17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik

Merayakan ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-70.

Oleh
Logo resmi ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-70.

Kata siapa sebutan "pahlawan" hanya layak diberikan kepada mereka yang mengangkat senjata? Mereka-mereka yang memikul alat musik juga punya kemungkinan untuk masuk ke golongan tersebut. Pasalnya, selama tujuh dekade belakangan, kerap bermunculan musisi-musisi yang mempersembahkan cipta untuk tanah air mereka. Memperjuangkan kemerdekaan dalam berbagai aspek; kemerdekaan berpikir, kemerdekaan berkarya, sampai kemerdekaan berpendapat.

Sehingga menjadi hal yang natural bahwa tidak semua lagu bertema kebangsaan diisi oleh puja-puji. Ada juga yang mengandung kritik sebagai respons ketidakpuasan. Toh sesungguhnya, nusantara tidak melulu gemah ripah serba melimpah. Selalu ada sektor yang mengundang rasa kecewa, dari era Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, hingga pasca-reformasi.

Sampai saat ini pun, ketika Republik Indonesia telah mencapai usia 70 tahun, problema-problema negara masih terus timbul. Saluran penghasil musisi-musisi yang peka terhadap kondisi negeri juga tidak pernah tersumbat; dari Gombloh sampai Ahmad Dhani, dari Koes Plus hingga Efek Rumah Kaca.

Dalam rangka 17 Agustus-an tahun ini, Rolling Stone memilih tujuh belas lagu Indonesia terbaik yang bertema kebangsaan, baik yang memuja maupun mengkritik. Ada yang bisa menumbuhkan rasa kagum terhadap kampung halaman, serta terdapat pula yang mampu menggerakkan masa untuk mengepalkan tangan.

Berikut ini daftar 17 lagu Indonesia bertema kebangsaan terbaik:

17) Cokelat - "Bendera" (2002)

Salah satu lagu populer dari dekade 2000-an yang sering didengar pada acara-acara bertema nasionalisme—bersama "Garuda di Dadaku" dari Netral yang nyaris masuk ke daftar ini. Memang pantas bila menyimak aransemennya yang tegap sekaligus renyah. Dengan bendera merah putih sebagai metafora, lagu ini bercerita soal kecintaan terhadap Indonesia dan sikap rela berkorban demi terus berkibarnya Sang Saka "di ujung tiang tertinggi."

16) Gong 2000 – “Bara Timur” (1991)

Dengan intro yang memuat suara gamelan dan juga kemunculan nada-nada pentatonik di sekujur lagu, "Bara Timur" menawarkan perpaduan antara musik rock dari Barat dengan elemen tradisional Indonesia. Tetapi dari segi lirik, Achmad Albar total bernyanyi bahwa di sini (Indonesia) lah tempat paling baik yang ada di muka bumi dan bukan negara-negara Barat di sana. Ia mengingatkan, "Namun tengoklah ke sini/Tak seharusnya ke sana/Di sini, semua ilmu menjadi budi/Di sana, semua ilmu menjadi api."

15) Prambors Remaja Band – “Persada di Ambang Senja” (1989)

Sesuai dengan namanya, Prambors Remaja Band diisi oleh anak-anak muda—antara lain Oding Nasution, Debby Nasution, Evie Soedradjat, serta M. Noor Aroembinang. Dan sebagai anak muda, merupakan hal wajar bila mereka merasa tak puas dengan apa yang telah dan sedang dilakukan oleh orang-orang lebih tua. Inilah yang dituangkan dalam lagu "Persada di Ambang Senja", seperti dapat disimak lewat lirik: "Oh, persada/Langkahmu telah renta/Oh, persada/Isimu pun langka/Tak seanggun dulu/Kini serba layu." Namun kritik tanpa solusi tentu bak ponsel yang alpa baterai alias tiada guna, sehingga ajakan untuk "enyahkan durjana yang merusak persada tercinta" menjadi kunci dari lagu ini.

14) God Bless – “Selamat Pagi, Indonesia” (1980)

"Sayap burung berkepak menembus embun pagi/Terbang menerjang keheningan gerbang dini/Terperanjat mendengar derap langkahnya yang begitu tenang/Melangkah menuju keabadian," dengan lirik pembuka seindah ini, ditorehkan oleh jurnalis musik senior Theodore K.S., siapa sangka bahwa lagu "Selamat Pagi, Indonesia" terinspirasi oleh detik-detik sebelum perampok legendaris Kusni Kasdut menjalani hukuman matinya. Namun di antara perhatian ekstra terhadap figur tersebut dan juga aransemen yang cenderung progresif, lagu ini menyimpan kisah tentang cinta tanpa syarat seorang kriminal terhadap negara yang telah menentukan ajalnya. "Surya merekah pagi/Membuka tabir hari/Tapi dia takkan kuasa melihat lagi/Seandainya kuasa membuka mulut mungkin akan berkata/Selamat pagi, Indonesia cintaku," nyanyi Achmad Albar.

13) Ahmad Band – “Distorsi” (1998)

Menjatuhkan—bukan tidak berdasarkan fakta—kalangan tua dan generasi muda sekaligus, namun tidak terdengar sekadar menceramahi? Mungkin hanya Ahmad Dhani yang bisa melakukannya. Dhani era dulu tentu saja, bukan sekarang yang lebih tergiur menjadi juri karena bayaran yang sangat mungkin melebihi gaji manggungnya. "Yang muda mabuk, yang tua korup," lantun Dhani lewat "Distorsi", diiringi oleh gitaris Andra Ramadhan dan Pay Burman, bassist Bongky Marcel, serta drummer Bimo Sulaksono—musisi-musisi besar yang rela menjadi anak buah Dhani pada proyek musik ini. Dagunya terangkat, menganggap diri paling benar, dan kemudian melanjutkan nyanyian seraya membetulkan kerah: "Jayalah negeri ini, jayalah negeri ini."

12) Louise Hutauruk – “Kharisma Indonesia” (1979)

Aransemen lagu ini begitu padat dan megah, seolah berupaya menggambarkan kekayaan ragam tanah air dalam format audio. Liriknya pun penuh imajinasi, mengingatkan kita akan betapa indahnya bahasa Indonesia jika digunakan dengan baik dan benar: "Padang hijau permadani negeriku/Unggas terbang bebas nian berlagu/Membuat kharisma dunia bagai simfoni alami." Beberapa kata yang muncul bahkan sudah begitu langka, jika bukan tidak pernah, dipakai oleh orang-orang kini, seperti "marcapada" yang bisa diartikan "bumi" dan "indraloka" selaku sinonim untuk "surga".

11) Dara Puspita – “Tanah Airku” (1966)

Lagu penutup untuk album perdana kuartet rock garasi kebanggaan Surabaya, Dara Puspita, rilisan empat puluh sembilan tahun silam yang tidak pernah terdengar ketinggalan zaman. Dengan kesederhanaan yang membuat lagu mudah melekat di kepala, hasil rekaman mentah, dan ketulusan dalam menyanyikan lirik ("Di sana letaknya/Tanah airku/Yang selalu ku puja/Dalam hatiku"), "Tanah Airku" terdengar seperti materi yang pantas diajarkan sebagai lagu kebangsaan di sekolah-sekolah.

10) Efek Rumah Kaca – “Menjadi Indonesia” (2008)

Dalam lagu ini, vokalis sekaligus gitaris sekaligus penulis lirik Cholil Mahmud mengutarakan keprihatinannya terhadap kondisi tanah air yang kian terpuruk namun di saat yang bersamaan terungkap rasa peduli begitu dalam. Siapa yang tak merinding ketika mendengar bagian maut: "Lekas, bangun dari tidur berkepanjangan/Menyatakan mimpimu/Cuci muka biar terlihat segar/Merapikan wajahmu/Masih ada cara menjadi besar." Bukti nyata bahwa kritik merupakan tanda cinta.

9) Homicide – “Tantang Tirani” (2008)

Mencantumkan karya anarko-hiphop Homicide dalam sebuah daftar lagu bertema kebangsaan? Herry Sutresna alias Morgue Vanguard bisa jadi menganggapnya sebagai parodi. Namun "Tantang Tirani" adalah murka yang mampu menggerakkan massa dalam bertempur dengan segala bentuk ketidakadilan. "Kawan, mana kepalan kalian?," seru Sutresna, sebelum membandingkan perjuangan para aktivis dan perlawanan kaum tertindas dengan "biksu Burma di hadapan moncong senapan", "rudal Hizbullah di daerah pendudukan", "kesabaran terakhir para buruh di palang pintu pabrik", hingga "rahim setiap ibu yang melahirkan para kombatan". Lantas coba simak pembangkit nyali tenaga rima ini: "Kami akan bangun kembali godam dari reruntuhan dan berangkal harapan/Keyakinan yang menyaingi semua manual langitan/Esok akan terlalu terlambat, hari ini atau tidak sama sekali/Meski kalian coba bunuh kami berkali, kami akan lahir berkali bergenerasi." Berdaya tanpa batas.

8) Iwan Fals – “Wakil Rakyat” (1987)

Sebagai pencipta lagu yang konsisten membela kaum bawah dalam karyanya, Iwan Fals harus bisa untuk terus menggali isi kepala dan rajin mengobservasi kondisi sekitar demi menghasilkan lirik yang tidak mengulang formula sama serta sudut pandang yang senantiasa unik. Tetapi untuk "Wakil Rakyat", Fals tanpa basa-basi langsung menampar mereka-mereka yang "duduk sambil diskusi" dan "biasa bersafari" di gedung DPR. Ia bernyanyi serius tapi santai, dengan bumbu main-main secara ironis: "Wakil rakyat seharusnya merakyat/Jangan tidur waktu sidang soal rakyat/Wakil rakyat bukan paduan suara/Hanya tahun nyanyian lagu 'setuju'."

7) Keenan Nasution – “Zamrud Khatulistiwa” (1978)

Siapa sangka bahwa irama disko yang mendemam pada akhir '70-an cocok dileburkan dengan lirik yang merupakan penumpahan rasa kagum terhadap Indonesia? Merupakan pengalaman menarik ketika menyimak aransemen lagu ini yang mengundang dansa-dansi namun kemudian disertai dengan lirik (ditulis oleh Guruh Soekarno Putera): "Selalu berseri/Alam indah permai di Indonesia/Negeri tali jiwa, hawa sejuk nyaman/Wajah pagi rupawan/Burung berkicau ria/Bermandi embun surga."

6) Kantata Takwa – “Kesaksian” (1991)

Lagu ini mengembang secara perlahan, baik dari segi aransemen maupun lirik. Secara aransemen, lagu ini dimulai dengan dominasi denting piano dan kemudian diikuti alat musik lain secara perlahan sampai terbentuk formasi band penuh. Sementara liriknya, merekah lebih impresif karena menunjukkan proses, seperti dapat disimak dari lirik refrain yang beberapa kali ganti: "Banyak orang dirampas haknya/Aku bernyanyi menjadi saksi", kemudian "Kenyataan harus dikabarkan/Aku bernyanyi menjadi saksi", lalu "Lagu ini jeritan jiwa/Hidup bersama harus dijaga" yang dinyanyikan dengan koor guna melambangkan keeratan persaudaraan. "Kesaksian" pun menjadi penting karena pesannya untuk berani melawan yang zalim meski pelakunya tengah berkuasa, dan dirilis di rezim yang sukses membuat takut banyak seniman untuk beroposisi.

5) Harry Roesli – “Jangan Menangis Indonesia” (1978)

Lagu ini ditulis oleh Harry Roesli sekeluarnya ia dari penjara akibat turut berdemonstrasi dengan para mahasiswa Kota Kembang pada 1974—beririsan dengan Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) di Jakarta. Pengalaman tangan pertama Biang Bengal Bandung ini dalam memperjuangkan yang terbaik untuk Indonesia menambahkan nilai terhadap karya-karyanya yang padahal sudah berkualitas tinggi. Selain menampilkan keterampilan dalam menulis lirik, sesuatu yang memang seringkali dianggap sebagai kelebihannya selain merancang aransemen, "Jangan Menangis Indonesia" juga memamerkan kemampuan Roesli dalam bernyanyi. Suaranya yang akrobatik dan gagah mampu membuat siapa pun pendengar lagu ini—nasionalis atau apatis—bergetar.

4) Kelompok Kampungan – “Berkata Indonesia dari Yogyakarta" (1980)

Bagai Sumpah Pemuda dalam format budaya pop, lagu ini memuat syair Bram Makahekum tentang generasi penerus dari beragam suku Indonesia dengan iringan musik tipe konstan seolah derap langkah yang gagah berani. Meski begitu, seperti semua perjuangan, "Berkata Indonesia dari Yogyakarta" tak berjalan aman-aman saja. Ada eksistensialisme di sana ("Setiap hari aku melihat wajahku di cermin/Siapakah aku?/Wajah kemarinkah yang meninggalkan bekas kemerut di dahiku/Ataukah wajah masa depan untuk negaraku?"), muncul kontemplasi ("Setiap hari pertanyaan-pertanyaanku muncul tak henti-hentinya/Menantang dan membelenggu daya hidupku"), dan terdapat pula kasus inferioritas ("Kecil, aku memang kecil di antara makhluk-makhluk lain"). Lagu ini—seperti karya-karya Kelompok Kampungan lain—begitu unik dan tidak terimitasi. Aransemennya menyimpan sayatan biola Agus Murtono yang mengingatkan terhadap permainan John Cale di The Velvet Underground. Simak pula kemunculan nada-nada lagu "Bagimu Negeri" yang dimainkan lewat flute. Camkan ini: "Berkata Indonesia dari Yogyakarta" dari Kelompok Kampungan akan terdengar semakin hebat seiring berjalannya waktu.

3) Koes Plus – “Nusantara I” (1971)

Jilid pertama, juga terbaik, dari seri lagu "Nusantara" milik Koes Plus yang berakhir sampai nomor delapan. Tak perlu neko-neko bagi Koes Plus untuk mengungkapkan puja-puji mereka terhadap tanah air. "Tanahnya subur seperti tubuhku/Unggasnya bebas seperti hidupku," lantun Yon Koeswoyo, mengundang senyum kepada pendengarnya. Jurnalis musik senior Denny MR dengan akurat pernah menulis, "Judul lagu yang berjilid-jilid ini seperti ingin menggeser pemahaman usang bahwa sebutan pahlawan hanya layak diberikan bagi mereka yang mengangkat senjata di zaman revolusi fisik."

2) Guruh Gipsy – “Indonesia Maharddhika” (1977)

Lagu ini apik dari segala sudut. Judul yang gagah, aransemen yang raya dengan elemen rock progresif dan musik tradisional Bali, sampai lirik lagu ciptaan Guruh Soekarno Putera yang terinspirasi gaya penulisan Ronggowarsito dan menyelipkan nama seluruh personel Guruh Gipsy. "Om awignam mastu DING aryan ring sasi karo/ROhini kanta padem NIshite redite pratame/KIlat sapte tusteng nante/NANte wira megawi plambang/Aku dengar deru jiwa/BAgai badai mahaghora/DI nusantara raya/Cerah gilang gemilang/Harapan masa datang/Rukun damai mulia/Indonesia tercinta/Selamat sejahtera/GUnung langit samudera/RUH semesta memuja," begitu hasil buah pikir Guruh untuk lagu ini.

1) Gombloh – “Kebyar-kebyar” (1979)

Terlalu mudah diprediksi? Peduli setan bila lagunya semonumental judul yang satu ini. Pada kenyataannya, memang tidak ada lagu lain yang pantas untuk menduduki singgasana ini kecuali "Kebyar-kebyar". Tanpa perlu aransemen yang mutakhir atau kata-kata berbingkai, Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh mampu membuat karya bertema kebangsaan yang kuat. Lebih lanjut lagi, lagu ini pun jadi bisa menjangkau berlapis-lapis masyarakat. Gombloh juga membuktikan bahwa tidak perlu berapi-api untuk menimbulkan kesan bahaduri. Cukup ketulusan yang dibalut dengan kesederhanaan. Bahkan saking tulusnya, lagu dengan tema sebesar ini dapat terdengar begitu personal. "Kebyar-kebyar" adalah kembang api perayaan kemerdekaan dalam gerak lambat, menunjukkan letupan demi letupan secara terperinci namun rendah hati. Lagu Indonesia bertema kebangsaan terbaik sampai saat ini.



Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik
  3. Dunia, Menuju Kebangkitan Metal Progresif
  4. Joey Pasti Menang di Grammy?
  5. Movie Review: Pengabdi Setan (2017)

Editor's Pick

Add a Comment