Blog: Satu Lagi Daftar Album Indonesia Terbaik 2014

Ada sepuluh karya yang terpilih.

Oleh

Eits, tunggu dulu. Walau Januari 2015 sudah setengah jalan, jangan pernah berpikir bahwa tulisan model daftar-album-terbaik regional Indonesia tahun 2014 sudah terkuras habis.

Majalah tempat saya bekerja memang sudah merilis daftarnya sebagai kisah utama untuk edisi Januari 2015, namun tidak ada salahnya bila daftar personal ini juga disebarluaskan. Siapa tahu bisa menjadi referensi alternatif dalam mendengar album.

Salah satu poin penting yang bisa diambil dari geliat musik Indonesia 2014 adalah keberagamannya yang semakin menjadi; tidak hanya untuk urusan jenis musik, tetapi juga dalam hal format perilisan. Cakram padat memang masih mendominasi, namun dikuntit kaset dan piringan hitam.

Perayaan Record Store Day pada April 2014 dan Cassette Store Day pada September 2014 berlangsung meriah. Ada beberapa label rekaman yang memanfaatkan tiga format rilisan berbeda, tetapi bermunculan pula label rekaman butik yang menspesialisasikan diri kepada satu format tertentu.

Namun daftar ini soal karya, bukan industri. Tak sedikit album bagus yang tercipta dan kemudian dipasarkan; banyak pula yang jelek namun tiada manfaat dibicarakan di sini.

Tanpa berlama-lama, berikut adalah sepuluh karya yang saya pilih untuk tercantum dalam daftar ini; satu lagi daftar album Indonesia terbaik untuk tahun 2014:

10. Somnyfera – Paralyensomnyvm!!xx

Album ini dibuka dengan nyaris dua menit kebisingan yang menderu-deru—tanpa melodi, tanpa irama. Awas, ini jebakan, karena apa yang tersimpan pada album penuh perdana kuartet rock alternatif asal Bandung ini adalah ragam melodi dan ragam irama dengan kemampuan bermain musik mumpuni dari para personel yang eksentrik. "Kuylsuara!!xx"—setiap judul lagu Somnyfera ditutup dengan dua tanda seru dan dua huruf X kecil—malah mengandung dream pop gaya Mew namun dengan tempo yang lebih intens. "Benci Rasa Stroberi!!xx" merupakan lagu lugas a la Dinosaur Jr. yang seolah minta dimainkan berulang kali akibat kerenyahannya. Sementara itu, gaya bernyanyi vokalis sekaligus gitaris Dika terkadang melayangkan pikiran kepada Billy Corgan, terutama pada "Hydupsury!!xx" yang melodius. Tak bisa dipungkiri bahwa cara Somnyfera menulis tajuk album dan judul lagu dapat membuat mereka dituduh sebagai band yang tidak serius. Namun coba dengarkan karya mereka terlebih dahulu, niscaya candu akan melanda.

9. Seaside – Undone

Dikarenakan tanggal perilisan yang jatuh pada akhir 2013, album ini nyaris tidak masuk ke dalam daftar. Namun berhubung pengulasannya baru saya lakukan pada 2014, maka tak mengapalah. Toh album ini menampilkan contoh tepat menjadi sebuah band revivalist, dalam kasus Seaside: meleburkan karakter roster Sarah Records dengan warna musik dari artis-artis Creation Records. Gitaris Andi Sabarudin dkk. menunjukkan kecermatan mereka dalam menyeleksi unsur musik macam apa saja yang pantas untuk diolah ke materi-materi Seaside. Siapa yang bisa menduga kalau lagu sedingin "Giggle and Blush" ternyata memuat permainan gitar rock & roll pada bagian tengah. Perhatikan pula bagaimana kuintet ini menjahit rapi "Red Lanterns"—bayangkan My Bloody Valentine versi groovy—dengan "Dimensions" yang instrumental. "Dreaming" dan "Wrong to Keep" juga layak mendapat sorotan karena melankolia mengawang tipe Slowdive. Wajah Hope Sandoval kemudian terbayang pada lagu "A Blue Star" yang gelap, di mana Stacy Rashid—sayangnya kini berstatus mantan personel—memilih untuk berucap kata dibanding bernyanyi. Namun salah satu hal terpenting dalam album ini adalah bagaimana segala keputusan kreatif—mulai dari penyambungan lagu hingga spoken word—terasa dihadirkan dengan alasan kuat, bukan kebutuhan modis belaka.

8. Theory of Discoustic – Alkisah

Walau terdapat sentuhan unsur musik kontemporer, tradisi budaya Sulawesi Selatan lah yang menyeruak dari album mini kedua grup musik folk-Melayu asal Makassar ini. Theory of Discoustic lihai dalam mendaur ulang bahan dasar yang menjadikan musik lampau terus bertahan sampai sekarang, memadukannya dengan elemen post-rock yang bergaya menanjak; membuat lagu-lagu mereka sendiri segar didengar untuk masa sekarang dan bahkan masa depan. Belum lagi lirik yang bisa saja ditunjuk lembaga pemerintahan untuk menjadi warisan budaya terkini. Vokal Dian Megawati memang tidak menggebu-gebu, malah terkesan polos seperti suara anak-anak, namun ada keteguhan sekaligus keteduhan yang tak berujung dari lantunannya; seperti saat ia menyanyikan "Alam raya berlimpah/Bukan sebuah lengkara" pada lagu "Lengkara". Betapa cantiknya kearifan lokal yang satu ini.

7. Black Mustangs – Black Mustangs

Enam lagu dalam album ini sudah direkam sejak 2010 silam. Setelah bertahun-tahun dibiarkan mengambang di dunia maya—terdapat tautan Mediafire dan YouTube yang diketahui segelintir orang saja—akhirnya sekumpulan materi ini dirilis oleh Anoa Records dalam bentuk fisik, tepatnya kaset. Dapat didengar ketertarikan para personelnya terhadap jenis musik yang berkisar antara neo-psikedelia dan shoegaze; cocok didengar 0leh para penggemar Black Rebel Motorcycle Club, The Brian Jonestown Massacre dan juga Ride. Keterlibatan Joseph Saryuf sebagai peramu rekam dapat dianggap sebagai garansi mutu untuk urusan audio. Sayangnya, ini merupakan warisan pertama sekaligus terakhir dari Black Mustangs. Kini mereka sudah bubar, dan tiga personelnya berkeputusan membentuk unit hardtech bernama Sunmantra.

6. Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku

Album ini istimewa karena mampu menunjukkan perkembangan musik Dialog Dini Hari asal Bali tanpa harus menghilangkan kesederhanaan yang bersinar sejak rilisan perdana, Beranda Taman Hati. Suci dari tendensi untuk menjadikan segalanya serba lebih, sehingga meningkatkan efektivitas terciptanya karya-karya berkualitas; sebuah metode yang patut dicontoh. Ada pula kehadiran bintang tamu yang terdiri dari Ricky Surya Virgana selaku bassist White Shoes and the Couples Company, Aray Daulay dari Ray D"Sky dan Kartika Jahja. Lagu seperti "360 Batu" dan single berjudul sama dengan tajuk album menunjukkan bahwa Tentang Rumahku memiliki muatan yang sejuk, ampuh menyingkirkan noda hati. Album ini mengukuhkan Dialog Dini Hari sebagai salah satu aksi folk terbaik tanah air saat ini.

5. Vague – Footsteps

Revolusi musim panas di Washington, D.C. yang terjadi pada dekade "80-an kerap kali muncul pada tulisan-tulisan soal Vague. Jelas memang, dapat didengar pengaruh Rites of Spring hingga Husker Du dari musik mereka. Namun apa yang membuat Footsteps begitu berkesan adalah hadirnya pengaruh indie rock dan atau shoegaze yang ditopang oleh eksperimentasi gitar berlapis dari vokalis sekaligus gitaris Yudhistira (bukan tidak mungkin, di masa mendatang ia akan menjadi guitar hero dalam negeri berstatus underrated, layaknya J. Mascis di luar sana). Peleburan tersebut menjadikan album ini sebagai eksibisi keterampilan Yudhistira bersama bassist Gary Hostage dan drummer Januar Kristianto dalam mengaransemen lagu dan membawakannya secara harmonis.

4. Rully Shabara & Soni Irawan – Seroja

Seroja adalah kejutan yang menyenangkan. Tak pernah terpikir bahwa kolaborasi Rully Shabara—vokalis Zoo dan Senyawa yang rajin bereksperimen dengan olah vokal—dengan Soni Irawan—gitaris Seek Six Sick, salah satu band penting dalam kancah musik rock eksperimental Tanah Air—justru menghasilkan sekumpulan lagu yang sederhana dan bahkan cenderung pop; setidaknya untuk standar mereka berdua. Simak "Mereda Merekah" yang memadukan genjrengan gitar renyah dengan vokal bariton yang menyanyikan lirik sederhana "Mereda, hujan kini mereda/Meredam gelisah kebimbangan/Merekah, semangat pun merekah/Tenggelam lah duka dan derita." Muncul juga psikedelia ketimuran pada lagu "(Melayang) Tanpa Tinggalkan Tanah" serta "Hanya Dunia" di mana Rully menggunakan teknik vokal kerongkongan. Bila sebelumnya Rully dan Soni memiliki kecenderungan untuk menghasilkan materi cenderung bising, kini mereka berupaya menjadi indah; dan berhasil.

3. Morgue Vanguard x still – Fateh

Tanpa basa-basi, album kolaborasi ini dibuka dengan rekaman suara beberapa pewarta yang melaporkan sejumlah aksi biadab aparat dalam menyerang petani di berbagai daerah Indonesia. Beat dari still—turnatablist yang sempat memperkuat Dalek asal New Jersey, AS—masuk kemudian, bertindak sebagai irama muram bagi suara huru-hara yang menjadi latar; terselip pula bunyi letupan pistol. Mencekam. Lalu "Fateh"—bahasa Arab untuk "penakluk"—mengikuti dengan penuh percaya diri, mengantar teror dalam wujud granat rima untuk imperialis ("Kami adalah generasi yang akan merobek langit dengan pekik di angkasa/Satu generasi yang tak akan pernah lagi memberi hormat kepada Sang Saka"). Morgue Vanguard begitu berapi-api sekaligus cermat di sepanjang album, seperti bagaimana ia membuat "teknokrat" berima dengan "Kubark" pada lagu "Maunfaktur Pre-Teks". Fateh adalah potret generasi akhir zaman yang kusam, ditangkap dengan hasrat yang berkobar terang. Sebarkan.

2. Future Collective – #1: Ensemble Instrumental de Musique Contemporaine

Terkadang, jika bukan selalu, sebuah pembaruan membutuhkan dukungan dari unsur-unsur yang sudah lebih dulu ada. Inilah yang dilakukan oleh duo Tida Wilson dan Sawi Lieu—keduanya nama panggung—dari Future Collective lewat enam belas pop instrumentalia atau lounge atau space-age yang terkumpul dalam album perdana #1. Mereka meminjam futurisme yang optimistis dari dekade "60-an, serta terkadang irama motorik a la krautrock selaku musik kontrabudaya asal Jerman, guna menawarkan kesegaran musikal yang berpotensi terus mendapatkan penggemar baru seiring berjalannya waktu. Alhasil, ada keriuhan dari instrumentasi yang ditawarkan namun dengan fondasi pop renyah yang nyaman dikonsumsi telinga; padat namun minimalis. #1 adalah kelas master musik pop.

1. Aksan Sjuman and the Committee of the Fest – Realitas Khayal

"Musik abad ke-21," begitulah drummer Aksan Sjuman mendeskripsikan proyek musik terbarunya ini. Pernyataan tersebut bisa saja dianggap terlalu luas, terlalu berlebihan bagi pihak-pihak yang memperhatikan di permukaan saja, namun kenyataannya Realitas Khayal memang seluas itu, seluar biasa itu. Komposisi pada album ini warna-warni, mulai dari "Death of a Prophet" yang memiliki riff jahat, "Hungry" yang free jazz a la Bitches Brew-nya Miles Davis hingga "Candu Cinta" yang usil dan progresif seakan King Crimson terlalu banyak mengonsumsi jamur ajaib. Keberagaman musik ini berpotensi dituduh nirkonsep bagi eksternal, tapi toh pihak band tak akan peduli. Karena bagi mereka, seperti dapat didengar lewat lagu-lagu dalam album ini, kebebasan adalah kunci; termasuk urusan interpretasi.

Editor's Pick

Add a Comment