Bambang Pamungkas

Penyerang di Timnas paling senior di ajang piala AFF 2010 ini seorang family man bagi istri dan 3 anaknya. Dia juga penulis hebat yang mampu membangkitkan gelora nasionalisme lewat goresan artikel yang dia susun dengan baik. Kali ini dia bercerita khusus tentang hobi, karir, PSSI, Nurdin Halid, dan Liga Primer Indonesia (LPI).

Oleh
Bambang Pamungkas Dimas Djayadiningrat

Gelombang nasionalisme menggelora. Ajang sepakbola piala AFF 2010 berubah menjadi pesta rakyat yang bisa jadi paling akbar yang pernah terjadi dalam sejarah sepakbola tanah air. Nasionalisme yang mengemuka dan menjadi hal trendy bersaing dengan gelora perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Pertandingan demi pertandingan yang dimainkan Timnas dibawah asukan Alfred Riedl menjadi api yang membakar semangat jutaan pasang mata yang menyaksikan lewat Televisi atau ratusan ribu yang rela berdesakan hadir langsung ke Stadion Gelora Bung Karno. Nuansa merah dan putih bertebaran dimana-mana. Di jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook menjadi ajang lempar segala macam argumen, prediksi, dan pujian kepada Timnas. Dari mulai Presiden, Mentri, pejabat, Artis, sampai rakyat kelas pinggiran bisa bersatu atas nama Sepakbola. Merasa perlu untuk tahu Sepakbola. Sudah lama euforia ini hilang. Saat Indonesia dipastikan maju ke final melawan Malaysia gelora itu makin menyalak kencang. Indonesia Vs Malaysia. Sebuah duel yang tentunya membawa banyak sekali makna bagi rakyat di dua negara tersebut. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia yang kerap "panas" dengan berbagai kasus turut menggiring opini: inilah saatnya Indonesia "melawan" Malaysia! Apalagi ketika tandang pertama Indonesia adalah ke Malaysia. Berbondong-bondong warga Indonesia rela terbang ke Stadion Bukit Djalil untuk menyaksikan laga tandang Indonesia melawan Malaysia.

Antusias masyarakat untuk membeli tiket pertandingan final makin menggebu. Mereka rela menginap antri untuk menyaksikan laga final. Namun seperti diketahui, PSSI kedodoran untuk menangani penjualan tiket laga final AFF di Stadion Gelora Bung Karno. Banyak protes bertebaran menyerang PSSI yang diaggap tidak mampu mengelola sistem ticketing sepak bola yang baik. Juga perihal harga tiket yang dianggap mahal.

Indonesia kemudian harus menyerah 0-3 melawan Malaysia. Insiden laser yang diarahkan ke pemain Indonesia menjadi topik hangat yang diperbincangkan. Berbagai hal mengemuka, dicari alasan kenapa Indonesia bisa kalah? Ditambah dengan pro dan kontra rangkaian kegiatan yang di agendakan PSSI kepada Timnas sebelum laga final tandang dengan Malaysia yang diaggap membuat banyak pihak menurunkan stamina Timnas. PSSI seperti menjadi "musuh" bersama rakyat Indonesia. Namun Timnas menjadi "teman" baru bagi banyak jutaan rakyat Indonesia yang awalnya buta sepakbola. Sihir baru bernama sepak bola telah menghipnotis jutaan pasang mata di seluruh Indonesia. "Ajang piala dunia saja tidak seheboh ini," ujar seorang kawan. Sosok-sosok pemain sepak bola termasuk pelatih yang tergabung dalam Timnas 2010 yang tadinya asing bagi jutaan orang di Indonesia berubah menjadi rockstar yang segala gerak gerik dan omongan mereka menjadi gunjingan. Kutipan-kutipan cantik mereka bertebaran di media massa yang ikut terkena demam gila sepak bola. Akun Twitter resmi pemain Sepakbola Timnas di follow ratusan ribu orang. Setiap update status mereka sudah pasti akan disambut ratusan reply atau RT.

Nama Alfred Riedl, Wolfgang Pikal, Widodo Cahyono Putro, Edy Harto, Markus Haris Maulana, Ferry Rotinsulu, Kurnia Meiga, Zulkifly Sukur, Beny Wahyudi, Yesayas desnam, Maman abdurahman, Muhammad Roby, Muhammad Nasuha, Tony Sucipto, Muhammad Ridwan, Okto Maniani, Ahmad Bustomi, Arif Suyono, Eka Rhamdani, Yongki Ariwibowo, Johan Juansyah menjadi idola baru. Dari anak kecil sampai dewasa jatuh hati dengan para pemain Timnas tersebut. Apalagi nama mencorong seperti Firman Utina, Irfan Bachdim, Christian Gonzales, serta yang paling senior yang bernama Bambang Pamungkas.

Bambang Pamungkas adalah pemain penyerang paling senior di Timnas 2010 asuhan Alfred Riedl ini. Sudah 86 kali dirinya memperkuat Timnas Indonesia. Pemain yang susah untuk ditangkap dan bahkan kerap menghindari media sejak 4 tahun terakhir ini ternyata menjadi "humas" yang baik, bahkan sangat baik bagi rekan-rekan di Timnas bahkan bagi PSSI. Lewat website www.bambangpamungkas20.com dirinya menulis berbagai sudut pandang yang membuat siapa saja yang membaca akan tergerak semangat nasionalisme serta kecintaan kepada sepak bola dan juga ke Indonesia.

Tidak berlebihan jika pemain yang memiliki nomor keramat 20 di Jersey Timnas atau Persija menjadi juru bicara bagi Timnas yang berlaga di AFF 2010 lewat press conference resmi dari PSSI atau tulisan-tulisan atau update di Twitter dan Website pribadinya. Walau dirinya selama piala AFF 2010 ini lebih sering tampil di bangku cadangan namun popularitasnya tak surut.

Seolah rockstar yang selalu ditunggu kemunculannya diatas panggung menyanyikan anthem-anthem lagu kebesarannya. Bambang Pamungkas dalam setiap pertandingan selalu mendapat perhatian lebih. Baik saat di Persija atau di Timnas. Dia selalu berusaha tampil maksimal dalam tiap laga yang dia mainkan. Selalu bermain positif dan fair play. Jarang menunjukkan emosi tingkat tinggi yang kerap muncul di tengah pertandingan sepak bola. Bahkan dia pernah memeluk wasit yang memberinya kartu kuning.

Saat Piala AFF 2010 disela jadwal latihan yang sangat padat dan kunjungan ke banyak pihak Bambang Pamungkas masih sempat menulis di website miliknya. Anda yang ingin tahu detail soal apa saja tentang karir dan pandangan-pandangan seorang Bambang Pamungkas bisa menemukan lengkap di website miliknya. Rasanya isi website milik Bambang Pamungkas sudah saatnya ditungkan dalam sebuh buku.

Tulisan seperti "Jangan Rengut Lambang Garuda Itu Dari Kami" ditulis Bambang Pamungkas untuk menjawab aksi pengacara David Tobing yang mempersoalkan lambang Garuda di dada Jearsey pemain Timnas (Tulisan tersebut dimuat juga di rubrik Soundwaves Rolling Stone Indonesia edisi Januari 2011). Atau tulisan penuh semangat optimisme di "Indonesia Masih Bisa" ketika Timnas Indonesia kalah melawan Malaysia di Bukit Djalil. Bahkan ketika terpaksa gelar juara AFF dimenangkan Malaysia karena kalah akumulasi nilai dia masih bisa menulis dengan sangat bagus dengan membangkitkan semangat positif untuk semua pihak, sebuah goresan bartajuk "Tetap Semangat Garudaku."

Lewat Twitter, tulisan-tulisan tersebut kemudian dibaca oleh ribuan bahkan jutaan penggemar lama dan penggemar baru sepak bola. "Sebut saya norak, saya kenal banyak rockstar paling top di negeri ini, tapi belum pernah saya bisa ngefans dan cinta mati ke pemain sepak bola seperti Bambang Pamungkas. Saya suka tulisan-tulisannya," kata seorang teman yang tidak mau disebut namanya. Bambang Pamungkas menulis dengan hati dan selalu berdasarkan pengalaman pribadi. Dalam berbagai kisah yang dia tuangkan selalu ada pesan yang tersirat. Semua dituangkan dengan apik dan epik. Tidak menggurui. Menjadi sebuah diary yang nyaman dibaca siapa saja. Pada 15 Maret 2008, Bambang Pamungkas pernah membuat tulisan berani berjudul "Ketua Umum PSSI". Dalam tulisan tersebut Bambang menulis sosok Nurdin Halid sebagai ketua PSSI yang punya banyak pengalaman dalam hal sepakbola. Saat itu Nurdin Halid harus memimpin PSSI dari dalam penjara akibat kasus yang menimpanya. Menarik dalam tulisan tersebut, Bambang Pamungkas menulis: "Saya sendiri yakin bahwa sikap ketua umum yang tetap bersikeras menjabat didasari oleh sesuatu yang baik, akan tetapi dengan mundur untuk sementara dan mencalonkan kembali suatu saat nanti jika masalah yang menimpa beliau telah selesai, terasa lebih bijaksana. Dan saya yakin Bapak Ketua Umum yang terhormat akan mampu dengan ihklas menerimanya."

_________________
Bambang Pamungkas atau akrab disapa Bepe lahir di Getas, Kabupaten Semarang pada 10 Juni 1980. Getas adalah sebuah desa di wilayah Tengaran, sekitar 20 menit dari Salatiga. Masa remaja Bambang Pamungkas dari TK dan SD ada di Getas. Lulus SD, Bambang Pamungkas baru hijrah ke Salatiga. Tepatnya di SMP Negeri 1 Salatiga (1992-1995) dan di SMU Negeri 1 Salatiga (1996-1999). Kebetulan kami satu SMU. Tapi saya lulus ketika Bambang Pamungkas baru masuk ke SMU yang berdampingan dengan UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana).

Sejak kecil Bambang Pamungkas sudah akrab dengan sepakbola. Ayah dan kakak-kakaknya adalah pemain sepak bola. Dalam interview pada 21 November 2010 dengan Daniel Oktav di website Syair Untuk Sahabat Foundation, Bambang bercerita, "Dahulu saya bersekolah di Salatiga yang jaraknya 20 menit dari kampung saya di Getas, sedangkan SSB (Sekolah Sepakbola) saya berada di Ungaran yang 1 jam dari Salatiga. Jadi biasanya di hari latihan, saya berangkat sekolah jam 5:30 pagi, sekalian membawa pakaian untuk berlatih di sore hari. Sehingga setelah pulang sekolah, saya dapat langsung berangkat ke Ungaran untuk berlatih, tanpa harus pulang ke rumah lagi (Hal itu untuk mempersingkat waktu dan juga biaya tentunya). Saya baru akan sampai di rumah kembali biasanya jam 8 malam. Itu saya lakukan 3 kali dalam seminggu, saat saya duduk di kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMP."

Bambang anak ke-5 dari 7 bersaudara. Putra pasangan Misranto dan Suriptinah ini memiliki satu adik perempuan, Dyah Ernawati. Tiga kakak Laki-laki, Agus Handoko Misranto, Agus Budhi Suseno, dan Tri Agus Prasetijo. Serta 2 kakak perempuan, Eni Kusumawati dan Nanik Setyowati. "Kalau ada kesempatan bertanding di daerah Jawa Tengah saya selalu menyempatkan pulang ke rumah di Getas," kata Bambang ketika kami akhirnya bertemu untuk pertama kali pada 5 Januari 2011 di Rolling Stone Cafe.

Suami dari Tribuana Tungga Dewi, serta ayah dari tiga putri cantik Salsa Alicia, Jane Abel, serta Syaura Abana ini pernah mencoba kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Rawamangun. "Hanya bertahan 2 semester," katanya sambil tertawa. Dalam pertemuan kami istrinya selalu ikut menyertai, "Dia asli Semarang," ujar Bambang tentang istrinya pambil melirik dengan sayang.

Dalam pertemuan pertama kami itu Bambang Pamungkas banyak memberikan analisa yang sangat baik tentang masa depan sebagai pemain Sepakbola, PSSI, juga tentang Liga Primer Indonesia yang digagas pengusaha Arifin Panigoro. "LPI (Liga Primer Indonesia) digelar ketika musim kompetisi LSI (Liga Super Indonesia) sudah berlangsung ½ jalan. Saya pribadi sangat mendukung apa yang dilakukan oleh LPI. Tapi idealnya LPI tetap berada dibawah PSSI yang di akui FIFA. Saya melihat LPI ini dibuat oleh individu. Sementara LSI dibawah kendali PSSI, organisasi yang dilindungi negara" ujar Bambang yang berhasil mencetak 19 gol saat laga Indonesia Super League 2008 (ISL) yang dikelola oleh PT Liga Indonesia, 14 gol di ISL 2009, serta 5 gol di laga ISL 2010 yang saat ini masih berlangsung.

Media Twitter membuat saya mengenal Bambang Pamungkas. Walau kami sama-sama dari Salatiga, satu alumni SMU di SMA 1 Salatiga, namun kami belum pernah bertemu. Jujur saya tidak terlalu update tentang dunia sepak bola. Saya hanya tahu sosok Bambang sebagai pemain sepak bola profesional yang beberapa kali sempat saya baca profil dirinya. Saya ingat sekali, seorang teman bernama Febrie Meuthia (Dikenal sebagai penggagas Inbox di SCTV dan penggemar sepak bola) lewat akun Twitter mention ke saya tentang sebuah akun bernama @bepe20 yang ternyata milik Bambang Pamungkas. "Ini ada Bambang Pamungkas, kapan-kapan minta dia nulis di Rolling Stone Indonesia, tulisanya bagus" kata Febrie Meuthia kepada saya. Saya dan Bambang Pamungkas kemudian saling follow di Twitter. Lewat DM akhirnya saya dan Bambang Pamungkas bertukar nomor telepon.

Promo yang diutarakan Febrie Meuthia membuat saya langsung tertarik dengan tulisan yang ditulis Bambang Pamungkas berjudul "Terimakasih Pak Cholik." Setelah saya baca artikel tersebut saya kaget. Pak Cholik, tokoh nyata dalam tulisan tersebut adalah tetangga saya di daerah Suruh. Dia seorang guru di SMP Negeri 1 Salatiga dan juga pelatih Sepakbola di SMP tempat Bambang Pamungkas sekolah. Dalam tulisan tersebut Bambang mengingat kisah saat dia duduk di kelas 1 SMP dan dipercaya Pak Cholik untuk menggantikan kakak kelas yang berhalangan hadir dalam sebuah turnamen sepak bola. Peristiwa itu mengubah pandangan banyak orang di SMP Negeri 1 Salatiga. Bambang, sosok bertubuh kecil itu ternyata menyimpan energi dan bakat luar biasa dalam sepak bola.

Bambang Pamungkas dalam website miliknya menulis dengan indah pada guru agama yang mempercayainya untuk menjadi pemain pengganti dalam laga Sepakbola antara SMP N 1 Salatiga ketika melawan Desa Suruh. "Nama Pak Cholik akan selalu saya kenang sampai kapanpun, seorang guru yang tidak hanya memberi kesempatan dan peluang, akan tetapi juga sebuah kepercayaan kepada saya untuk menunjukkan kemampuan saya. Atas dasar rasa hormat saya kepada beliau, pada tahun 2002 saya mempersembahkan Jersey Tim Nasional Indonesia, yang saya pakai saat Final Piala Tiger 2002 di Jakarta (saat itu saya berhasil menjadi pencetak gol terbanyak). Seminggu setelah partai final tersebut, saya sempat sowan/berkunjung ke SMP Negeri 1 Salatiga dan memberikan kostum tim nasional tersebut secara langsung kepada beliau."

Berikut ini adalah obrolan saya dengan si penggemar Paul Gascoigne, Kurniawan Dwi Julianto, serta Widodo Cahyono Putro ini. Sebuah kesempatan langka. Karena hal yang sangat susah untuk bisa mendapatkan akses interview dan foto khusus dengan Bambang Pamungkas. Banyak rekan dari media olah-raga yang tidak bisa mendapatkannya. "Karena yang minta senior saya di SMA 1 Salatiga, saya tidak bisa menolak," katanya sambil terkekeh sambil melirik istrinya, Tribuana Tungga Dewi.

I.Piala AFF 2010

Apa evaluasi paling utama bagi Timnas setelah AFF 2010? Sejujurnya, di dalam tim sendiri semuanya sudah berjalan dengan sangat baik dan lancar. Akan tetapi harus di akui, jika terlalui banyak gangguan dari luar yang sejujurnya malah membebani tim ini. Menurut saya, media massa terlalu berlebihan dalam memberitakan kami. Dan ketika sepakbola sudah masuk ke dalam arena infotainment, maka hal tersebut menjadi sangat menggelikan.

Kesan Anda dengan laga ke 86 bersama Timnas di AFF? Secara pribadi saya sangat bangga, karena sejujurnya tidak mudah untuk mencapai angka tersebut, dan akan selalu menjadi hal yang membanggakan dapat bermain buat Indonesia. Akan tetapi secara hasil memang cukup menyedihkan, karena saya harus kembali gagal mempersembahkan sesuatu untuk Bangsa ini.
Apakah Anda sudah maksimal tampil di AFF? Melihat Riedl kerap menjadikan Anda sebagai pemain cadangan? Sejujurnya "TIDAK", Karena saya tidak banyak mendapatkan waktu bermain di AFF Cup kemaren. Akan tetapi sebagai pemain profesional, saya selalu berusaha untuk menghormati keputusan pelatih. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik saat pelatih membutuhkan saya, dan saya rasa saya sudah melakukan itu di piala AFF yang lalu.

Anda juga dikenal luas publik Malaysia karena pernah lama bermain di Selangor FC. Bagaiman pendapat Anda tentang kemenangan Malaysia di Piala AFF 2010? Walaupun hanya dua tahun saya bermain disana, akan tetapi sejujurnya dua tahun itu meninggalkan kesan yang cukup mendalam dalam diri saya. Selangor adalan raksasa di persepakbolaan Malaysia, dan saya mampu meraih semua gelar selama disana. Satu nilai plusnya adalah, saya mampu menghibur rekan-rekan sebangsa saya (TKI) yang tengah mencari nafkah di Malaysia. Saat itu, saya adalalah idola para TKI hehehe.

Siapa yang Anda lihat bakal memiliki karir gemilang di dunia Sepak Bola Indonesia dari Timnas di AFF 2010? Tim ini banyak dihuni pemain-pemain muda, dan saya rasa mereka semua mempunyai masa depan yg sangat cerah. Jika saya harus menyebut satu nama, maka pilihan saya akan jatuh kepada Yongki Ariwibowo.

Apa pendapat Anda tentang Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales di Piala AFF lalu?
Chistian Gonzales adalah pemain yang luar biasa di mata saya, sedang Irfan Bachdim adalah pemain muda yang mempunyai masa depan yang sangat cerah, mereka adalah aset bangsa ini.

Anda tidak masalah pemain berpengalaman seperti Anda hanya bermain sebagai pemain cadangan di Piala AFF?
Bagi saya pribadi, saya rasa semua pemain ingin menjadi pemain inti, begitu pula dengan diri saya. Akan tetapi ketika seorang pelatih sudah mengambil keputusan, maka setiap pemain harus menghormatinya, karena memang begitulah cara kerja orang-orang profesional.

AFF 2010 menjadi ajang tarik menarik kepentingan politik. Apakah sebelumnya Anda pernah mengalami Hal yang sama? Sejauh apa yg saya tau dan ingat, saya rasa tidak pernah.

Sehari setelah pertandingan final Piala AFF 2010 dibuat acara pembubaran Timnas. Ketua umum PSSI, ketua BTN, manager tim dan pelatih kepala bergantian memberikan kesan dan pesan mereka masing-masing. Dari wakil Timnas Bambang Pamungkas dipilih untuk memberikan kesan dan pesan mewakili 23 pemain Timnas lain. Dalam website miliknya Bambang menulis apa yang dia ucapkan malam itu... "Secara pribadi maupun mewakili seluruh pemain, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pengurus dan juga staff pelatih atas kerja sama yg luar biasa selama piala AFF ini di gelar. Kenyataan memang terkadang tidak seindah apa yang kita bayangkan, akan tetapi setidaknya kita semua sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Kita memang belum mampu menjadi juara, akan tetapi semoga kita mampu memenangkan hati masyarakat Indonesia. Mohon maaf jika ada tersalah kata atau tindakan diantara kami semua, dan sekali lagi terima kasih."

II. Liga Primer Indonesia (LPI)

Bagaimana Anda melihat Liga Primer Indonesia (LPI) yang digelar oleh Arifin panigoro?

Secara konsep harus diakui jika LPI sangat bagus. Akan tetapi secara dasar hukum, saya rasa mereka berada di posisi yang lemah.
LPI akhirnya mendapat ijin dari Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Bagaimana Anda melihat hal ini? Saya rasa siapapun yang ingin membuat kompetisi atau turnamen yang tujuannya memajukan persepakbolaan Indonesia tentu sah-sah saja dan harus kita dukung. Akan tetapi masalahnya di sini, apakah kompetisi tersebut sudah sesuai dengan aturan yang berlaku apa tidak, itu yang harus di perhatikan. Khusus untuk sepakbola, kita memiliki FIFA sebagai induk dari seluruh federasi sepakbola di dunia, yang tentu juga mempunyai aturan-aturan yang harus kita semua patuhi.

Anda pernah bilang dengan adanya Dua liga ini yang menjadi korban adalah pemain? Iya betul, jika pemain yang tampil di LPI hak-haknya sebagai pemain profesional di bawah FIFA dicabut (Termasuk menjadi pemain nasional), tentu pemain yang bersangkutan akan sangat di rugikan. Saya rasa semua ini masalah hati, bagi mereka yg bermain di LPI saya yakin teman-teman tersebut sudah memikirkan secara masak.

Apa saran Anda kepada teman-teman yang gabung ke LPI? Banyakkah yang curhat ke Anda? Ada beberapa yang bercerita kepada saya, akan tetapi sejujurnya saya juga tidak dapat memberi masukan yang berarti, karena saya sendiri tidak begitu mengerti keabsahan LPI secara statuta FIFA.

Anda pernah bilang LPI akan sangat ideal jika berada dibawah PSSI. Bagaimana Anda melihatnya? Jika boleh saya ibaratkan peraturan atau statuta FIFA itu sebuah pigura, maka alangkah lebih baik dan bijaksananya jika kita melakukan terobosan-terobosan dan inovasi di dalam pigura tersebut. Karena jika kita melakukannya di luar pigura, maka malah akan menambah rumit permasalahan itu sendiri.

Bagaimana Anda melihat Liga Indonesia & LPI ini? LPI dibuat ditengah musim kompetisi. Sejujurnya ISL memang berjalan prematur, banyak hal-hal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan itu yang harus kita perbaiki bersama. Dengan komitmen dari seluruh pihak yang terkait dan tentunya kontrol yang ketat dari masyarakat, saya yakin sepakbola Indonesia mampu lebih baik lagi. Sedangkan LPI sendiri, secara konsep sekali lagi saya katakan sangat baik dan cenderung membawa sepakbola ke arah profesional. Akan tetapi sekali lagi saya masih ragu dengan payung hukum yang menaungi mereka. Akan tetapi lebih daripada itu, seharusnya keberadaan LPI harus menjadi wake up call untuk PSSI, bahwasanya banyak pihak yan g kurang puas dengan kinerja mereka. Sehingga kedepan mereka mampu lebih baik lagi dalam bekerja serta mengelola Liga Indonesia.

Apakah menurut Anda penuh aroma politik dalam pembentukan LPI ini? Sejujurnya saya tidak begitu suka dengan masalah-masalah politik, sehingga kurang begitu pandai dalam membaca peta persaingan politik, jadi saya tidak mengerti apakah ada aroma politik disana. Akan tetapi kemungkinan itu selalu ada dan cenderung cukup tinggi.

Bagaimana Anda melihat sepak bola yang dibawa ke ranah politik? Tak bisa dipungkiri sepak bola jadi media efektif mengumpulkan massa. Pendapat Anda? Mengingat sepakbola adalah olahraga yang mampu menggaet masa yang luar biasa, maka sangat wajar jika para elit politik berlomba-lomba menggunakan sepakbola sebagai alat. Akan tetapi sejujurnya saya sangat mengutuk hal tersebut. Bagi saya, sepakbola akan terlihat jauh lebih indah jika di biarkan murni sebagai sebuah olahraga, tanpa ada embel-embel apapun.

III. PSSI

Melalui situs pribadi Anda pernah menyuarakan ketidaksukaan terhadap rezim kepemimpinan Nurdin Halid di PSSI, apakah karena itu Anda pernah bermasalah secara pribadi soal ini dengan pimpinan PSSI? Hahahaha saya rasa kami adalah orang-orang yg profesional, sehingga mampu berpikir secara terbuka dalam segala hal. Kritik dan masukan tentunya menjadi hal yang biasa dan sangat wajar. Saya sendiri menulis hal tersebut, sebagai pelaku sepakbola yang ingin dunia persepakbolaan Indonesia lebih baik lagi, bukan karena faktor suka atau tidak suka terhadap pribadi-pribadi di dalam organisasi tersebut.
Sebelum Piala AFF, Nugraha Besoes juga pernah bilang "generasi Bambang Pamungkas sudah habis". Komentar ini mengundang kontroversi. Anda dianggap seperti itu oleh petinggi PSSI kenapa Anda memilih diam? Iya betul, saya juga mengetaui hal tersebut. Saya rasa semua orang berhak menilai diri saya termasuk Nugraha Besoes, saya adalah pribadi yang sangat terbuka dengan kritik. Mungkin perkataan tersebut benar, karena buktinya hanya tersisa saya seorang dari generasi angkatan saya hehehehe. Yang harus saya lakukan sekarang adalah berjuang untuk membuktikan jika hal tersebut salah, bukan menanggapinya dengan cara berdebat di media yang menurut saya hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga.
Anda pernah bermain di mancanegara dan di dalam Indonesia. Menurut Anda pribadi, apakah bermain di luar negeri lebih baik untuk perkembangan karier sepakbola pemain Indonesia? Iya benar. Dengan bermain di luar negeri, maka kita berkesempatan untuk merasakan atmosphere dari sebuah kompetisi baru yang tentunya akan memperkaya pengalaman kita. Sebagai pemain asing, maka kita akan selalu di tuntut untuk lebih dari pemain lokal, hal tersebut membuat kita mau tidak mau akan terus bekerja keras dan memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Semakin banyak pemain Indonesia bermain di luar, maka hal tersebut akan semakin baik untuk kemajuan persepakbolaan kita dan juga timnas Indonesia.
Apa sebenarnya masalah sepakbola Indonesia sehingga tidak kunjung meraih prestasi sejak medali SEA Games 1991? Jika boleh saya ibaratkan tim nasional itu sebuah kue. Ketika kue yang kita buat itu gagal dan rasanya tidak enak, maka mari kita perbaiki cara pembuatannya. Karena jika kita tidak memperbaiki cara pembuatannya, maka selamanya kue yang dihasilkan akan gagal dan tidak enak. Yang saya maksud dengan cara pembuatan adalah sistem pembinaan pemain muda (Yang selama ini kurang maksimal), iklim kompetisi (Yang menurut saya masih kurang kondusif) serta program-program dari PSSI sendiri (Yang menurut saya belum berjalan secara maksimal). Karena dalam sepakbola kita tidak akan pernah mendapatkan hasil yg maksimal dengan cara instan.
Apakah Anda percaya pergantian kepemimpinan PSSI dapat memperbaiki kondisi sepakbola Indonesia? Sejujurnya tidak semudah itu juga. Siapapun ketua PSSI nya, jika kita semua bersatu padu dan saling bergandengan tangan serta mampu mengesampingkan ego masing-masing, maka saya yakin persepakbolaan kita akan mampu berdiri berbicara di level yg lebih tinggi lagi. Jadi yg terpenting di sini adalah program di susun dengan baik dan komitmen dari semua pihak. Mengenai ketua PSSI, bisa siapa saja.
IV. Persija
Di Indonesia Anda hanya pernah membela Persija Jakarta. Kenapa tidak pernah membela tim lain? Apa karena tidak ada tawaran atau memang memilih setia?
Jujur saya adalah sebuah pribadi yang tidak mudah pindah kelain hati hehehe. Saya akan memilih klub dimana hati dan perasaan saya merasa nyaman untuk bermain. Dan ketika saya sudah menentukan pilihan, maka biasanya saya akan susah untuk berpaling. Persija Jakarta bukan lagi sebuah klub bagi saya, akan tetapi sudah seperti sebuah keluarga. Beberapa tawaran silih berganti datang, akan tetapi kecintaan saya terhadap klub ini, membuat saya masih berseragam orange bernomor 20. Saya memang sangat mencintai Persija, akan tetapi bukan berarti saya akan selamanya bermain di klub ini, dalam dunia profesional apapun dapat terjadi.
Bagaimana Anda melihat Persija & The Jakmania? Ketika pertama kali saya bermain di Persija, jumlah the Jakmania masih dalam kitaran 100-an orang, akan tetapi sekarang jumlah anggotanya sudah mencapai 50 ribuan lebih. Sebuah kelompok supporter akan selalu menjadi bagian yang penting dalam sebuah klub, begitu juga The Jakmania. Saat memutuskan bermain di Selangor FC pada tahun 2005, saya sempat menulis surat pamitan terbuka untuk mereka, itu adalah wujud kecintaan saya kepada mereka. Tentu saya sangat bangga dengan The Jakmania, akan tetapi sangat di sayangkan akhir-akhir ini sering terjadi kerusuhan saat laga kandang Persija, tentu hal tersebut memerlukan sebuah perbaikan.
Sedekat apa Anda dengan fans The Jakmania & Timnas? Saya selalu mengibaratkan penggemar sebagai air es. Air es memang tidak selalu baik bagi kesehatan. Akan tetapi satu hal yang pasti, air es akan selalu memberikan kesegaran di saat saya merasa kegerahan, haus dan dahaga. Silahkan artikan sendiri kalimat tersebut hehehe.
Jarang pemain sepakbola Indonesia yang bisa menjadi cult idol seperti Anda di Persija Jakarta saat ini. Apakah ini beban tersendiri bagi Anda? Sama sekali tidak, ini adalah bagian dari konsekuensi dan tanggung jawab saya, dan saya menjalani semuanya dengan sangat nyaman.
V. Social Media & Fans
Dengan adanya social media Twitter, Anda makin memiliki banyak fans. Berapa penambahan follower Anda di Twitter sejak adanya AFF? AFF tahun ini memang memiliki gaung yang sangat luar biasa. Saya mengalami penambahan followers yang sangat signifikan selama AFF di gelar, mungkin followers saya bertambah 200 ribuan. Akan tetapi banyak juga followers saya yang sebenarnya tidak mengerti dengan dunia sepakbola, mereka memutuskan mem follow saya setelah membaca blog saya yang menurut mereka bagus, dan hal tersebut menurut saya sedikit aneh hahaha. (Saat tulisan ini dibuat jumlah followers Bepe 370.730)
Anda cukup jarang menjawab lewat Twitter kepada fans Anda? Anda sengaja membatasi untuk tidak terlalu banyak bicara dengan fans seperti Anda dengan media?
Sebelumnya, saya selalu membuka diskusi dengan followers saya di twitter, khususnya mengenai sepakbola. Akan tetapi semenjak AFF, tweet-tweet dari pemain nasional sering di jadikan berita oleh wartawan. Sehingga kita harus sedikit berhati-hati dalam menulis status, karena sesuatu yang sebenarnya hanya bercanda bisa di tanggapi dengan sangat serius. Hal tersebut membuat twitter sudah tidak lagi menyenangkan. Seandainya saya tidak memiliki followers dari kalangan wartawan, maka saya jamin tweet-tweet saya akan berisi hal-hal yg gila dan unik, karena memang pada dasarnya saya memang pribadi yg sangat terbuka dan sedikit gila hahahaha.
Kenapa Facebook Fans bepe tidak diurus dengan benar? Banyak sekali fans page yang dibuat dengan anggota ratusan ribu. Anda tidak berniat membuat Bepe Fans Club? Awalnya ada seorang penggemar yang meminta ijin kepada saya untuk membuat fan page di facebook dan saya menyetujuinya. Bahkan saya sempat beberapa bulan menjadi admin fan page tersebut sebelum akhirnya saya berhenti karena saya menutup akun facebook saya. Jadi bagaimana saya dapat mengurus fan page di facebook jika saya tidak mempunyai akun di facebook hahaha.
Bagaimana Anda melihat peran Social Media seperti Twitter yang makin mendekatkan banyak pihak? Sebagai publik figur, kita dapat memberikan dua efek yang sangat bertolak belakang bagi masyarakat (Followers kita), yaitu positif dan negatif. Karena apapun yang kita lakukan akan mendapatkan perhatian dari masyarakat dan berpotensi di tiru. Bagi saya Twitter dapat berefek sangat positif jika kita mampu mempergunakannya dengan cara yng baik dan benar. Melalui blog pribagi maupun twitter, saya selalu berusaha untuk berbagi pengalaman, cara pandang serta cara bersikap yang mungkin dapat berguna bagi generasi pesepakbola di bawah saya.
VI. Karir di Sepak Bola
Apakah pilihan menjadi pemain Sepak Bola profesional bisa menjamin hidup si pemain sampai hari tua? Bagaimana Anda melihat sejarah dengan senior-senior Anda? Iya jelas, sangat bisa. Sepak bola Indonesia sekarang sudah bergerak ke arah sebuah industri, walaupun gerakannya masih lamban dibanding di Eropa misalnya. Akan tetapi, sekarang para pelaku sepakbola sudah mendapatkan bayaran yg menurut saya sangat lumayan, dan jika mereka mampu mengatur dengan baik, saya rasa cukup untuk mempersiapkan masa depan yang baik.
Melihat karier Anda hingga saat ini, apakah sewaktu masih remaja Anda pernah menginginkan menjadi kapten timnas sekaligus topskor terbanyak Indonesia? Sejauh ini saya merasa sangat bersyukur dengan apa yang mampu saya capai sebagai pesepakbola, walaupun dalam beberapa hal seharusnya dapat lebih baik lagi. Hahahaha sama sekali tidak, cita-cita saya dari kecil hanyalah menjadi guru, dan cita-cita itu masih ada sampai saat ini.
Siapa inspirator terbesar yang mendorong Anda untuk memilih karir sebagai pemain sepak bola profesional? Setiap orang pasti mempunyai idola yang menginspirasi kita, dan saya tidak akan pernah malu mengatakan jika idola saya adalah Kurniawan Dwi Julianto.
Apa yang membuat Anda mengidolakan Kurniawan Dwi Yulianto? Kurniawan adalah seseorang yang membuat saya menetapkan diri untuk memilih bidang sepakbola sebagai karir. Saat saya masih SMP Kurniawan adalah striker utama timnas Indonesia, saya rasa saat itu semua orang mengenal siapa itu Kurniawan. Satu hal lagi, Kurniawan adalah lulusan Diklat Salatiga yang notabene tempat saya berasal. Sehingga saya berpikir, jika Kurniawan mampu kenapa saya tidak.
Bagaimana hubungan Anda dengan Kurniawan Dwi Yulianto dulu dan sekarang? Hubungan kami cukup baik, walaupun boleh dikatakan tidak terlalu akrab. Terakhir saya bertemu dengan dia mungkin setahun yang lalu saat tim kami bertemu dalam sebuah pertandingan, dia membela Persela Lamongan dan saya Persija Jakarta. Akan tetapi sejujurnya, dia adalah pribadi yang sangat saya hormati.
Seberapa besar peran Ayah Anda dalam karir seorang Bambang Pamungkas? Sangat besar. Beliau adalah kritikus paling pedas dalam karir saya, sampai saat ini. Dan sejujurnya saya sangat beruntung mempunyai seorang ayah seperti beliau yang selalu membimbing saya walaupun saya sudah menjadi pemain nasional.
Apa yang Anda lihat dari Diklat Salatiga? Apa keistimewaan tempat itu hingga bisa mencetak seorang Bambang Pamungkas dan kurniawan Dwi Yulianto? Diklat adalah kawah candradimuka paling ideal dalam membentuk atlet profesional, karena di sana kami tidak hanya di asah secara skill akan tetapi juga di bidang akademis. Dan dalam dunia olahraga profesional, tidak dapat dipungkiri jika intelegensi seorang atlet menjadi hal yg sangat menentukan.
Siapa yang masih aktif bermain sepak bola selain Anda di keluarga? Tidak ada, ketiga kakak saya sudah tidak lagi menjadi pemain bola. Kakak saya yang ketiga Tri Agus Prasetyo saat ini menjadi pelatih di Persibara Banjarnegara.
Anda hanya bertahan tiga bulan di klub Belanda, EHC Norad, padahal publik berharap Anda memulai karier di Eropa. Kenapa Anda pulang ke Indonesia? Apakah ada hambatan spesifik saat itu? Hahaha, iya betul saya memang tidak begitu lama di Belanda. Saat itu saya masih berusia 19 tahun dan tinggal sendiri di negeri yang sama sekali asing bagi saya, tentu hal tersebut tidak mudah bagi saya. Seperti kebanyakan orang asia, sejujurnya saat itu saya sedikit banyak mengalami Home Sick. Akan tetapi masa singkat di Belanda itu, merupakan salah satu masa yg paling penting dalam karir saya. Karena di sana saya banyak belajar bagaimana hidup secara profesional, baik secara pribadi maupun dalam menjalani karir sebagai pemain sepakbola, dan itu saya terapkan sampai saat ini.
Lebih dari sepuluh tahun Anda berkiprah di timnas senior Indonesia dan Anda merasakan kepelatihan Ivan Kolev, Peter Withe, Benny Dollo, dan Alfred Riedl. Mana yang paling berkesan? Setiap pelatih mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ketika Anda bertanya siapa yang paling berkesan, maka jawaban saya adalah semuanya berkesan. Karena bagi saya setiap partai membela tanah air akan selalu meninggalkan kesan yang mendalam, dengan siapapun pelatihnya.
Sepanjang karier Anda, momen mana yang paling membahagiakan sebagai pemain sepakbola? Ketika saya mampu membawa tim meraih target, yaitu menjuarai sebuah kompetisi.
Momen apa pula yang menurut Anda merupakan titik nadir? Saat saya mengalami patah kaki dan harus istirahat selama 6 bulan di tahun 2001, sebagai sebuah pribadi saat itu saya merasa sangat rapuh.
Setelah tidak tampil sebagai pemain sepakbola Anda sudah ada niat untuk menjadi pelatih? Sudah Ada club yang menawari? Sejujurnya saya belum berpikir sama sekali, tentang apa yang akan saya lakukan setelah pensiun nanti.
VII. Keluarga
Dimana Anda kenal dengan Istri? Boleh dibilang Anda dan Istri jauh Dari berita di media. Anda sengaja Menutup diri dari media untuk keluarga Anda? Saya mengenal istri saya dalam sebuah acara makan malam yg diadakan oleh salah satu pengurus Persija Jakarta, kebetulan anak dari pengurus tersebut adalah sahabat istri saya. Saat pertama berkenalan, dia mengira saya adalah paranormal (Ki Gendeng Pamungkas) hahahahaha.. Iya, saya memang sebisa mungkin memisahkan urusan keluarga dengan pekerjaan saya. Karena sejujurnya, profesi saya tidak selamanya berefek positif kepada keluarga saya. Keluarga adalah bagian paling penting dalam kehidupan saya, dan biarkanlah mereka tenang dengan dunianya sendiri.
Apa yang Anda lakukan dengan waktu luang? Anda dikenal sebagai family man. Tempat publik seperti apa yang sering Anda datangi bersama keluarga? Saat mempunyai waktu luang, saya selalu berusaha menghabiskan waktu dengan istri dan anak-anak saya. Iya, bagi saya keluarga adalah segalanya, karena sejatinya apa yang saya lakukan selama ini hanya untuk mereka, orang-orang yang saya cintai. Anak saya sangat suka bermain di arena bermain seperti Kidzania, karena disana mereka dapat belajar mandiri.
Bagaimana Anak-anak Anda melihat seorang Bambang Pamungkas? Anda pernah bilang Anak Anda suka diledek temannya jika Anda main kurang prima Atau kalah. Apa yang Anda ajarkan kepada anak?
Sejujurnya saya tidak tahu apa pendapat anak-anak saya mengenai diri saya. Satu hal yang paling saya takutkan adalah, jangan sampai anak-anak saya memanggil saya dengan sebutan om, karena terlalu sering saya tinggalkan, sehingga lupa jika saya adalah ayahnya hahahahaha.
Saya dan istri berusaha memberikan kebebasan kepada ketiga putri saya untuk memilih dan menentukan sikap, asalkan mereka mampu mempertanggung jawabkan pilihannya tersebut. Dan kami akan mengawasi dan membenarkan jika ternyata mereka salah jalur.

VIII. Hobi
Kapan Anda menyadari bisa menulis dengan bagus?
Saya menulis karena terpaksa. Sebagai pemain sepakbola, saya memang di kenal jarang berbicara di media (Saya memang lebih berhati-hati dengan media), sehingga pengetahuan masyarakat mengenai diri saya mungkin menjadi sangat minim. Dengan menulis di blog pribadi, maka saya dapat memberikan informasi yang sebenar-benarnya tentang diri saya kepada masyarakat luas, maka dari itu saya belajar menulis artikel. Pertama kali saya menulis adalah di tahun 2004.
Kapan waktu paling pas untuk Anda menulis? Butuh berapa lama untuk setiap Artikel? Biasanya, saya menulis ketika sedang tur keluar kota, karena saat itu saya mempunyai banyak waktu luang. Tergantung suasana atau mood saya saat itu. Terkadang saya mampu membuat 3 tulisan dalam waktu sehari, terkadang saya tidak menulis sama sekali dama 2 minggu. Akan tetapi rata-rata saya menyelesaikan tulisan dalam waktu 2 jam, dan keesokan harinya saya butuk 1 jam lagi untuk mengeditnya hehehe.
Boleh update soal buku yang akan Anda rilis dalam waktu dekat? Kenapa baru sekarang terpikirkan untuk membukukan karya-karya Anda? Benarkah 100 % penjualan buku akan disumbangkan? Rencananya buku saya akan rilis awal bulan depan (Februari 2011). Saya sendiri sebenarnya tidak cukup percaya diri untuk meluncurkan sebuah buku, akan tetapi bebarapa teman saya menyarankan saya untuk membukukan tulisan-tulisan di blog saya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya saya menyetujui saran tersebut. Betul Insya Allah 100% hasil penjualan buku tersebut, nantinya akan di sumbangkan ke yayasan AIDS dan kanker anak. (Buku yang untuk sementara akan berjudul "Ketika Jari-Jemari Saya Berbicara" ini hasil kerjasama dengan Nike, Yayasan Kanker Anak Indonesia, dan Yayasan Syair Untuk Sahabat).
Musik seperti apa yang Anda suka? Saya menyukai semua jenis musik kecuali dangdut, entah mengapa saya tidak dapat menikmati musik dangdut. Hip-Hop dan Keroncong adalah jenis musik paling favorit.
Kenapa Anda suka hip-hop? Musik Hip-Hop sangat dinamis serta selalu memberikan kesan semangat dan percaya diri, sama seperti diri saya hehehe.
Suka sekali tampaknya dengan Jay Z? Karena musiknya bagus dan lirik-lirik lagunya mempunyai karakter yg kuat dan sedikit provokatif. (Sebelum interview ini, saya memberikan buku biografi Jay Z, Decoded yang terbit 2010 dan juga buku biografi band Gigi yang saya tulis kepada Bambang Pamungkas. Besoknya dia langsung menulis di Twitter "Matur suwun mas @AdibHidayat udah dikasih bukunya Jay Z dan Gigi, ini nih enaknya sowan ke kakak kelas haha..)
Lagu apa yang sering Anda dengar belakangan ini? Akhir-akhir ini saya sedang sering mendengarkan Simply Red ("You Make Me Feel Brand New"), mungkin karena saaat AFF kemarin saya sebulan penuh meninggalkan rumah, jadi agak-agak mellow hahahaha.
Film yang Anda tonton terakhir tahun 2011 ini? Saya sudah lumayan lama tidak menonton film, padahal biasanya saya dan istri paling rajin ke bioskop. Jika tidak salah film terakhir yg kami tonton adalah Hachiko, film yang bercerita tentang kesetiaan seekor anjing.
Pertanyaan terakhir. Seperti apa Anda ingin dikenang dalam lembaran sejarah sepakbola Indonesia? Saya ingin di kenang sebagai seorang pemain yang menjunjung tinggi fair play dalam sepakbola, itu saja sudah cukup bagi saya.

Editor's Pick

Add a Comment