Musik dan Budaya Perlawanan

“Without music, life would be a mistake”, --Friedrich Nietzsche

Oleh
Marjinal. Sumber: Facebook/Marjinal Band

Ungkapan filsuf Nietzsche di atas sengaja saya kutip sebagai penanda betapa pentingnya peran musik atas silang sengkarutnya dunia politik di negeri ini. Setidaknya dengan musik, akan memunculkan kesadaran bahwa ada hal besar yang masih harus diperjuangkan di negeri ini.

Gegap gempita dunia politik kurun waktu pasca dilantiknya Presiden Jokowi begitu runyam. Yang paling mutakhir adalah perseteruan antara Polri versus KPK yang begitu mendominasi pemberitaan media. Setiap hari kita disuguhi perilaku politik dalam melakukan kriminalisasi terhadap KPK.

Peristiwa politik inipun direspons dengan sangat cepat oleh berbagai khalayak, tidak ketinggalan para seniman dan musisi. Tagar atau hashtag #SaveKPK menjadi trending topic di media sosial. Disinilah budaya perlawanan para musisi dan seniman berperan penting. Tidak sedikit terselenggara konser musik untuk mendukung KPK ataupun tercipta lagu-lagu yang mendukung KPK.

Setidaknya ada dua hal yang ingin dicapai para musisi. Pertama, ingin menjadi bagian dari upaya menegakkan praktik demokrasi di Tanah Air, khususnya bidang kebebasan berekspresi sebagai hak konstitusional warga negara. Kedua, ingin menggugah kesadaran publik utamanya para pembuat kebijakan dan para penguasa.

Menggugah Kesadaran

Di tengah kuasa kapitalisme konsumsi, dunia industri musik sebenarnya kian jauh dari diskursus ideologi dan kritik kebudayaan. Industri musik bahkan kian hanyut dalam mainstream industri hiburan. Karena itu, karya musik yang lekat dengan muatan ideologi dan kritik sosial seringkali kurang populer dibandingkan karya-karya musik yang memfasilitasi imajinasi kesenangan (pleasure), ekstasi masokisme dan romantika hubungan personal.

Satu sisi, musik menjadi arena penting sebagai arena kontestasi kesadaran publik. Meski berbeda arah, baik negara maupun kekuatan industri kapitalisme sama-sama berkepentingan memanfaatkan hal ini. Sisi lain, musik juga dapat menjadi medium penting dalam mengembangkan kritik sosial dan kebudayaan.

Mengingat pentingnya musik dalam kehidupan publik, Theodor Adorno dan Max Horkheimer (1993:12), dalam Dialectic of Enlightenment, cukup lama melacak kecenderungan metamorfosis budaya dan dunia hiburan seiring dengan perkembangan kapitalisme dan budaya massa. Keduanya sempat menghawatirkan konsekuensi dari hanyutnya musik dalam industri budaya massa yang berbasis hiburan. Mereka menengarai bahwa arus fusi budaya dan hiburan yang berlangsung tidak hanya berdampak pada arus pencerabutan akar nilai-nilai budaya, tetapi berdampak pada menurunnya aspek intelektualisasi ketika masuk dalam dunia hiburan (Adorno dan Horkheimer,1993: 18).

Berbeda dengan keduanya, John Fiske (1989) justru mengidentifikasi adanya dua mainstream budaya baru yang diciptakan oleh budaya populer itu sendiri, yaitu budaya perlawanan di mana di dalamnya menekankan makna alternatif membebaskan dari konstruksi ideologi tertentu dan budaya penghindaran (evasion) yaitu kemampuan untuk menghindar dari kungkungan nilai-nilai dominan yang dikendalikan oleh elit, rezim penguasa ataupun rezim kapitalisme industri itu sendiri.
Di tengah kenyataan masyarakat kapitalisme modern, industri budaya telah mengambil alih warisan peradaban. Dampaknya mayoritas kalangan muda kian terpisahkan dari diskursus kesadaran ideologis mereka dalam struktur sosial karena hanyut dalam hedonisme yang diciptakan oleh kapitalisme konsumsi, termasuk melalui industri musik. Karena itu, melalui budaya perlawanan maupun pengindaran (evasion), industri musik kian strategis digunakan menggugah kesadaran baru bagi anak muda.

Musik dan Budaya Perlawanan

Revolusi melalui jalan apapun, termasuk kebudayaan cenderung menakutkan bagi rezim penguasa. Di Indonesia, sejumlah nama seperti Koes Plus dan juga penyanyi Iwan Fals identik dengan agenda kritik politik dan kebudayaan. Berbeda dengan mereka, Iwan Fals yang tumbuh dan berkembang di tengah kungkungan rezim Orde Baru. Mereka telah menjadi momok bagi Orde Baru.

Di berbagai belahan dunia, sejarah musik juga menunjukkan bagaimana musik tumbuh dan berkembang dalam arena kontestasi politik dan propaganda ideologi. Adakalanya tangan-tangan kuasa negara bahkan ikut bergerilya mempengaruhi kesadaran ideologi para kreatornya, atau bahkan mengintervensi langsung kepada para pelaku budaya. Sebaliknya, cukup banyak juga kalangan musisi yang berusaha menghindari tema-tema kritik politik, sosial dan budaya dan semata-mata masuk dalam mainstream dunia hiburan. Di sini para musisi cenderung menjauhi titik-titik api revolusi karena tidak mau mengambil risiko terhadap kritik dan benturan dengan kekuasaan.

Menggeser watak pragmatisme industri musik kembali ke kritik kebudayaan sesungguhnya sangat sulit. Tidak banyak musisi yang berani masuk ke ranah ini. Entah hanya karena sekadar persoalan pragmatisme semata atau memang persoalan ideologi dan sensitivitas sosial yang mulai surut.

Paling tidak, di negeri ini masih ada musisi-musisi yang punya kepedulian atas kesadaran politiknya sendiri tanpa harus berpikir bahwa musiknya akan laku dan diterima pasar. Mungkin para musisi itu telah berteriak keras untuk merenda sisa-sisa suara yang tak tersalurkan lewat institusi demokrasi yang ada. Mungkin suara itu tak terdengar. Karena mereka hanya sebagai penanda saja, bahwa setelah gegap gempita acara, orang sudah mulai lupa akan perkara politik yang sayup-sayup mengendap di balik tumpukan abu sejarah.

Benar bahwa gairah perlawanan memang tidak secara eksplisit meledak ke permukaan struktur sosial. Akan tetapi, nilai-nilai perubahan dan kritik sosial sesungguhnya telah mampu tersampaikan secara tajam dalam kesadaran penontonnya. Di tengah kritik atas rendahnya daya perubahan sosial masyarakat di Indonesia, model perlawanan yang dilakukan oleh para musisi ini saya yakin secara pelan-pelan mampu mendorong kesadaran kolektif baru atas posisi dan peran masyarakat dalam sistem demokrasi di Indonesia di masa mendatang.

[Penulis adalah promotor musik, tinggal di Yogyakarta]

Editor's Pick

Add a Comment