10 Film Dokumenter Musik Indonesia Terbaik

Seiring dengan pertumbuhan kesadaran orang-orang terhadap pentingnya dokumentasi, bermunculan pulalah film dokumenter dalam negeri yang memiliki tema musik. Berikut adalah sepuluh yang terbaik sampai saat ini.

Oleh
Iwan Fals dalam film Kantata Takwa.

Film dokumenter adalah sinema non-fiksi yang bertujuan untuk mendokumentasikan beberapa aspek realitas, terutama mempertahankan catatan sejarah.

Dari pengertian di atas, apa yang harus digarisbawahi terdapat pada tiga kata terakhir. Namun sayangnya untuk di Indonesia, seperti yang sudah seringkali menjadi topik pembicaraan berbagai kalangan, kesadaran terhadap pentingnya dokumentasi berkembang secara terlambat di sini.

Dalam kasus musik, belum ada film dokumenter yang berbicara soal legenda Tanah Air macam Koes Plus, Dara Puspita, atau Godbless misalnya. Dokumentasi yang minim ditunjuk sebagai biang kerok. Sementara di Amerika Serikat, band yang jauh lebih muda malah sudah memiliki beberapa film dokumenter.

Mari ambil contoh Nirvana. Trio rock alternatif yang didirikan pada 1987 ini sudah beberapa kali menjadi subyek film dokumenter. Bahkan Montage of Heck yang belum lama ini rilis khusus berbicara soal vokalis sekaligus gitarisnya, mendiang Kurt Cobain, lewat dokumentasi-dokumentasi yang dikumpulkan dari pihak keluarga.

Sehingga sepertinya membutuhkan waktu lama sampai kemunculan film dokumenter tentang musisi tanah air yang cenderung terpendam namun memiliki kisah hidup layak sebar, seperti Arnold Ap—pendiri grup musik folk Mambesak dan juga simpatisan Organisasi Papua Merdeka—yang diduga tewas di tangan Kopassus. Proyek film dokumenter tersebut memang belum tentu ada sampai akhir zaman, namun apa salahnya berharap? Hitung-hitung sekaligus melempar ide.

Sejak pertengahan dekade 2000-an, film dokumenter bertema musik mulai menjamur di Indonesia. Terlambat iya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah fenomena yang menyenangkan. Seperti kata orang bijak, "Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali." Klise tapi nyata.

Tercatat bahwa mulai dari veteran seperti Burgerkill hingga pendatang baru macam Kelompok Penerbang Roket sudah merilis film dokumenter. Ada yang berdurasi panjang, serta terdapat pula yang pendek. Ada yang tersedia dalam format DVD, namun ada juga yang langsung menyebarkan gratis lewat Internet. Kehadiran film dokumenter musik menambah aneka ragam sinema Indonesia, memberikan suguhan yang bersifat alternatif.

Maka tidak mengejutkan bahwa daftar film dokumenter musik Indonesia terbaik diisi oleh karya-karya yang diproduksi pasca 2005. Walau tak bisa diacuhkan bahwa ada film dokumenter yang mulai dikerjakan sejak 1991 namun baru bisa tayang lebih dari tujuh belas tahun kemudian.

Sudah sewajarnya bagi film dokumenter musik Indonesia untuk terus berkembang seiring berjalan waktu; tidak hanya dalam aspek kuantitas, tetapi juga kualitas. Tanpa berlama-lama lagi, berikut adalah daftar sepuluh film dokumenter musik tanah air terbaik sampai tulisan ini dibuat.

1) Kantata Takwa (Eros Djarot dan Gotot Prakosa, 2008)

Film ini berada di puncak bukan hanya karena kecermatan para penggarapnya dalam meleburkan gaya dokumenter dengan elemen musikal, tetapi juga sikapnya yang berani mengkritik tajam—jika bukan menentang—Orde Baru ketika rezim itu masih berkuasa. Langkah tersebut diambil bukan tanpa akibat: walau berlatar belakang konser tunggal akbar Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta dua puluh empat tahun silam, film ini baru bisa ditayangkan untuk publik pada 2008—satu dekade setelah reformasi. Dengan penggunaan seluloid 35mm, Kantata Takwa menampilkan adegan-adegan sarat simbolisme akan penentangan terhadap pemerintahan represif yang kemudian ditautkan dengan dokumentasi konser. Salah satu adegan paling melekat adalah ketika Iwan Fals—di era keemasannya—menyanyikan lagu "Bento" dengan anak-anak desa yang telanjang bulat dan kemudian dijahit koor massal untuk lagu yang sama ketika konser. Subversif dan puitis sekaligus.

2) Anak Naga Beranak Naga (Ariani Darmawan, 2006)

Anak Naga Beranak Naga.

Ketika seseorang mengerjakan karya—dalam kasus ini, film dokumenter—tentang hal yang ia gemari, maka penonton kemungkinan besar mampu menangkap hasrat tinggi dalam penggarapannya. Inilah yang terjadi dalam Anak Naga Beranak Naga, di mana sutradara Ariani Darmawan menyusuri asal usul musik Gambang Kromong sampai kondisi keberadaannya sekarang. Mewawancarai budayawan, musikolog, pakar sinologi, pimpinan Gambang Kromong, hingga satu-satunya penyanyi lagu Dalem (klasik) Gambang Kromong yang tersisa ketika penggarapan dilakukan, film dokumenter ini mengarahkan lampu sorot ke budaya terpinggirkan dengan cara yang menyentuh dan kadang jenaka.

Saksikan versi penuh film ini di cultureunplugged.com

3) Marching Menuju Maut (Faesal Rizal, 2013)

Tujuh tahun setelah trailer-nya disertakan sebagai bonus dari edisi rilis ulang album perdana The Brandals (2006), Marching Menuju Maut akhirnya bisa disaksikan secara penuh lewat pemutaran perdana dalam ajang BRNDLFEST yang digelar untuk merayakan ulang tahun band ke-12. Hasilnya tidak mengecewakan sama sekali, membayar lunas penantian panjang. Marching Menuju Maut sesuai dengan apa yang diharapkan dari sebuah film dokumenter tentang gerombolan liar The Brandals: blak-blakan tanpa sensor dengan tebaran kata ofensif dan koleksi gambar belakang panggung yang nakal. Dokumentasi yang komplet adalah salah satu kelebihan film dokumenter ini, bahkan terdapat rekaman gambar penampilan panggung era The Motives (nama yang digunakan sebelum The Brandals di mana Edo Wallad menjabat sebagai vokalis). Marching Menuju Maut adalah manual menjalankan karier sebagai rock & roller dan juga contoh film dokumenter band yang baik dan benar.

4) Jalanan (Daniel Ziv, 2014)

Setelah berteman dengan sekumpulan musisi jalanan ibu kota, sutradara Daniel Ziv secara teliti memilih tiga pengamen bus bernama Boni, Titi, dan Ho sebagai trio subyek film dokumenter Jalanan. Mereka bertiga memiliki kepribadian berwarna dan juga pesona yang mampu membuat penonton jatuh hati. Dengan kamera yang terus membuntuti mereka secara bergantian, dapat dilihat kalau Ibukota tak hanya lebih kejam dari ibu tiri; tetapi juga lebih humoris. Perjuangan ketiganya dalam bertahan hidup menjadi inspirasi bagi siapa pun yang menonton. Patut dicatat bahwa setelah Gubernur Basuki Tjahaja Purnama—ketika itu masih menjadi Wakil Gubernur—menonton film dokumenter ini, terdapat beberapa perubahan kebijakan yang dilalui oleh Jakarta antara lain menutup penjara sementara untuk orang-orang yang dirazia oleh Satpol PP, mempercepat pembangunan rumah susun sederhana, mempermudah warga pendatang untuk mendapatkan kartu identitas dan pekerjaan di Jakarta, menjamin akses kesehatan yang lebih mudah dan transparan bagi warga miskin, serta menghilangkan korupsi di tempat-tempat seperti Kantor Urusan Agama.

5) Hiphopdiningrat (Marzuki Mohamad dan Chandra Hutagaol, 2011)

Kisah kesuksesan Jogja Hip Hop Foundation, yang bahkan sudah pentas di New York selaku Mekah-nya musik hip hop, telah menyebar ke berbagai penjuru Nusantara. Tetapi masih sedikit yang tahu tentang asal usul kolektif ini, mulai dari proses akulturasi budaya urban dengan tradisi Jawa yang mereka lalui hingga kehidupan para personel di kota asal. Inilah yang ingin disajikan oleh pentolan Jogja Hip Hop Foundation, Marzuki Mohamad alias Kill the DJ, dengan Chandra Hutagaol sebagai duo sutradara. Hiphopdiningrat menyajikan keseharian para personel Jogja Hip Hop Foundation secara jujur, antara lain kegemaran mereka dalam berbelanja di awul-awul yang merupakan sebutan lokal untuk tempat jual baju bekas. Namun tak ketinggalan, ada juga bagian yang dikhususkan untuk komunitas hip hop di Yogyakarta secara keseluruhan.

6) Bising (Adythia Utama, 2014)

Merupakan langkah berani untuk menggarap film dokumenter tentang kancah musik yang selama ini jauh dari jangkauan publik. Adythia Utama pun merangkul risiko ketika berkeputusan menyutradarai Bising yang, sesuai dengan judulnya, fokus terhadap kancah musik noise tanah air. Film dokumenter ini melindas berbagai topik pembicaraan yang selama ini menjadi pertanyaan berbagai kalangan, mungkin termasuk mereka-mereka yang rajin mendatangi pentas musik noise namun merasa gengsi untuk bertanya. Secara lugas, Bising mengangkat pertanyaan seperti "apa itu noise?" hingga "apakah noise dapat digolongkan sebagai musik?"—kedua pertanyaan itu ternyata membuat banyak narasumber kebingungan dalam menjawab. Ada pun para penggiat kancah yang diwawancarai antara lain adalah Kalimayat, Aneka Digital Safari, Shoah, Argot, Sodadosa, dan Asangata yang merupakan proyek musik dari Wednes Mandra sebelum ia membentuk Rabu. Ada juga kehadiran Arian13, Wok the Rock, Paul Agusta, Uri Putra, sampai Kazuhisa Uchihashi sebagai narasumber tambahan.

7) Generasi Menolak Tua (Bramantyo Hernomo, 2010)

Generasi Menolak Tua adalah tipe film dokumenter yang bertumpu penuh kepada subyeknya. Tidak ada teknik istimewa yang dipamerkan di sini, hanya aksi para personel Seringai dalam menjalankan tugas mereka sebagai salah satu unit rock paling beringas dan terkocak, ini memakan sebagian besar porsi film dokumenter, di Indonesia. Ternyata para individu merdeka yang menciptakan karya besar "Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)" adalah orang-orang yang gemar bercanda bahkan sampai dalam taraf usil; siapa yang bisa melupakan reaksi gitaris Ricky Siahaan ketika mendapati PlayStation Portable-nya terbungkus plastik ketat. Ada juga selipan game show brengsek seperti Adu Oktaf yang melibatkan bintang tamu Candil eks-Seurieus, Jawaban Spontan di mana narasumber Wendi Putranto merespons kilat kata-kata yang antara lain adalah "kerang brewok", dan Selamatkan Gambar Ini yang mewajibkan pesertanya untuk memodifikasi gambar ofensif menjadi biasa saja. Fakta bahwa Seringai diisi oleh orang-orang yang ogah menganggap diri mereka terlalu serius justru membuat band ini semakin mudah disukai.

8) Kemarin, Hari Ini, dan Selamanya Rock Together (Kamerad Edmond, 2011)

Film dokumenter ini menceritakan perjalanan sejarah Superglad; mulai dari era Waiting Room, penggarapan album perdana yang mengharuskan vokalis sekaligus gitaris Luks untuk menjual Mercedes Benz lamanya ke bassist NAIF demi melunaskan biaya, dikontrak label rekaman besar yang ternyata menjinakkan materi mereka, hingga konser tunggal yang terlaksana pada 2011 di Bulungan, Jakarta. Kemarin, Hari Ini, dan Selamanya Rock Together juga memunculkan sisi humanis Superglad yang sama sekali tak tampak jika mereka sedang berkumpul di muka publik. Simak momen menangisnya Luks saat berkunjung ke makam istri dan juga kepanikan, akibat lupa isi qomat, yang dialami bassist Giox dalam menyambut kelahiran anaknya. Superglad bersama sutradara Kamerad Edmond juga memberikan porsi khusus untuk orang-orang yang terus mendukung keberlanjutan band, seperti para kru dan penggemar yang disebut Superglad Hero. Tidak lupa trivia-trivia penting tidak penting seperti sifat eksibisionis Luks dan kebiasaan Giox dalam mengonsumsi alkohol lokal.

9) All Ages Party (Aditya Rachman Arimbo dan Rizky Fernando, 2009)

Dengan gaya American Hardcore, film dokumenter ini menyiarkan hasrat kuat anak-anak Jakarta Timur dalam membangun kancah musik hardcore/punk di kawasan mereka sejak dekade "90-an. Secara efektif, para penggarap film mampu bercerita soal hardcore/punk Jakarta Timur dalam durasi tiga puluh lima menit saja. Sekumpulan cerita tangan pertama dari perwakilan band-band senior seperti Triple X, Overcast, Lost Sight, dan Take Down menjadi kunci bagi All Ages Party dalam mencapai kesuksesan. Beberapa sub-kultur setempat juga turut dibicarakan di sini, antara lain Cipinang Skinheads yang disebut-sebut sebagai salah satu kancah skinhead tertua di Jakarta, Doggiebites, dan juga Young Offender yang kemudian melahirkan ahli Britpop bernama Pestolaer.

10. Berdansa Bersama Shaggydog (Tedjo Baskoro, 2013)

Meski secara garis besar berbicara soal sejarah eksistensi Shaggydog, dari pengalaman membayar demi bisa pentas, album pertama yang laku keras namun penghasilannya entah di mana, sampai pengalaman tampil di Belanda, film dokumenter ini juga menampilkan kegiatan sehari-hari para personel band yang jauh dari klise rockstar. Sebagai contoh, ada Bandizt yang senang mengurus toko kelontong dan Lilik yang aktif di perkumpulan penduduk kampungnya. Intimasi dan kehangatan semacam itu membuat Berdansa Bersama Shaggydog mampu menjadi sarana bagi Doggies—sebutan untuk penggemar Shaggydog—dalam mengakrabkan diri dengan idola.



Related

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  4. 10 Destinasi Wisata Musik Legendaris di Inggris
  5. Perpaduan Gairah Musik dan Skateboard di Volcom: Road to Cakrawala

Editor's Pick

Add a Comment