10 Tembang Dara Puspita Terbaik

Di antara semua lagu orisinal yang pernah dibawakan Dara Puspita, manakah sepuluh yang terbaik?

Oleh
Dara Puspita

Menelaah sebuah lagu hampir tidak mungkin dilepaskan dari konteks sosial budaya bahkan pencapaian teknologi yang melahirkannya. Tolok ukurnya sering harus berangkat dari sebuah toleransi. Dara Puspita lahir dan besar dalam periode tahun 1960-an, ketika sub-kultur pop masih sangat tergantung pada informasi yang datang dari Barat. Wajar jika beberapa ciptaannya terdengar banyak memiliki kemiripan dengan karya milik pemusik yang saat itu tengah mendunia seperti The Beatles, The Rolling Stones, Creedence Clearwater Revival, atau Little Richard. Ada yang sekadar mengambil inspirasi, dan ini lumrah dilakukan oleh musikus mana saja. Ada juga yang secara telak mengadopsi secara telanjang tanpa melalui filter kreatif. Salah satu hit terbesar mereka, "Mari-Mari", termasuk dalam kategori terakhir. Dengan pertimbangan di atas, lagu tersebut tidak kami masukan ke dalam sepuluh karya abadinya.

10) "Berangkat Pulang" (Indra Record)

Seluruh instrumen seakan berlomba menyuarakan keriangan yang bersumber pada lirik. Mudah ditebak, lagu ini ditulis menjelang kepulangan Dara Puspita ke tanah air dari lawatannya di Eropa. Permainan ketat Yudith Manoppo pada bas diimbangi kocokan gitar Titiek AR melahirkan bebunyian energetik yang menggelitik. Lalu ada sinkop di bagian interlude untuk menghindari aransemen lagu ini dari kesan datar. "Siasat" ini cukup menjadikan "Berangkat Pulang" salah satu daya tarik album album Dara Puspita Min Plus. Liriknya sederhana dan jernih.

9) "Apa Arti Hidup Ini" (Indra Record)

Tidak seperti umumnya lagu Dara Puspita yang cenderung berirama riang, "Apa Arti Hidup Ini" berwarna balada. Liriknya menceritakan kegalauan sebuah hati. Ujung-ujungnya sih bicara cinta. Namun setidaknya dari konsep aransemen terlihat adanya upaya untuk mengimbangi tren. Duet vokal Dora Sahertian-Titiek AR berhasil meletakkan lagu ini sebagai salah satu karya penting dalam perjalanan kreatif Dara Puspita.

8) "A Go Go" (Elshinta Records)

Untuk band yang terbiasa memainkan irama rock & roll klasik, lagu ini terdengar cukup istimewa. Titiek AR berusaha memasukan pengaruh blues di tengah sinkop yang dibuat oleh rhythm section Susy Nander-Titiek Hamzah. Bercerita tentang sebuah jenis tarian yang tengah populer ketika itu. Bagi alam pemikiran yang masih sederhana, liriknya hampir mirip sebuah ajakan untuk memasuki dunia hedonis.

7) "Soal Asmara" (Elshinta Records)

Diciptakan khusus untuk Dara Puspita, lagu ini memperlihatkan bahwa Titiek Puspa semakin mengenal karakteristik para personelnya. Jika menyimak liriknya dengan saksama maka akan terbayang keseharian mereka. Keriangan tema ditangkap melalui ekspresi yang penuh kejenakaan. Cabikan bas Titiek Hamzah banyak berkontribusi dalam memaksa kaki kita untuk mengentak.

6) "Ba Da Da Dum" (CBS Records)

Aransemen vokalnya mungkin yang terbaik dari seluruh lagu yang pernah dibuat Dara Puspita. Kemampuan musik para personelnya semakin terasah. Beberapa tikungan nada muncul dengan wajar, sama sekali tidak dipaksakan. Ini single yang dirilis saat mereka berada di Inggris dan beredar melalui CBS Records.

5) "Bandung Selatan" (Mesra Record)

Tidak terlalu banyak mengeksploitasi bebunyian, namun tetap memperlihatkan adanya keberanian dalam memasukan unsur pop ke dalam karya musikus besar yang sudah dianggap sakral ini. Dalam konteks Dara Puspita, "Bandung Selatan" menjadi terasa istimewa karena selalu dibawakan dalam setiap pertunjukan selama melakukan lawatan ke Eropa. Alasannya: lagu ini sangat efektif untuk memperkenalkan Indonesia di mata internasional.

4) "Musafir Cinta" (Mesra Record)

Titiek AR mulai memunculkan efek delay meski terdengar masih sangat sederhana. Susy dan Titiek Hamzah tidak banyak membuat variasi dan karena itu lebih mudah untuk menangkap kekompakan permainan mereka. Judul lagunya menggambarkan kekhasan zaman itu, yakni memaksimalkan setiap kata untuk merebut empati. Sekarang mungkin kedengarannya berlebihan.

3) "Pesta Pak Lurah" (Mesra Record)

Teriakan para personel Dara Puspita di tengah pukulan drum yang menderu-deru jelas bukan hal yang lumrah. Diambil dari album Dara Puspita Spesial Edition (1966), artinya lagu ini direkam ketika pertumbuhan dunia musik Indonesia masih sangat sederhana dan karenanya lagu ini telah melakukan lompatan pada zamannya. Sebuah ekspresi keliaran yang belum pernah dilakukan oleh band perempuan Indonesia mana pun hingga hari ini.

2) "Pantai Pataja" (Mesra Record)

Riff yang diulang-ulang secara tanpa sadar menjadi racun sehingga lagu bertempo medium ini sangat mudah untuk diingat. Gitar dan bas menghadirkan rally dari intro hingga koda. Riang. Menggoda. Tapi juga kurang memberi ruang pada bebunyian perkusi untuk berimprovisasi. Inilah "oleh-oleh" sepulang mereka keliling Bangkok untuk melakukan serangkaian pertunjukan. Temanya sangat ringan, sekadar menggambarkan keindahan pantai yang "letaknya di ujung kota", yang debur ombaknya dilukiskan sebagai "mutiara putih". Setelah "Surabaja", inilah karya klasik Dara Puspita yang paling sering diingat orang.

1) "Surabaja" (Mesra Record)

Progresi nada lagu ini nyaris datar tanpa hook yang lumrah menjadi daya tarik sebuah komposisi. Aransemen sepertinya terlepas dari konteks semangat perjuangan. Heroisme baru terlacak pada saat menyimak penggalan liriknya yang menuntun kita ke situasi berdarah-darah di masa revolusi fisik. Lagu "Surabaja" dirilis pada 1965, saat Indonesia baru terkoyak oleh persitiwa G30S/PKI. Temanya menjadi pemicu yang melambungkan nama Dara Puspita sebagai band wanita Indonesia paling diperhiitungkan hingga saat ini. Pada 1972 "Surabaya" direkam ulang dalam versi bahasa Inggris.



Related

Most Viewed

  1. Movie Review: Pengabdi Setan (2017)
  2. Indonesia Raih Tiga Nominasi Asia Pacific Screen Awards 2017
  3. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik
  4. Gelar Pentas Musik 'Langgam Kahyangan', Suara Disko Tampilkan Fariz RM
  5. Momen-momen Berkesan dari Synchronize Fest 2017

Editor's Pick

Add a Comment