Dara Puspita, Raksasa Musik Indonesia yang Terlupakan

Kisah empat perempuan Surabaya yang menaklukkan Jakarta.

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 126 Oktober 2015.

Toyota Fortuner warna putih itu berhenti tepat di depan rumah musik Galeri Malang Bernyanyi (GMB) di Jalan Puncak Borobudur, Perum Griya Santa Blok G 407, Malang. Tiga perempuan setengah baya keluar disambut kilatan lampu kamera. Mereka adalah Titiek AR dan adiknya, Lies AR, serta Susy Nander, mantan personel Dara Puspita. Mereka hadir untuk memenuhi undangan Hengki Hermanto, pemilik GMB.

Pada kesempatan ini Lies AR menghibahkan dua potong kostum panggung miliknya untuk melengkapi koleksi di rumah musik tersebut. Busana yang pernah menjadi saksi sepak terjang dirinya pada lima puluh tahun lalu itu sengaja dibawa dari Belanda, tempat Lies AR kini bermukim sebagai warga negara sana. Sebuah kostum berwarna kombinasi merah dan putih yang mirip dengan yang pernah dikenakan Jimi Hendrix saat menjadi bintang Woodstock 1969.

"Ya kami menghibahkan baju yang sudah (berusia) 50 tahun. Baju ini selalu saya simpan karena biar sudah jelek tapi buat saya suatu kenang-kenangan. Baju itu kami bikin sewaktu di Bangkok tahun 1965. Sedang yang satu lagi bikin sendiri waktu di Eropa tahun 1970," cerita Lies AR kepada Rolling Stone.

Mereka nampak ramah dan bersahaja, sabar melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama. Sedikit pun tidak menampakkan bahwa pada lima dekade silam ketiga sosok inilah, bersama vokalis dan bassist Titiek Hamzah, yang telah menggegerkan dunia panggung dan rekaman. Hampir tak mungkin membicarakan musik Indonesia tanpa melibatkan nama Dara Puspita, band perempuan total generasi pertama di Indonesia. Penjualan albumnya selalu laris. Aksi panggungnya tak pernah sepi dari histeria.

Usia band ini tergolong singkat, hanya sekitar tujuh tahun. Namun dalam kurun waktu sependek itu mereka telah berhasil memetakan dirinya sebagai salah satu bagian terpenting musik Indonesia. Membuka mata dunia, setidaknya Eropa, bahwa negeri ini pernah memiliki band yang sangat berbakat baik di panggung maupun rekaman. Menginspirasi bemunculannya tren band sejenis seperti The Singers, Princess Tone, The Beach Girls, Antique Clique, dan banyak lagi.

Seperti ingin meneriakkan isu emansipasi, Dara Puspita berjingkrak dalam raungan irama rock & roll. Titiek Hamzah memperlihatkan kepada kita bahwa seorang pencabik bas tak harus selalu berada di garis belakang sebagai penjaga rhythm section. Ia tampil menyanyi di bibir panggung, menaklukkan penonton. Susy Nander memiliki pukulan sangat keras dan cepat. Peran yang kurang lebih sama dilakukan Lies dan Titiek AR yang juga bertindak sebagai komandan.

"Dara Puspita adalah band rock & roll terbaik yang pernah dilahirkan Indonesia," tulis Steven Farram, dosen sejarah dari Charles Darwin University yang menaruh perhatian khusus pada sepak terjang band tersebut.

Pengakuan atas keberadaan Dara Puspita terus bergulir hingga kini. Pada 5 sampai 8 September 2015 lalu digelar pameran poster Dara Puspita bertempat di Groovers Paradise Record Shop, Austin, Texas. Berbagai foto keempat perempuan itu ditampilkan setelah diberi sentuhan aura psychedelic. Kegiatan apresiasi keliling dunia yang berlangsung sejak tahun lalu ini digagas oleh Sticky Fingers Art Prints Cambodia yang dimotori perancang grafis Julien Poulson. Pemusik muda ini adalah sosok di balik Cambodian Space Project, band rock psychedelic yang bermarkas di Phnom Penh.

Di Indonesia sendiri tidak begitu banyak informasi tentang mereka. Musikus generasi sekarang niscaya akan tergagap untuk menjelaskan siapa Dara Puspita, band yang kepopulerannya berhasil menembus batas tanah air.

Cikal bakal band ini terbentuk pada 1960 dengan nama Nirma Puspita. Kala itu Nirma Puspita hanyalah sebuah band yang biasa mengiringi penyanyi lain. Setelah banyak personelnya mengundurkan diri, yang tersisa adalah gitaris Titiek AR, gitaris dan vokalis Ani Kusuma (nama panggung Prasetiani), bassist Lies AR, dan penabuh drum Susy Nander. Namanya pun berubah menjadi Irama Puspita. Penyanyi keroncong senior Mus Mulyadi tercatat pernah menjadi salah satu pelatihnya. Namun keempat perempuan tanggung tersebut masih menyimpan mimpi untuk menjadi terkenal seperti halnya Koes Bersaudara, Arulan, Zainal Combo, atau Los Suita Rama.

Selanjutnya adalah takdir.

Ketika Koes Bersaudara dijadwalkan menggelar pertunjukan di Taman Hiburan Rakyat Surabaya pada April 1964, Titiek AR segera menggunakan modus lama: mendekati panitia penyelenggara untuk mendapat kesempatan tampil. Namun saat mendatangi Hotel Simpang tempat rombongan menginap, mereka justru mendapati empat lelaki tengah duduk-duduk di teras kamar hotel. Itulah Tonny Koeswoyo bersama adik-adiknya: Nomo, Yon, dan Yok.

Dibakar oleh pernyataan Tonny Koeswoyo bahwa band pengiring tak akan pernah bisa terkenal, keempat perempuan tersebut berbulat tekad untuk meninggalkan Surabaya. Berbekal tas kecil dan sedikit uang hasil dari menjual perhiasan, Titiek AR, Prasetiani, Lies AR, dan Susy Nander menggunakan kereta api Gaya Baru menuju Jakarta. Tiba di stasiun Gambir, keempatnya menumpang kendaraan seseorang hingga Bundaran HI untuk kemudian disambung oplet hingga kawasan Bulungan. Dari sana dengan berjalan kaki mereka segera mencari Jalan Mendawai III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Inilah markas tempat Koes Bersaudara biasa berlatih. Kedatangan yang tiba-tiba ini jelas mengagetkan Tonny Koeswoyo beserta adik-adiknya.

"Bapak saya tidak tahu bahwa kami ke Jakarta. Kalau tahu pasti tidak boleh," cerita Lies AR mengenang. Konon ibunyalah yang membantu "pelarian" ini dengan melepas gelang miliknya untuk bekal di perjalanan.

Nama besar Koes Bersaudara memang menjadi pintu masuk Irama Puspita menuju dunia yang lebih luas. Bukan saja sebatas penggunaan sarana berlatih tetapi juga pada pembinaan mental bagaimana menjadi anak panggung yang tangguh. Personel Koes Bersaudara punya panggilan unik untuk anak-anak Irama Puspita: monyet-monyet betina.

Fasilitas gratis yang diberikan grup musik kenamaan itu tidak disia-siakan oleh Titiek AR dan kawan-kawan untuk berlatih keras. Apalagi Tonny Koeswoyo sangat toleran dengan tidak mendikte karakter permainan. Bak dalam cerita novel, ada bunga di antara keseharian mereka, yakni tumbuhnya benih cinta di antara Yon Koeswoyo dan Susy Nander. Sebagai musikus muda dan terkenal, Yon termasuk personel yang paling sering diincar cewek. Ketika suatu hari Yon melirik perempuan lain, Tonny segera mengingatkan adiknya untuk tidak menyakiti Susy. Kabarnya peristiwa inilah yang mengilhami lagu "Andaikan Kau Datang", terdapat pada album Koes Plus Volume 2. Belakangan lagu ini kembali dipopulerkan oleh Ruth Sahanaya.

Pada malam pergantian tahun 1965, Koes Bersaudara memberi kesempatan kepada Irama Puspita sebagai band pembuka mereka. Jeritan segera membahana ketika Prasetiani dengan lantang menyanyikan "No Reply" milik The Beatles. Itulah kali pertama Irama Puspita tampil di ibu kota. Lokasi pertunjukan saat itu adalah Kemayoran International Airport Restaurant, tempat hiburan paling bergengsi.

Sayang awal keberhasilan tersebut hanya seumur jagung. Setelah mampu membiayai hidup sendiri, Lies AR harus pulang ke Surabaya untuk menempuh ujian SMEA. Titiek AR mencari-cari pengganti adiknya dan bertemu dengan Hamziati Hamzah (kita mengenalnya dengan nama Titiek Hamzah), seorang multiinstrumentalis yang juga berbakat sebagai penulis lagu. Susy Nander mengenang personel baru ini sebagai sosok humoris, pintar menirukan suara orang lain, tetapi juga keras kepala.

Nama Irama Puspita tambah mencorong. Undangan tampil membanjir. Akan tetapi masalah baru juga muncul. Pertikaian antara Prasetiani dengan Titiek AR dan Titiek Hamzah berakhir dengan hengkangnya sang vokalis. Sempat terjun ke dunia perfilman, Prasetiani (belakangan lebih dikenal dengan nama Ani Kusuma), kemudian menekuni dunia musik lagi dan mendirikan The Beach Girls. Pengunduran dirinya memunculkan kembali peran Lies AR. Nama Dara Puspita muncul karena kesalahan panitia penyelenggara saat mereka tampil di Istora Senayan pada akhir Februari 1965.

"Tapi kami waktu itu ndak protes karena nama Dara Puspita lebih enak kedengarannya," ungkap Susy Nander yang pernah mendapat gemblengan dari Jefrry Zaenal, penabuh drum Ariesta Birawa.

Dengan formasi terakhir ini Dara Puspita berkembang menjadi band menjanjikan. Kemauan keras, disiplin spartan, serta totalitas panggung menjadikan nama mereka jaminan suksesnya pertunjukan musik saat itu. Perlahan-lahan pamornya mulai menyusul Koes Bersaudara termasuk dalam soal bayaran. Mereka pun kerap tampil sepanggung.

Pada suatu hari Dara Puspita mengajak Koes Plus menghadiri pesta ulang tahun Salanti Bersaudara di bilangan Palmerah. Muncullah petaka itu. Beberapa saat setelah Dara Puspita membawakan "I Can"t Get No (Satisfaction)" milik The Rolling Stones, tiba-tiba sekelompok warga dibantu aparat kepolisian mendobrak pintu pagar. Tonny Koeswoyo dan adik-adiknya yang tengah kebagian tampil ditangkap, sementara Dara Puspita tidak. "Kami hanya diwajibkan lapor seminggu sekali," kata Titiek AR.

Tanpa proses pengadilan, Jaksa Aruan SH menjebloskan seluruh personel Koes Bersaudara ke penjara Glodok (kini pusat pertokoan Harco) selama tiga bulan. Kabarnya mereka memang sudah lama diincar oleh Lekra, lembaga kebudayaan PKI. Merasa telah membuat susah, suatu hari Titiek AR berhasil menyelinap ke dalam penjara untuk menemui para mentornya.

Di tengah pergolakan suhu politik yang semakin memanas, sebuah tawaran datang untuk tampil di Bangkok selama tiga bulan. Sebuah sumber mengatakan bahwa peluang tersebut semula disiapkan untuk Koes Bersaudara, namun karena keburu dibui pilihan jatuh kepada Dara Puspita. Kebenarannya tentu saja masih dibuktikan. Yang pasti kesempatan ini terlalu sayang untuk diilewatkan.

Setelah pecah peristiwa G30S/PKI, Dara Puspita bertolak meninggalkan tanah air di pagi buta pada 1 Oktober 1965. Kabar kepergian mereka cukup menggemparkan. Bagaimana mungkin band yang usianya belum genap setahun, rekaman pun belum pernah, mampu mendapat kesempatan unjuk gigi di luar kandang?

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 126 Oktober 2015.

Editor's Pick

Add a Comment