In Memoriam: Rinto Harahap (1949 - 2015)

Sang legenda pop sendu Nusantara

Oleh
Rinto Harahap.

Penyanyi sekaligus pencipta lagu legendaris, Rinto Harahap, tutup usia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura pada Senin (9/2) pukul 22:15 waktu setempat. Menurut Detikcom, sejak lama ia diketahui memang mengidap penyakit kanker tulang. Sebelumnya pada 2004 ia dikabarkan sempat terserang stroke. Rinto wafat dalam usia 65 tahun.

Kabar tentang berpulangnya Rinto pertama kali berhembus dari screen shot akun Path milik Thariq Mahmud, suami dari putri sulungnya, Cindy Claudia Harahap, yang tersebar di media sosial.

"Innalilahi Wainailaihi Rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah Papa RINTO HARAHAP pada pukul 22.15 di RS MT ELIZABETH Singapore. Jenazah akan disemayamkan di JL. Bango 2 No 22 Pd Labu JKTSEL semoga amal ibadah beliau diterima disisi-Nya," tulisnya di sana. Jenazah Rinto Harahap sendiri pada Rabu (11/9) siang kemarin telah dikebumikan di TPU Kampung Kandang, Jakarta Selatan dengan dihadiri pihak keluarga, sanak saudara, handai taulan dan rekan-rekan seprofesinya.

Mungkin bagi generasi muda jaman sekarang nama Rinto Harahap hanya beken berkat istilah olokan "Wajah Rambo, Hati Rinto" atau hanya dikenal sebagai pencipta lagu-lagu pop sendu semata (kerap pula disebut pop cengeng). Padahal kiprah dan karya-karya Rinto Harahap yang banyak menjadi hits besar sangat menyentuh psikologis mayoritas masyarakat dan mendominasi penjualan album di industri musik pop Indonesia pada dekade akhir "70-an dan "80-an. Rolling Stone Indonesia pada edisi khusus 100 Pencipta Lagu Terbaik Sepanjang Masa yang terbit pada Februari 2014 silam juga memasukkan namanya pada posisi ke-56.

Nama besarnya bersanding sejajar dengan para pencipta lagu pop sendu legendaris lainnya seperti A. Riyanto, Pance Pondaag, dan Obbie Messakh. Kuartet pencipta lagu inilah yang kemudian berjaya menjadi godfather pop sendu di industri musik pada waktu itu. Selain menjadi hits nasional, album-album mereka pun selalu laris ratusan ribu hingga jutaan kopi kasetnya. Saking berpengaruhnya, rezim Orde Baru melalui Menteri Penerangan Harmoko bahkan hingga merasa perlu untuk "mencekal" dan "memusuhi" karya-karya mereka pada saat itu.

Jejak-jejak kebesaran seorang Rinto Harahap berawal di tanah kelahirannya di Medan, Sumatera Utara. Pria kelahiran Sibolga ini mengawali karirnya di industri musik saat diajak kakaknya Erwin Harahap yang membentuk band The Mercy"s pada 1968. Nama band mereka baru mulai menanjak ketika formasinya adalah drummer Reynold Panggabean, gitaris Rizal Arsyad, keyboardist, vokalis sekaligus pencipta lagu Charles Hutagalung dan saksofonis Albert Sumlang. Rinto sendiri menjadi bassist sekaligus vokalis di band yang awalnya musiknya terpengaruh oleh Bee Gees, The Beatles, The Cats, The Hollies, Creedence Clearwater Revival tersebut. Sejak terbentuknya mereka langsung mendapat tawaran untuk tampil di klub malam di Kuala Lumpur, Vietnam dan Jakarta.

Perlahan namun pasti nama The Mercy"s semakin populer dan berkembang menjadi salah satu band yang ikut memelopori pop Melayu di Tanah Air di antaranya bersama Koes Plus, D"Lloyd, Panbers dan Favourite"s Group. Buktinya, Angket Siaran ABRI yang diumumkan pada 1972 berhasil menobatkan The Mercy"s sebagai grup/penyanyi yang paling digemari pada saat itu.

Beberapa hits legendaris milik band yang namanya terinspirasi karena para anggotanya senang naik mobil Mercy ini antara lain adalah "Tiada Lagi," "Untukmu," "Hidupku Sunyi" sampai "Kisah Seorang Pramuria." Hingga bubarnya pada 1976 The Mercy"s kabarnya telah merilis 24 album rekaman.

Usai meredupnya The Mercy"s, menjelang dekade akhir "70-an Rinto Harahap menekuni karier solo sebagai pencipta lagu, produser, bahkan penyanyi. Ia juga mendirikan label rekaman Lolypop Records (diambil dari nama istrinya, Lily Kuslolita) yang akhirnya banyak mencetak para penyanyi wanita terkenal seperti Diana Nasution, Nia Daniati, Betharia Sonata, Hetty Koes Endang, Christine Panjaitan, Iis Sugianto, Nur Afni Octavia. Artis pria pertama Lolypop Records yang berhasil diorbitkan adalah penyanyi Edy Silitonga yang sempat melejit namanya dengan hit "Ayah."

Karier Rinto Harahap sebagai pencipta lagu-lagu pop sendu sejak pertengahan"70-an hingga "80-an akhirnya membawa dirinya ke puncak kesuksesan dan semakin melambungkan namanya di pentas musik Indonesia. Ia tercatat juga sebagai salah satu pencipta lagu paling produktif di Indonesia. Hingga akhir hayatnya Rinto Harahap telah mendaftarkan hak cipta dari 518 lagu karyanya kepada Karya Cipta Indonesia (KCI), sebuah lembaga manajemen royalti kolektif bagi pencipta lagu yang turut ia bidani kelahirannya dan sempat dipimpin olehnya dulu.

Kesuksesan pertamanya sebagai pencipta lagu ditorehkan pada akhir dekade "70-an saat merilis album Benci Tapi Rindu dari penyanyi Diana Nasution. Album bermuatan 16 lagu (tidak semuanya dinyanyikan oleh Diana) tersebut laris terjual sebanyak 400.000 kaset, tentunya berkat meledaknya single "Benci Tapi Rindu." Uniknya, awalnya Diana Nasution yang sebelumnya terkenal sebagai penyanyi "macan festival" sempat menolak tawaran Rinto untuk menyanyikan lagu tersebut.

"Lagu yang disodorkan Rinto selalu memelas, padahal saya lebih senang lagu yang gembira," kata Diana Nasution seperti dikutip dari buku Perjalanan Musik di Indonesia (1983).

"Benci Tapi Rindu" bahkan juga sempat menjadi hit di negeri seberang saat dinyanyikan dan direkam ulang dalam bahasa Tagalog oleh penyanyi Filipina, Victor Wood dan judulnya berubah menjadi "Inibig Ko"y Nakatalina."

Selain Diana, kesuksesan karier penyanyi Nia Daniaty juga terwujud berkat sentuhan tangan dingin Rinto Harahap. Berkat single "Kaulah Segalanya" yang rilis pada 1981 album berjudul sama dari Nia Daniaty tersebut laris terjual hingga 500.000 kaset. Kerjasama diantara keduanya terus berlanjut sepanjang dekade "80-an, setidaknya dari delapan album rilisan Nia Daniaty ada empat yang memuat karya milik Rinto Harahap.

Betharia Sonata adalah nama artis pop berikutnya yang di awal kariernya juga berutang besar pada Rinto Harahap. Hampir semua lagu yang dinyanyikan olehnya dan menjadi hits diciptakan oleh Rinto (kecuali tentu hit terbesarnya "Hati Yang Luka" oleh Obbie Mesakh), misalnya "Kau Tercipta Untukku," "Kau Untuk Siapa," "Aku Tak Ingin Sandiwara," dan "Aku Ingin Cinta Yang Nyata". Berkat kesuksesannya tersebut Musica"s Studio sebagai label rekamannya pada 1984 mengganjarnya dengan penghargaan empat Golden Records.

Hit berjudul "Bunga Sedap Malam" milik Rinto yang dinyanyikan oleh Iis Sugianto akhirnya melejitkan namanya ke jajaran penyanyi paling terkenal pada saat itu. Hanya dalam waktu tiga minggu saja album Iis yang memuat single tersebut ludes terjual lebih dari 300.000 kaset dan membuatnya diganjar tiga piringan emas. Selain itu hit terbesar Iis Sugianto yang dirilis pada 1979 dan berjudul "Jangan Sakiti Hatinya" juga merupakan karya cipta Rinto Harahap.

Saking banyaknya penyanyi yang diciptakan lagu olehnya melejit menjadi hit membuat Rinto menjadi salah satu songwriter paling diburu produser rekaman pada saat itu. Apapun yang diciptakan Rinto niscaya bergaransi kesuksesan. Kesederhanaan dan kenyataan hidup sehari-hari adalah kunci karya-karyanya.

Memang karakter lagu-lagu ciptaan Rinto mayoritas menggunakan struktur dan melodi yang sederhana. Bahkan salah satu signature-nya adalah kehadiran lead guitar bergaya rock dari Atauw hampir di seluruh lagu-lagunya. Lirik-lirik lagu Rinto yang kebanyakan bercerita seputar patah hati, sakit hati, penderitaan, hingga penghianatan cinta ternyata banyak disukai masyarakat karena berhubungan langsung dengan iklim hati para pendengarnya dan menjadi soundtrack kehidupan mereka sehari-hari.

Menurut catatan wartawan musik senior Hans Miller, formula Rinto dalam menciptakan lagu ternyata "meniru dari seseorang." Orang tersebut tak lain adalah sahabatnya sendiri, rekan sebandnya di The Mercy"s dulu, Charles Hutagalung. "Karya cipta sahabatnya itu sangat lugas, sederhana, mudah dicerna bahkan diikuti orang," tulis Miller yang mengutip pengakuan Rinto Harahap kepadanya pada suatu ketika.

Honor Rinto Harahap untuk menciptakan sebuah lagu pada tahun 1980, menurut laporan surat kabar Sinar Harapan, berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 750 ribu. Tentunya ini merupakan angka yang besar mengingat kurs 1 dollar AS saat itu setara dengan Rp 625. Berkat kesuksesannya sebagai pencipta lagu sekaligus penyanyi, Rinto Harahap pada Maret 1982 kemudian diberi penghargaan Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang ketika itu dipimpin oleh Menteri Daoed Joesoef.

Pada awal dekade "80-an musik pop Indonesia jarang ditampilkan secara live di atas panggung, artis-artisnya pun kebanyakan hanya tampil di TVRI untuk mempromosikan album mereka. Tujuannya tentu saja untuk menggenjot angka penjualan kaset, karena dari sinilah sumber pendapatan utama artis pop pada saat itu. Para promotor muda di daerah pun tidak tertarik untuk mengundang artis pop tampil dan lebih senang membawa artis jazz atau band rock yang aksi panggungnya jauh lebih memikat dan sensasional.

Agar keluar dari kemandekan manggung, Rinto Harahap bersama Lolypop Records pada 1984 membuat gebrakan dengan menggelar tur konser keliling berbagai kota di Sumatera guna mempromosikan para penyanyi yang berada di bawah label miliknya. Mereka yang ikut touring antara lain Betharia Sonata, Christine Panjaitan, Iis Sugianto, Nur Afni Oktavia, Hetty Koes Endang hingga Nia Daniaty. Kota-kota yang disinggahi mulai dari Lampung, Palembang, Jambi, Padang, Paya Kumbuh, Padang Sidempuan, Rantau Prapat, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Langsa, Loksheumawe hingga Medan.

Selain sibuk menggelar tur konser roster Lolypop Records, Rinto Harahap pada dekade 80-an juga dikenal sebagai koordinator acara untuk program musik populer Selecta Pop di TVRI. Acara yang konsepnya terinspirasi dari program American Top 40 ini memilih dan menampilkan lagu-lagu yang digemari masyarakat.

Jika American Top 40 memilih lagu berdasarkan tangga lagu Billboard 100 maka Rinto dengan Selecta Pop memilihnya berdasarkan daftar tangga lagu keluaran radio-radio swasta atau surat kabar Suara Pembaruan. Selecta Pop yang pertama kali tayang pada 1984 di TVRI pertama kali digagas oleh Erwin Harahap, kakak Rinto, yang kebetulan saat itu juga menjabat sebagai Ketua ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia).

Booming musik pop sendu (cengeng) di Indonesia pada paruh kedua dekade "80-an diluar dugaan ternyata membuat risau pemerintah Orde Baru. Serangan terbuka kepada jenis musik ini dilontarkan secara lantang oleh Menteri Penerangan Harmoko saat memberikan sambutan di pesta perayaan ulang tahun ke-26 Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada 24 Agustus 1988.

"Dalam upaya menumbuhkan semangat kerja yang jalin-menjalin dengan disiplin nasional, tidak akan berhasil apabila mata acara TVRI banyak diwarnai dengan lagu yang berkisar ratapan patah semangat, berselera rendah, keretakan rumah tangga, atau hal-hal cengeng. Padahal apa yang digambarkan itu bukanlah kenyataan di tengah masyarakat. Karena dalam keadaan patah semangat dan cengeng, sulit mengajak orang untuk bekerja keras," ujar Harmoko saat itu.

Sambutan yang juga disiarkan secara langsung oleh TVRI (satu-satunya stasiun televisi yang ada saat itu) tidak hanya membuat para pelaku industri musik yang hadir di studio terkejut, melainkan juga ramai menjadi polemik dan pemberitaan di berbagai media massa nasional. Topik lagu cengeng pun menjadi buah bibir dari Sabang sampai Merauke.

Pidato Harmoko memang tidak menyebutkan seperti apa definisi lagu cengeng dan apa saja yang termasuk lagu cengeng tersebut, namun yang pasti pidato kontroversial ini berujung dicekalnya lagu-lagu pop tersebut di TVRI untuk beberapa waktu lamanya.

Walau tidak disebut namanya oleh Harmoko, namun Rinto Harahap yang saat itu tengah berada di puncak kariernya merasa tersentil dengan komentar miring tadi. Terbukti saat diwawancara majalah Tempo, ia "menyerang" balik tudingan Harmoko.

"Kalau alasan memang untuk menyetopnya karena dianggap berselera rendah dan merendahkan akhlak bangsa itu sangat kontras dengan apa yang terjadi," ujar Rinto yang kemudian juga mencontohkan lagu dangdut "Gubug Derita" yang dinyayikan oleh Meggy Z juga memiliki semangat yang sama. "Mendengar lagu itu, orang-orang malah tak ada yang menangis, tapi berjoget," imbuhnya lagi.

Dicekalnya lagu-lagu pop cengeng dari TVRI saat itu akhirnya bagai membuka jalan bagi tren musik berikutnya di Tanah Air. Gaya musik yang disebut "pop kreatif" ala KLa Project dan Fariz RM semakin disukai. Begitu pula dari gerbong rock, Slank yang merilis album debut Suit..Suit..Hehe (Gadis Sexy), Iwan Fals dengan album dari kelompok Swami dan Kantata Takwa, serta berbagai rilisan cadas (termasuk album Semut Hitam dari Godbless yang dirilis pada 1988 dan laku lebih dari 400 ribu kaset) dari produser slebor asal Surabaya, Log Zhelebour, sukses menyita perhatian anak-anak muda yang memang merupakan pasar paling potensial pembeli kaset.

Akhirnya memasuki awal dekade "90-an nama Rinto Harahap perlahan mulai meredup. Ia sempat beralih ke bidang bisnis dengan menjadi direktur utama PT STAR (Sira Tama Agra Raya) yang dimiliki oleh puteri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana. Selain itu Rinto juga belakangan lebih banyak aktif di balik layar dengan menjadi Ketua Umum YKCI (Yayasan Karya Cipta Indonesia) sejak tahun "90-an hingga akhirnya ia digantikan pada 2007 oleh Munif Bahasuan karena sempat terserang stroke pada 2004.

Guna mengenang kebesaran karya-karyanya, pada November 2010 label rekaman Sony BMG Music Indonesia merilis album kompilasi yang memuat 14 lagu terbaik ciptaan Rinto Harahap yang dinyanyikan berbagai artis; mulai dari The Changcuters, Duo Maia, Ello, Rio Febrian, Pinkan Mambo, Pasto, Yovie & Nuno, Andy /rif hingga puteri kandungnya, Astrid Harahap.

Album bertajuk The Masterpiece of Rinto Harahap ini diaransemen ulang oleh gitaris jazz andal, Tohpati. Rencananya, seusai diluncurkannya akan digelar konser besar di Jakarta yang menampilkan para artis tadi menyanyikan secara live lagu-lagu Rinto di album tersebut, namun sayangnya rencana ini gagal terwujud hingga akhirnya mantan Ketua ASIRI ini menghembuskan nafas terakhirnya di Negeri Singa.

Selamat jalan, Rinto Harahap.

Editor's Pick

Add a Comment