun "76 saja. Dia punya recording label sendiri, Yukawi yang kemudian berubah menjadi Soneta Records.

Sebelumnya, bagi saya dia itu avonturir politik saja. Dia di PPP, lalu waktu kecil saya dengar gara-gara dia di PPP, dia dicekal di TVRI. Lalu dia ke Golkar. Waktu dari PPP ke Golkar, ada semacam anggapan "Ah, dia hanya avonturir politik." Belakangan, saya dengar dia ada di PKS. Mungkin tipikal orang seperti dia yang bisa menguasai massa dengan pernyataan-pernyataannya. Pantas untuk bertualang di dunia politik, meskipun saya juga tidak terlalu tahu tentang andilnya di dunia politik dan DPR. Mungkin dia salah satu artis yang pertama kali menerobos masuk ke dunia politik.

Dia itu legenda di dunia musik Indonesia karena menjadi pembaharu di musik orkes Melayu. Dia membuat pecinta musik Melayu bingung dengan aransemen rock, dan pecinta rock pada zaman itu sinis terhadapnya. Tapi dia berhasil, sampai ada duel God Bless dan Soneta pada tahun 1977 di Istora Senayan. Pernah dibuat seminar juga, pernah bekerja sama dengan Jopie Item – malah itu sebelum Soneta, dan hal-hal rock sudah mulai kelihatan di sana. Di tahun "70-an, Deep Purple dan Led Zeppelin sedang populer, dan dia berhasil memasukkan harmoninya. Entah menjiplak atau tidak.

Sebelum ada dia, musik itu adalah Melayu yang banyak terpengaruh musik jazz dan Latin: Husein Bawafi dan Muhammad Mashabi. Setelah itu ada dangdut, dan itu sesuatu yang baru. Saya lebih bisa mengapresiasi musik Rhoma daripada discodut atau technodut. Lebih terasa hawa studio dan panggungnya. Tingkat kerumitannya lebih bisa diapresiasi dibanding disederhanakan. Musiknya tidak menyederhanakan sesuatu, tapi merumitkan sesuatu.

Misalnya begini, saya mendengar The Beatles, begitu sederhananya. Tapi begitu saya memainkannya, kordnya ke mana, notnya ke tempat lain lagi. Bukannya saya menyamakan Rhoma Irama dengan The Beatles, hanya Rhoma Irama di aliran yang dia pilih dan bentuk aransemen yang dia pilih juga membuat suatu keunikan yang hanya menjadi miliknya. Begitu ada keunikan yang dimiliki seseorang atau suatu band, itulah letak kekuatannya.

Ada yang lumayan membingungkan saya, yaitu waktu dia mengusungkan Voice of Moslem dan berdakwah dengan musik. Menurut saya, rasanya tema-tema tertentu tidak masuk ke jenis musik, meskipun banyak lirik dan tema lagunya yang punya pesan positif, seperti "Begadang". Setahu saya, ada aturan-aturan tertentu dalam berdakwah yang sebetulnya tidak bisa dicocokkan secara gampang dengan musik, apalagi jenis musik yang identik dengan joget atau apalah. Musik dangdut memang harus joget.

Saya tidak terlalu peduli dengan cerita-ceritanya di luar musik, seperti pencekalannya terhadap Inul atau pernikahan sirinya dengan Angel Lelga. Itu tidak mencemarkan pandangan saya terhadapnya, karena saya menghargai pendapatnya, dan kebetulan dia adalah someone. Dia bukan nobody, jadi apa yang dia bilang itu didengar, meskipun tidak mengatasnamakan siapa-siapa. Jika Rhoma Irama berbicara, ia akan didengar dan berpengaruh.

Dalam beberapa hal, saya setuju dengan apa yang dibicarakan, tapi dalam hal yang lain saya tidak tahu, karena saya tidak terlalu mengikuti berita-berita kehidupan pribadinya. Tentang Inul, saya respek dengan pendapatnya, karena kualitas musik yang Inul usung dengan musik yang Rhoma usung seperti bumi dan langit. Hanya saja, ini Indonesia, di mana karakter orang-orangnya cepat simpati dengan orang yang dianggap minoritas. Jadi saya tidak terlalu khawatir kalau Rhoma Irama berbicara seperti itu. Saya pikir dia benar, karena saya melihat dari sudut pandang musik. Kalau dari segi performance, terus terang saya bukan Inulmania. Saya juga bukan Rhoma Iramamania; saya tidak tertarik untuk menonton Rhoma Irama. Tapi musiknya bisa saya apresiasi.

Namun dia akan selalu diingat karena dia adalah salah satu entertainer yang lengkap. Dia jelas bukan seorang yang suka melucu, tapi saya rasa kalau Amerika punya Elvis Presley, Indonesia punya Rhoma Irama. (Mohammad Amil Hussein)

11) Bing Slamet

Rasanya tidak ada lagi sosok dunia hiburan Indonesia – hiburan dalam kasad: menyanyi, melakon, melawak yang bisa mengembari Bing Slamet. Ketenaran Bing Slamet di bidang seni pertunjukan terpadu itu, begitu melekat di hati masyarakat, sehingga ketika ia pergi untuk selama-lamanya pada 17 Desember 1974, terlihat di jalan-jalan Jakarta tempat dilaluinya iring-iringan mobil yang mengantar jenazahnya ke rumahnya yang terakhir, berbaris-baris khayalak melambai-lambaikan tangan tanda belasungkawa.

Bing Slamet lahir di Cilegon, kini Provinsi Banten, pada 27 September 1927. Ayahnya, Raden Achmad, seorang mantri pasar, sebenarnya hanya memberinya nama Slamet saja. Slamet doang, Slamet thok. Tapi Basoeki Zaelani menyuruhnya menambah nama Bing di depan Slamet. Itu terjadi di Yogyakarta, 1948. Alasannya, vokal Slamet persis seperti vokal penyanyi dan bintang film terkenal Hollywood: Bing Crosby.

Kadung memakai nama Bing, maka tak heran orang menjuluki Bing Slamet sebagai "Bing Crosby from Indonesia". Kebiasaan mengatut-ngatutkan nama bintang Amerika untuk menyeronokkan nama bintang Indonesia sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Sebelum perang atau zaman "voor de oorlog", Tan Tjeng Bok disebut-sebut sebagai "Douglas Fairbanks van Java", Roekiah sebagai "Greta Garbo van Java", dan seterusnya.

Bing Slamet mulai menyanyi di depan publik dengan upah sekadarnya pada waktu usianya baru 12 tahun. Waktu itu seorang penyanyi yang diiringi sebuah orkes disebut "crooner". Ia merupakan crooner dari orkes Terang Boelan pimpinan Hoesin Kasimoen dari 1939 sampai 1944.

Pada zaman sebelum proklamasi, seorang penyanyi bisa mendapat lebih banyak kesempatan tampil, yang artinya bernafkah, jika ia bergabung dengan kompani sandiwara. Demikianlah, pada 1944 selagi masih berkecamuk Perang Dunia II, Bing bergabung dengan kompani sandiwara Pantja Warna. Melalui kompani sandiwara ini ia mengalami "jam terbang" yang lebih banyak mengasah bakatnya dengan kepandaian-kepandaian improvisasi.

Sebagai penyanyi dengan suara bariton yang dipadankan dengan Bing Crosby, Bing Slamet tertempa lebih matang setelah ia bergabung dalam susunan inti penyanyi Orkes Studio RRI Jakarta di bawah dirigen Sjaiful Bahri [orang ini menyeberang ke Malaysia karena alasan politik] serta pemusik-pemusik Indonesia yang menimba pengetahuan musik dari ilmunya Belanda, misalnya Ismail Marzuki dan Iskandar.

Sementara kebolehan Bing dalam melawak, sebagai komedian yang sejati, teruji melalui lomba yang diselenggarakan oleh majalah Ria di Gedung Kesenian Jakarta, 29 Juli 1953. Di situ dia memenangkan juara utama dengan julukan "Bintang Pelawak."

Kala itu ia mengaku, bahwa bakat lawak baginya adalah suatu karunia yang telah mendarah daging. Ceritanya, sejak kecil teman-teman sekelasnya sudah mengenalnya sebagai "anak kocak", sebab ketika ia di-straf gurunya untuk berdiri di depan kelas, maka di situ ia menjuling-julingkan matanya, memerot-merotkan mulutnya, menggoyang-goyangkan kupingnya. Jika sang guru menoleh kepadanya karena curiga pada murid-murid yang tertawa-tawa di bangku mereka, maka lekas-lekas Bing berdiri bagai patung, berlagak tidak berdosa, berlagak pilon.

Setelah memenangkan lomba lawak tadi, ia membentuk kelompok lawak yang bernama Trio Los Gilos bersama-sama dengan Udel [nama aslinya Purnomo] dan Tjepot [nama aslinya Hardjodipuro].

Model trio lawak seperti itu masih dilanjutkannya dengan personel yang memasuki dasawarsa 1970-an, namanya Trio Sae [bahasa Jawa "sae" berarti baik], tapi "sae" di sini merupakan inisial dari nama-nama anggotanya, yaitu Slamet, Atmonado, Eddy Sud.

Pola trio kemudian digantinya menjadi kwartet. Kwartetnya ini mula-mula diberi nama Kwartet Kita, tapi kemudian diganti lagi menjadi Kwartet Jaya. Personelnya terdiri dari dirinya sendiri, Ateng, Iskak dan Eddy Sud.

Bersama kwartetnya ini, Bing tidak saja menyanyi meniru suara Bing Crosby, tapi juga suara Louis Armstrong [yang sama ditiru pula oleh pelawak Bandung Us-Us, serta tidak lupa pianis Bill Saragih, dan juga penyair Sutardji Calzoum Bachri]. Lagu favoritnya, "Blueberry Hill."

Sebagai penyanyi dengan suara bariton seperti Bing Crosby, ia dikenal meluas lewat radio-radio melalui beberapa rekamannya setelah ia memenangkan Bintang Radio pada 1955 untuk jenis hiburan.

Banyak orang kepincut pada suara Bing yang terkesan jantan itu. Salah seorang gadis yang mengaguminya adalah Ratna Komala Furi. Gadis ini akhirnya dipilih Bing untuk menjadi istrinya. Ia dan Ratna menikah pada 1956. Dari pernikahan ini mereka memperoleh anak-anak yang kemudian meneruskan bakat Bing. Mereka adalah Ratna Lusiana, Ratna Varius, Adi Ferdinansyah.

Sebagai artis musik, Bing tidak hanya menyanyikan lagu ciptaan orang lain. Ia juga mencipta lagu sendiri. Di antara sekian banyak lagu ciptaannya itu, yang terkenal antara lain "Belaian Sayang", "Hanya Semalam", "Risau", "Nurlela." Dengan menyebut contoh-contoh ini segera dapat dilihat akan bagaimana terbukanya visinya pada pelbagai corak musik-musik hiburan 1950-an. Ia memanfaatkan semua irama dansa dalam lagu-lagunya itu dengan leluasa.

Hal itu tampak juga dalam visinya memilih nama orkes yang dipimpinnya, yaitu Mambeta Rumpajo. Ternyata nama ini berasal dari singkatan corak-corak musik dansa yang digemarinya, masing-masing mambo, beguine, rumba, passo, joget: semua top pada 1950-an.

Publik Bing Slamet berlapis-lapis: baik mereka dari kelas ekonomi menengah ke atas yang menyaksikan pertunjukan lawak dan nyanyinya di klub-klub malam antero Jakarta, maupun mereka dari kelas ekonomi ke bawah yang menonton film-filmnya di bioskop.

Film-film kocaknya menjelang akhir hayatnya semua diproduksi oleh PT Safari Sinar Sakti dan semuanya memakai namanya sendiri sebagai dramatis personae-nya, misalnya Bing Slamet Koboi Cengeng, Bing Slamet Tukang Becak, Bing Slamet Dukun Palsu, Bing Slamet Setan Jalanan, Bing Slamet Sibuk.

Sebagai seorang komedian tak terbanding, sejak zaman Orde Lama sampai Orde Baru, banyak cerita lucu pula tentang diri Bing Slamet. Salah satunya adalah cerita tentang "ketua" dan "juru bicara" pelawak. Sehubungan dengan itu, konon Bing Slamet bersama pelawak-pelawak ingin memberi gelar Pemimpin Besar Revolusi bidang lawak. Waktu itu semua lembaga pemerintah maupun swasta jor-joran mencari muka kepada Bung Karno dengan gelar itu. Sementara Bung Karno sendiri paling suka disebut sebagai "penyambung lidah rakyat."

Kata Bing Slamet kepada Bung Karno, "Bung, kami pelawak-pelawak Indonesia yang revolusioner dan Nasakomis, sudah sepakat ingin ikut memberi gelar juga buat Bung."

"Gelar bagaimana?" tanya Bung Karno.

"Pemimpin Besar Pelawak," sahut Bing Slamet.

Bung Karno tertawa tapi mengomel. Katanya, "Enak aja lu, Bing. Lu kira gua becanda bikin Nasakom: Nasionalis-Agamis-Komunis? Nasakom bukan lelucon. Nasakom itu serius. En, jij moet weten, ik ben die echte [Dan kamu harus tahu, akulah sejatinya] Penyambung Lidah Rakyat."

Zonder beban Bing Slamet menyahut, "Jangan marah ame aye dong, Beh. Pan aye juga cuman sekadar jadi penyambung lidah pelawak."

Presiden RI pertama terhibur oleh ulah Bing. Presiden RI kedua juga terhibur oleh ulah Bing. Sayangnya, Presiden RI ketiga, keempat, kelima, keenam tidak sempat dihibur oleh Bing, sebab Presiden RI pertama terlalu lama mempresidenkan diri. (Remy Sylado)

10) Bimbo

Masih segar ingatan di kepala ketika pertama kali mengetahui atau mengenal Bimbo sebagai salah satu band yang paling populer di Indonesia. Ketika itu saya masih mengenyam pendidikan sekolah dasar di Bandung. Awal perkenalan saya dengan musikalitas Bimbo bukanlah karena melihat penampilan mereka di TV atau menonton mereka tampil live, melainkan melalui lagu-lagu religi mereka seperti "Ada Anak" dan sebagainya. Setiap bulan puasa, lagu ini sedemikian merebaknya di segala penjuru nusantara. Bisa Anda bayangkan betapa hebohnya Bimbo saat bulan puasa di kota asal mereka, yakni di Bandung. Oleh sebab itu bisa dikatakan bahwa saya sudah ter-brainwashed lagu Bimbo sejak masih kecil. Rasanya tidak afdol bila belum mendengar lagu Bimbo saat bulan puasa. Dulu belum zaman yang namanya mal, yang ada hanyalah shopping centre. Dan apabila berada di shopping centre saat bulan puasa tanpa lagu Bimbo, rasanya agak culun juga shopping centre itu.

Setelah itu baru saya mengenal Bimbo setelah melihat penampilan mereka di TVRI. Karena mereka band Bandung, mereka selalu identik dengan attitude khas Greenpeace, seperti perlindungan hutan, seperti yang terjadi dengan Kang Acil. Band ini membuka mata saya, membuat saya mengetahui bahwa untuk sebuah band religi, tidak harus terlalu mellow, bisa menembus stereotipe lagu religi yang identik dengan qasidahan di zaman itu. Di telinga saya, Bimbo membawakan tema religi dengan pendekatan pop yang berhasil dan sangat modern untuk zamannya.

Penulisan lirik Taufik Ismail untuk Bimbo menurut saya juga sangat dahsyat, membuat tema semakin tersampaikan dengan baik. Seperti di lagu "Lailatul Qadar". Dari kecil saya tahu apa itu lailatul qadar. Namun pada saat mendengar lagu ini dinyanyikan oleh Bimbo, saya merasa sebuah sensasi yang lebih peka lagi. Hanya membutuhkan beberapa kalimat saja, tapi lagu ini merangkum dengan baik apa itu lailatul qadar.

Untuk urusan lagu favorit, rasanya saya akan sama saja dengan siapapun yang mengetahui karya Bimbo, "Tuhan" adalah juaranya. Mendengar lagu ini, saya merasa bahwa manusia manapun pada akhirnya akan mati, dan ketika kita menghadap, apa yang ingin kita katakan? Ini adalah sesuatu dari sebuah lagu yang mampu membuat saya merinding dan membuat hati saya terbuka. Betapa dahsyat kekuatannya.

Saya juga menyadari betapa besar pengaruh pendekatan Bimbo terhadap tema religi dan musik pop, sampai memengaruhi apa yang Gigi lakukan juga di karier kami. Gigi membuat album religi itu karena terinspirasi oleh Bimbo. Saya, Thomas dan Hendy, anggota yang beragama Islam di Gigi, memang berencana untuk membuat album religi untuk mengembalikan sensasi era Bimbo ini. Ketika Bimbo muncul di kancah musik Indonesia dengan konsep ini, rasanya anak muda sangat apresiatif dengan tema religi. Namun zaman kemudian berubah. Bisa dibilang sampai waktu-waktu sebelum Gigi merilis album religi, anak muda di Indonesia sangat tidak apreasiatif, bahkan apriori terhadap tema religi.

Kenapa ini bisa terjadi? Kalau boleh saya berpendapat, ini adalah karena tidak pernah terjadinya regenerasi musik religi yang bisa "masuk" ke anak muda itu sendiri. Bimbo adalah inspirasi utama Gigi untuk merilis album Raihlah Kemenangan. Sebuah alternatif album religi untuk generasi muda. Sudah terlalu lama musik religi hanya berkumandang di mal-mal. Saya melakukan riset sebelum merilis album religi. Anak muda sekarang berbeda sekali dengan anak muda era Bimbo yang bisa dekat dengan pendekatan religi di musik. Inspirasinya memang saya akui datang dari Bimbo. Saya merasa bangga waktu kecil menikmati lagu-lagu religi dari Bimbo. Sensasi itulah yang ingin saya kembalikan.

Ketika saya berbicara informal dengan Kang Sam Bimbo, beliau pun langsung menanggapi dengan positif rencana Gigi tersebut. Saya masih ingat ekspektasi saya ketika melihat satu persatu karakter Bimbo di televisi ketika masih kecil. Saya selalu pikir Kang Acil adalah anggota paling serius, akibat brewok yang paling lebat di band. Namun perkiraan itu salah ketika saya akhirnya bertemu dengan beliau. Kang Acil ternyata adalah anggota yang paling gokil, gaul dan seru. Kang Jaka ternyata adalah Bimbo tersopan, kalau Kang Sam adalah Bimbo pemimpin. Mungkin ini karena ia adalah anak paling tua, jika berbicara terdengar seperti seorang presiden direktur perusahaan. Sedangkan Teh Iin, kalau di televisi terlihat cool, ternyata kenyataannya cerewet minta ampun. Kalau lagi berbicara di telepon dengan dia, saya baru keluar satu kata, dia sudah dua ribu kata.

Saya sering berpikir, apabila Bimbo tak pernah merilis album religi, mungkin saya masih akan tetap menggemari mereka se-perti sekarang. Terus terang saya mendengarkan materi-materi Bimbo yang bukan bernafaskan religi tetapi pop. Menurut saya musik mereka sangat easy listening. Dan hal yang juga membuat saya selalu salut adalah kenyataan bahwa Sam, Acil, Jaka, dan Iin Parlina adalah kakak beradik yang perbedaan umurnya tak jauh. Dalam stereotipe yang ada, kakak beradik pasti sering berselisih tapi tampaknya Bimbo merupakan kasus yang berbeda. Mereka merupakan keluarga kompak yang perpaduan suaranya sangat "kawin". Tak masalah mengenai religi atau bukan, berdasarkan musikalitas Bimbo adalah sebuah grup yang pantas mendapatkan tempat dan penghargaan di musik Indonesia.

Apabila ada pertanyaan, apakah Bimbo sudah mendapat apresiasi yang layak, dari karier mereka yang cukup meriah ketika bulan Ramadhan, berarti bisa saya bilang apresiasi dari para EO, televisi, maupun orang awam sebenarnya bisa dibilang sangat layak, membuktikan bahwa Bimbo adalah sebuah legenda hidup musik religi di Indonesia. Namun di luar itu, saya juga sering menyoroti karier Bimbo dari sisi manajemen mereka. Menurut saya, gagalnya karier musisi di Indonesia kebanyakan disebabkan oleh bidang manajemen. Kalau saja manajemennya lebih digarap, sudah pasti Bimbo akan lebih bisa terangkat dari berbagai sisi apresiasi. Bahkan bila Bimbo punya keinginan untuk membuat sebuah album pop yang non-religi, dengan produser yang tepat, bukannya tidak mungkin kesuksesan akan terjadi. (Armand Maulana)

9) Titiek Puspa

Berbicara mengenai sosok seorang Titiek Puspa adalah berbicara mengenai banyak hal, yang kemudian menimbulkan banyak pendapat maupun kesan. Tapi biasanya semua itu berakhir dengan satu kesimpulan: kekaguman. Kumpulan karyanya melintas sekian puluh tahun, dari zaman Orde Lama sampai hari ini, zaman reformasi. Tidak hanya sebagai penyanyi, karyanya meliputi hampir semua lini bidang dunia hiburan: penulis lagu dan operet, dan juga akting. Kualitas karya-karyanya telah teruji tidak hanya dalam negeri, namun juga dalam kancah musik di luar negeri. Terlebih lagi entah bagaimana caranya seolah apapun yang dikerjakan dan dilemparkan oleh seorang Titiek Puspa ke dalam kancah hiburan pop, selalu relevan dalam konteks kesadaran populer terkini. Lagu-lagunya bercerita tentang -kisah yang dimengerti dan menyentuh semua kalangan dari semua generasi. Pertunjukannya bisa menjadi alasan yang bagus bagi sebuah keluarga untuk berkumpul dan pergi bersama. Di zaman di mana karier seorang artis bisa diukur dengan kalender tahunan memang susah, sangat susah, untuk tidak terpukau dengan kelanggengan karya dan karier Titiek Puspa di khazanah dunia hiburan Indonesia.

Sebuah pertanyaan melintas di dalam benak saat pertama kali bertemu, mengenal, dan apabila Anda adalah salah satu dari yang beruntung, bekerja dengan seorang Titiek Puspa: "Bagaimana caranya seseorang dapat mempertahankan stamina, pesona, kreativitas, antusiasme dan orisinalitas selama lima dekade tanpa henti?" Terlebih lagi, mungkin pertanyaan yang lebih mendasar adalah, "Bagaimana dia terus menerus dapat mempertahankan interest-nya terhadap apa yang dia kerjakan? Apa tidak bosan nyanyi lagi? Manggung lagi? Bikin lagu lagi? Main film lagi?"

Tapi kemampuan Tante Titiek, begitu dia pernah minta dipanggil ketika kami diperkenalkan beberapa waktu lewat, memang tidak terbatas. Mungkin malah tidak ada batas dalam kapasitas yang mampu dilakukannya. Beliau adalah seorang ibu, nenek, businesswoman, artis – diva, mungkin – dan entah apa lagi. Tante Titiek juga gampang bergaul. Beliau terlihat nyaman berbicara dengan siapa saja, terkadang bertanya serius mengenai satu atau lain hal yang menarik perhatiannya kepada anak muda gondrong yang sedang menyetel gitar di belakang panggung, lalu bersenda gurau dengan bapak berjas-dasi di kursi terdepan selepas pertunjukannya. Terdengar kabar kalau Tante Titiek juga terlibat banyak kegiatan sosial di luar rutinitasnya di dunia hiburan, mulai dari arisan ibu-ibu sampai kegiatan sosial dengan tema yang mungkin lebih serius. Seseorang pernah berkata, "There is inspiration in variation," selalu ada inspirasi dari variasi. Mungkin beliau menggunakan topi yang berbeda-beda itu untuk menemukan dan menggali inspirasi dalam karya-karyanya. Atau mungkin memang Tante Titiek memang diberkati bakat yang melimpah ruah dari Tuhan. Apapun itu, Alhamdulillah.

Melihat beliau bekerja membuat iri, bahkan bagi mereka yang berumur kurang dari setengahnya. Kreativitas yang mengalir begitu derasnya, ide-idenya yang segar, kemudahannya dalam menyampaikan pesan, penguasaan materi, staminanya, spontanitasnya. Lagu menjadi lebih hidup dinyanyikan oleh Tante Titiek, lirik menjadi lebih berarti. Jam terbang memang tidak bisa berbohong.

Di samping itu, Tante Titiek sepertinya nyaman bekerja dengan siapa saja, dari pemula yang baru mulai dengan album pertamanya, sampai senior-senior seangkatannya. Lebih penting lagi, Tante Titiek membuat siapa pun yang bekerja bersamanya merasa nyaman. Saat-saat serius dibumbui dengan humor tanpa mengurangi keseriusan, saat santai terlebih lagi. Ide-ide kasar tentang apapun, dari siapapun, disambutnya dengan antusias dan dikembangkan menjadi matang. Bekerja dengan Tante Titiek seperti bekerja dengan ibu yang perhatian atau guru yang tidak menggurui.

Tidak ada senioritas di seni. Yang ada, pengalaman. Dan mereka yang mengerti itu, biasanya dengan senang hati berbagi pengalamannya dengan siapa saja. Karena dengan berbagi, si pembagi biasanya mendapatkan pengalaman baru. Di dalam dunia seni, pengalaman adalah mata air kreativitas. Tante Titiek sangat mengerti.

Tidak berapa lama berselang, sebuah acara konser digelar untuk menghormati Tante Titiek dan karya-karya lagunya. Sederetan artis cross-generational turut memeriahkan acara itu. Terlihat versatility karya cipta lagu dan musik Tante Titiek. Lagu-lagunya terasa segar dibawakan oleh si mungil Gita Gutawa maupun sang maestro Bob Tutupoly. Lagu-lagu itupun bertambah gregetnya dengan aransemen multi-genre dari arranger Dian HP yang sangat mumpuni dalam kapasitasnya. Inilah impian semua insan seni yang coba mengekalkan namanya di dalam dunia karya cipta lagu dan musik. Bahwa karya seseorang masih dianggap relevan dan menarik untuk ditampilkan selang sekian lama adalah pengakuan terbaik yang dapat diharapkan semua seniman.

Tidak banyak pendukung karier seorang artis pop di zaman Tante Titiek mulai berkarya. Belum terlalu banyak radio dan hanya satu stasiun televisi. Tidak ada infotainment untuk memamerkan muka sang artis, atau tabloid untuk menyebar gosip. Belum lagi struktur sosial di zaman itu yang tidak terlalu mendukung seorang wanita berkiprah terlalu banyak di luar kapasitas tradisionalnya sebagai seorang homemaker. Bahwa Tante Titiek mampu bertahan sebagai seorang artis pop untuk selama ini, tanpa meninggalkan kapasitas sebagai ibu dan istri berkata banyak tentang karakter Tante Titiek dan kedalaman talenta yang dimilikinya. Tidak ada selain karya dan personality yang kuat yang mampu membawa karier seperti yang dimiliki oleh Tante Titiek. Karya itulah yang menjadi legacy Tante Titiek di dalam sejarah dunia musik negeri ini.

Seperti tajuk acara konsernya, Tante Titiek memang seorang legenda. Terlebih lagi, seorang legenda yang tampaknya belum selesai berkarya. (Makki Parikesit)

8) Godbless

Di suatu hari yang panas terik, saya berada di sebuah rumah sederhana milik seorang gitaris bernama Ian Antono. Di sekeliling saya duduk Achmad Albar, Donny Fattah serta dua personel baru yang bukan baru, yaitu Yaya Muktio dan Abadi Soesman. Sungguh suasana yang menggugah hati buat siapapun di ruangan itu. Saya beruntung bisa merasakannya. Hari itu adalah hari kedua bulan puasa dan Godbless berkumpul kembali setelah sekian lama tidak berinteraksi. Saat itu, mereka membahas langkah selanjutnya yang akan dijalankan dan tentu saja album baru. Sangat mengharukan bahwa untuk musisi seumur mereka dan dengan nama selegendaris Godbless, mereka masih mempunyai semangat rock n" roll. Mereka masih saja mencari referensi band baru yang bagus, dan masih bertanya kepada saya soal teknis rekaman modern dengan komputer.

Saya yakin tidak ada satupun band Indonesia dari generasi '70-an yang masih exist dan berpenampilan layaknya rockstar muda selain Godbless. Bahkan di usia mereka yang menginjak 60-an, they still rock harder than most young bands in our generation.

Saya ingat pertama kali menonton mereka live. Waktu itu saya duduk di depan amplifier, memandang ke arah ribuan penonton yang memadati ruangan Balai Sidang [sekarang JCC]. Saya juga masih ingat bagaimana speaker amplifier berdengung- kencang di telinga saya dan emosi. Emosi yang saya rasakan setiap kali saya memegang gitar dan membunyikannya. Saat itu saya sadar bahwa Godbless mengajarkan saya arti dari kata "musik."

Godbless sudah seperti keluarga bagi saya. Oom Iyek [Achmad Albar biasa dipanggil] adalah orang yang sangat lucu namun karismatik. Buat saya, dia adalah paman yang sangat baik dan penuh perhatian. Dedikasinya untuk musik adalah contoh dan panutan bagaimana seseorang bisa besar karena fokus dalam melakukan pekerjaannya. Setiap kali turun panggung, Oom Iyek selalu bertanya kepada saya, "Bagaimana tadi sound-nya?"

Oom Ian Antono adalah seorang perfeksionis. Dia tidak rela mengorbankan detail sound sekecil apapun. Sering sekali beliau turun panggung ke FOH untuk melakukan cek agar hasil sound di luar terdengar sama seperti yang didengar di atas panggung, hal yang kini masih dilakukan. Saya melihat Oom Ian sebagai orang yang berdedikasi sangat tinggi bersama sang istri, Tante Titi. Jarang sekali saya lihat Oom Ian mengutak-atik peralatan musik modern. Sound yang dihasilkannya adalah trademark Ian Antono yang menginspirasi jutaan gitaris di tanah air. Oom Ian juga adalah orang yang berpikiran layaknya businessman. Sering sekali dia mengutak-atik hitungan royalti dari hasil penjualan album yang kemudian dibahas bersama personel lainnya. Mungkin karena beliau adalah orang yang sangat teliti, atau memang karena Godbless tidak punya manajer.

Papah saya adalah orang yang pendiam. Sekali bicara, biasanya tentang hal yang penting. Meskipun begitu, dia juga senang sekali bercanda. Beberapa kali terlihat kalau papah adalah orang yang bisa menginspirasi personel lainnya ketika manggung. Papah juga adalah orang yang sangat disiplin, selalu datang pertama kali setiap latihan atau pertemuan di antara personel lainnya.

Godbless adalah band panggung. Mereka membesarkan panggung dan panggung jugalah yang membuat mereka besar. Mereka membawa era baru di industri musik di Indonesia. Bukan, mereka membawa musik menjadi industri di Indonesia. Perjalanan tur panjang yang melelahkan ke kota-kota Indonesia sudah mereka lalui bertahun-tahun sebelum muncul Slank, Dewa, Padi dan lainnya. Mereka mengajarkan bagaimana mengolah sebuah band menjadi suatu bentuk teamwork dan kebersamaan. Mereka juga mengajarkan produksi suatu live show dan membawanya ke daerah-daerah di Indonesia atas kerja keras tahunan melakukan tur. Seperti layaknya band yang sekarang banyak dibilang orang "independen" atau melakukan semuanya sendiri, mereka sudah melakukan itu tiga puluh tahun lalu, hingga sekarang.

Apa yang membuat mereka spesial bukanlah skill, tetapi spirit mereka. Satu-satunya pelajaran teknis yang diberikan ayah saya adalah, "Tidak usah belajar gitar dulu kalau belum bisa jaga tempo." Saya dulu sempat benci kata-kata itu, tapi sekarang saya menyadari bahwa itu benar.

Bicara tentang Godbless adalah berbicara tentang musik rock. Musik yang dijauhi dan dianggap sebagai musik perusak moral bangsa pada era '70-an di Indonesia. Mereka berangkat di era itu dan bersikukuh bahwa mereka tidak akan memainkan musik pop Melayu demi mengikuti selera pasar waktu itu. Kepopuleran yang mereka dapatkan dari panggung, mengisi soundtrack dan ikut bermain di beberapa film, tidak menjadi pijakan untuk membuat musik yang jualan. Sepertinya kepopuleran bukan prioritas mereka. Apalah artinya kepopuleran kalau pada akhirnya seorang musisi tidak menjadi dirinya sendiri dan menjual jiwanya kepada setan besar bernama "kapitalisme?" Godbless memberi jari tengah dan mengucapkan "F*CK YOU!" pada pasar dan membuat album Cermin, yang mengakibatkan penjualannya tidak sukses secara komersial, meski bobot musiknya sangat tinggi, meski mereka sedang berada di puncak popularitas waktu itu. Ingat, kita berbicara di era '70-an. Berapa banyak band yang berani mengambil langkah itu waktu itu? Mereka membuktikan kepada industri musik dua puluh tahun kemudian dengan dinobatkannya Cermin sebagai album progresif rock Indonesia terbaik dengan aransemen musik yang spektakuler.

Bicara tentang Godbless juga bicara tentang musik dengan spirit kemenangan dan karisma keperkasaan serta pemberontakan. Begitu juga tema kemanusiaan dalam lirik mereka, seperti lagu "Anak Adam", "Sodom dan Gomorah", juga "Cermin". Bandingkan dengan lirik dan tema yang dibawa sebagian besar musik masa kini yang hanya bercerita mengenai kekalahan demi kekalahan cinta mereka, seolah kita dipaksa berendam di lumpur kegagalan cinta untuk seterusnya dihibur oleh mimpi di sinetron dan tiga puluh detik ring back tone.

Pengalaman saya dan keluarga besar Godbless merupakan pengalaman generasi saya dan saya yakin generasi setelah saya nanti. Hidup Godbless adalah panutan untuk semua generasi dan pengalaman mereka juga ikut dirasakan oleh semua generasi setelahnya. Hanya satu hal yang tidak bisa kita ikuti dari mereka, yaitu keabadian. (Iman Putra Fattah)

7) Guruh Sukarno Putra

Indonesia sangat beruntung memiliki putra bangsa yang diberkahi talenta tinggi di bidang seni dan budaya. Beliau seorang musisi, komposer, dan pecinta seni tari. Tak cukup itu, beliau pernah menggelar banyak pertunjukan kolosal tari dan lagu, yang sempat menjadi tren di pertengahan '70-an hingga akhir '80-an. Kemampuannya menciptakan lagu adalah berkah buat saya secara pribadi, karena tanpa karya-karya beliau, mungkin jiwa saya akan benar-benar tersesat.

Awalnya di tahun 1989. Pertama kalinya saya menyaksikan pergelaran yang diprakarsai oleh Guruh Sukarno Putra dalam rangka ulang tahun kota Jakarta yang ke-462 di Balai Sidang Istora Senayan, berjudul "Jak Jak Jak Jak Jakarta". Saya berumur delapan tahun dan belum mengerti apa-apa tentang seorang Guruh Sukarno Putra. Yang saya tahu tentang dia hasil menguping obrolan kakak saya bersama teman-teman SMA-nya. Setiap pagelaran GSP selalu seru, bagi mereka sepertinya itu sangatlah trendi. Lalu datanglah saya bersama Ibu menemani kakak perempuan ke pergelaran tersebut. Tak disangka, menyaksikannya adalah pengalaman apresiasi yang tak terlupakan. Bagi saya, pergelaran ini paling berkesan bila dibandingkan dengan menyaksikan Goggle V dan David Coperfield di zaman itu. Rasanya sangat sulit dijabarkan dengan kata-kata, pada intinya semua begitu membahagiakan. Kostumnya fenomenal, berwarna-warni dan terbuat dari material yang tidak terbayangkan pada saat itu di Jakarta: syal dari bulu-bulu, selendang menjuntai dan berkibar. Para tokoh panggung cantik dan rupawan, dengan musik, tarian dan koreografi yang gila-gilaan. Semuanya nampak berkilau dan megah. Semuanya sungguh membius.

Beberapa tahun sesudahnya, saat saya duduk di bangku sekolah menengah di tahun 1996, stasiun televisi swasta giat memutar ulang film lawas sebagai tontonan siang. Maka "Gita Cinta di SMA", "Puspa Indah di Taman Hati", hingga "Ali Topan Anak Jalanan", ikut menjadi menu makan siang saya sepulang sekolah. Kadang bahkan saya menunda-nunda mengganti seragam putih abu-abu dengan baju rumah karena khawatir akan melewatkan adegan yang seru, berkat musik latar yang membuat saya terhanyut. Sensasi seperti ini yang membuat saya ketagihan, lagi-lagi sulit dijabarkan melalui kata-kata. Ketiga film tadi memiliki soundtrack yang memukau, kebanyakan dinyanyikan oleh Chrisye. Mulanya saya tidak memperhatikan hingga akhirnya saat kuliah saya mendapat jawabannya di sebuah toko kaset di Jl. Sabang, Jakarta Pusat.

Album Chrisye yang berjudul Puspa Indah di Taman Hati [1980], digarap oleh tiga musisi dan komposer legendaris, Guruh Sukarno Putra, Yockie Suryoprayogo dan almarhum Chrisye sendiri. Album ini adalah salah satu favorit saya, penyemangat hari-hari kelabu yang membosankan, menemani saya mengerjakan tugas kuliah, di dalam walkman ikut menemani saya pulang kuliah mengendarai Metromini arah Kampung Melayu. Semuanya seperti sangat familier di telinga, mengingatkan kembali pada memori indah semasa kecil. Lagu yang sangat saya suka adalah "Gita Cinta" dan "Puspa Indah". Liriknya puitis dipadu dengan aransemen nada yang diperhitungkan secara matang, mungkin karena penggunaan nada-nada pentatonis dalam banyak lagunya, menyebabkan lagu-lagu tersebut terdengar sangat "Indonesia". Anggun dan abadi.

Salah satu karyanya yang menurut saya menarik adalah "Surya Gemilang". Beberapa orang mungkin tidak banyak tahu, ini termasuk soundtrack film nasional Ali Topan Anak Jalanan [1977], yang menuturkan kebahagian dan pengharapan cerah. Simak dua bait awalnya: "Surya gemilang di ufuk pengharapan/Pagi cemerlang di kalbu dua insan/Sungai berliku bagai kehidupan/Dua remaja bermesraan/Lembah dan ngarai, gunung lautan bukan hambatan". Sedang lagu pasangannya yang dinyanyikan oleh Chrisye, "Kala Sang Surya Tenggelam", bertutur akan kelamnya pengharapan, "Surya tenggelam ditelan kabut kelam/Senja nan muram di hati remuk redam/Jalan berliku dalam kehidupan/Dua remaja kehilangan penawar rindu/Kasih pujaan menempuh cobaan".

Sangat nyata bahwa keahliannya mencipta bukan hanya bakat, namun didukung dengan disiplin ilmu yang tinggi dan proses yang panjang, pengalaman dan eksperimen. Album Guruh Gipsy yang dirilis secara independen pada tahun 1976 adalah salah satu buktinya. Guruh Sukarno Putra bersama Keenan Nasution, Chrisye, Roni Harahap, Oding Nasution dan Abadi Soesman, memadukan ilmu musik barat dengan timur, seperti yang sekarang dilakukan oleh beberapa band seperti Karimata, Discus dan Simak Dialog. Bahkan menurut buku Musisiku yang disusun oleh KPMI [Komunitas Pencinta Musik Indonesia], hadirnya Guruh Gipsy ini bisa dikatakan sebagai tonggak bangkitnya musik pop di Indonesia.

Saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dengan beliau secara langsung. Pertemuan pertama kali adalah ketika White Shoes & The Couples Company diundang untuk tampil pada perayaan hari ulang tahunnya di tahun 2006, di kediamannya di Jakarta Selatan. Sebelum tampil, kami diundang ke rumahnya untuk membicarakan kostum panggung. Beliau adalah orang yang sangat ramah dan membumi, sarat sopan santun dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Kami diminta khusus untuk tampil mengenakan pakaian tradisional, khususnya kebaya bagi saya dan Mela, anggota WSATCC sesama perempuan. Hari itu juga beliau sempat mengenalkan sebuah lagu ciptaan Maladi, "Ombak Samudra", untuk kami bawakan, duduk di depan piano dan memainkannya. Kami semua mendengarkan. Beliau menulis chord dan lirik lagu di secarik kertas folio bergaris. Saat itu pula saya dan teman-teman langsung berlatih di depan piano bersama beliau. Surealis sekali. Ini adalah momen berharga yang tak akan pernah saya lupa sepanjang hidup.

Banyak karya musisi dalam negeri yang menjadi inspirasi saya dan teman-teman ketika menulis lagu di dalam WSATCC. Namun lagu-lagu Guruh Sukarno Putra cukup memberi pengaruh besar, dari segi aransemen dan lirik. Tanpa karya-karyanya, beberapa lagu-lagu terbaik kami mungkin tak akan tercipta. Guruh Sukarno Putra adalah salah satu musisi Indonesia yang terbaik. Bagi saya, karyanya akan hidup sepanjang masa. (Aprilia Apsari)

6) Slank

Saya adalah salah satu dari jutaan anak yang tumbuh dengan musik Slank di era awal "90-an. Bagi saya, sebelumnya musik hanya sekadar bernyanyi dan bermimpi. Tapi saat mereka muncul, musik adalah suatu pilihan yang bisa menjadi gaya hidup dan inspirasi, pola pikir generasi "90-an. Di segi musikalitas, Slank adalah band rock & roll yang bercita rasa Indonesia. Saya berani bertaruh, belum tentu musisi bule bisa membuat atau memainkan komposisi seperti mereka. Lirik cinta tidak perlu diragukan, lirik politik lebih mencerdaskan bangsa dibanding berita di TV yang banyak ditutup-tutupi kepalsuan zaman Orde Baru. Dan yang terunik bagi saya adalah lirik-lirik yang bercerita tentang suatu konsep yang menjadi GBHS (Garis Besar Haluan Slank] di masa kini. Saya tidak akan lupa bagaimana lagu "Pulau Biru" dan "Generasi Biru" menjadi lagu wajib lahir dan batin saya dan teman-teman.

Dimulai dari album pertama dengan judul Suit..Suit..He..He..[Gadis Sexy]. Pertama saya dengar dan lihat video mereka di TVRI. Single "Suit..Suit..He..He" terdengar cukup aneh untuk anak kelas empat SD. Tidak semua kata-kata ataupun makna lagu saya mengerti sepenuhnya. Tapi saya jatuh cinta dengan komposisi musik mereka yang kemudian disusul single "Maafkan", yang lebih pop dan tentu saja evergreen. Dari situ saya memutuskan membeli kasetnya. Sewaktu membeli kaset Slank pertama saya, ada sekumpulan orang dewasa menertawakan bocah SD ini. Mungkin bagi mereka adalah pemandangan yang tidak lazim, seorang bocah SD yang diantar kakeknya membeli kaset Slank dengan judul Gadis Sexy [Terima kasih "Kek, mengizinkan dan membelikan album yang mengubah hidup saya].

Lalu album Kampungan menyusul bagai hook kedua, dengan sampul yang bisa disablon ke t-shirt dan tentu saja saya jadi anak SD di lingkungan saya yang memakai t-shirt bergambar Bimbim cs. Di album ini saya mulai memahami apa yang mereka maksud dengan slenge"an itu. Perlahan tapi pasti, pertumbuhan saya dirasuki dengan lagu-lagu Slank. Lanjut album ketiga dengan judul Piss! Ini adalah album terfavorit saya sepanjang hidup, bersaing ketat dengan beberapa album The Beatles dan Diorama-nya Silverchair. Album ini sangat soul versi Slank. Walau tidak satupun lagunya dibuatkan video klip, tetap saja ini album terfavorit saya, titik.

Saat era album Piss! inilah saya mulai bertemu dan berteman dengan Slanker-Slanker yang lain. Di situ saya berbagi dan tumbuh bersama mereka. Saat itu saya sudah SMP, jadi lebih memungkinkan untuk datang ke konser-konser Slank. Di umur ini saya mulai sadar kenapa saya mencintai mereka dengan lebih. Dengan latar belakang keluarga broken home, saya menjadi penyendiri sejak SD, dan Slank tahu betul bagaimana menyuarakan orang-orang seperti saya. [Oke, cukup untuk curhat colongannya.]

Lanjut ke album keempat, Generasi Biru. Dari sini saya mulai belajar teknis lagu lebih serius. Secara tidak langsung, Pay adalah salah satu guru gitar saya. Di lagu "Kamu Harus Pulang", ribuan kali saya mengulang dan menguliknya. Dari situ saya belajar perbedaan pentatonic scale dan blues scale. Di album ini, Slank take tracking di Puncak, sesuatu yang tidak lazim di zaman itu. Ada lagu "Fever"-nya Aerosmith di awal, yang kemudian di-susul teriakan Pay untuk mematikan lagu tersebut. Opening album yang mencengangkan, disusul dengan lagu "Generasi Biru" dengan first line, "Aku bukan pion-pion catur/Aku gak suka diatur-atur." Rasanya seperti terbakar bahagia saat pertama kali mendengarnya.

Lanjut ke album Minoritas. Seperti album-album sebelumnya, lagu dan komposisi bagus selalu ada. Hanya saja, menurut saya kali ini sampulnya tidak sejalan dengan isi albumnya, seperti dibuat terpisah dan buru-buru. Sebagai Slanker, saya merasakan ada sedikit kekendoran yang mereka alami, tapi walau bagaimanapun, bagi saya mereka adalah pahlawan yang hidup satu era dengan saya, jadi saya tidak perlu belajar di sekolah untuk mencintai Slank.

Kemudian terjadilah suatu letupan yang mengagetkan banyak pihak: Indra, Bongky dan Pay tidak lagi bermain bersama Bimbim dan Kaka dengan isu seputar drugs! Salah satu alasan saya membenci drugs: selain merusak teman dan saudara, juga merusak Slank. Saya merasa seperti dipaksa berkemas dan keluar dari rumah sendiri, padahal di awal karier Slank, Pay sempat diisukan keluar, tapi karena konsep kebersamaan, mereka terselamatkan waktu itu.

Dari perpecahan itu, muncul formasi dan nama-nama baru di peta musik Indonesia. Formasi Bimbim-Kaka-Reynold-Ivanka dengan album Lagi Sedih yang dilanjutkan dengan formasi Bimbim-Kaka-Ridho-Abdee-Ivanka dengan debut album Tujuh hingga detik ini. Sedangkan Bongky, Indra dan Pay membentuk BIP, dan saya sendiri membentuk band bernama Sheila On 7.

Sepertinya cukup bagi saya untuk menulis tentang Slank karena setelah perpecahan itu, saya kurang detail mengikuti perjalanan mereka lagi. Bukan benci atau tidak suka dengan formasi baru, hanya saja ternyata saya pun harus tumbuh dewasa dengan segala kepentingan dan kebutuhan. Tapi sampai detik ini saya tidak pernah absen membeli CD terbaru dari mereka, dan tetap saja merasa ada yang lebih pantas menulisnya selain saya.

Jika ditilik dari segi positif Slank, mereka banyak memberi pengaruh positif untuk saya. Begitu juga cerita negatif mereka, seperti misal masalah mereka dengan drugs. Dari situ saya bisa membaca pilihan mana yang akan saya ambil.

Mereka adalah pahlawan sejati untuk saya. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, mereka memberi nilai-nilai positif untuk jutaan anak bangsa. Hingga detik ini pun, mereka masih berjuang dan menjadi pahlawan untuk generasi-generasi baru.

Salam hangat untuk Bimbim, Kaka, Ridho, Abdee, Ivanka, Bongky, Indra, Pay dan semua Slankers. Piss! (Eross Candra)



Related

Most Viewed

  1. JRX, Frau, Iksan Skuter Bakal Tampil di Acara Solidaritas Korban Penggusuran Kulon Progo
  2. Payung Teduh Memperkenalkan Single Terbaru, "Di Atas Meja"
  3. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  4. Berkolaborasi dengan Vokalis Komunal, Taring Melepas Lagu Terbaru
  5. Ramengvrl Lepas Single Terbaru, "GO! (I Can Be Your)"

Editor's Pick

Add a Comment