Soundwaves: @andienaisyah: Album Ini adalah Saya

“Andien: magma baru di dunia jazz Indonesia,” demikian kira-kira judul yang selalu tertera di hampir setiap media pada tahun 2000. Hampir 15 tahun yang lalu, saya masih ingat sekali bagaimana saya bersikeras ke ayah saya, ingin membawakan lagu “My Funny Valentine” sebagai single pertama dari album perdana saya, Bisikan Hati.

Oleh
"Andien: magma baru di dunia jazz Indonesia," demikian kira-kira judul yang selalu tertera di hampir setiap media pada tahun 2000. Hampir 15 tahun yang lalu, saya masih ingat sekali bagaimana saya bersikeras ke ayah saya, ingin membawakan lagu "My Funny Valentine" sebagai single pertama dari album perdana saya, Bisikan Hati.

Keputusan yang dianggap aneh oleh banyak pihak, namun pada saat itu saya memang tidak pernah terpikir bahwa rekaman adalah untuk menghibur penonton, atau supaya pendengar suka dengan musik yang saya buat lalu membeli albumnya. Atau bahkan berpikir bahwa album tersebut akan menjadi gerbang karier musik saya yang akan datang, dan tentunya menjadi tumpuan dan harapan banyak orang. Pada saat itu, saya bernyanyi hanya karena saya suka bernyanyi.

Seiring perjalanan, banyak penghargaan saya raih, berbagai festival dan kesempatan tampil di luar negeri, pujian yang datang bersamaan dengan segala kritik dan penilaian orang. Lama-kelamaan saya mengerti bahwa we can"t please everybody. Yang saya lakukan dari album pertama hingga sekarang adalah tidak pernah berhenti bereksplorasi.

Pada Maret tahun ini, datang kesempatan dari Music Factory untuk bekerja sama. Timbul pikiran bahwa di tahun depan usia saya sudah menginjak 30 tahun. Saya ingin menunjukkan bahwa saya memiliki komitmen lebih dari apa yang pernah saya kerjakan sebelumnya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menjadi salah satu produser eksekutif di album ini.

Saya harus membuang ego untuk membuat lagu yang njelimet, menginginkan penyampaian lagu yang lebih sederhana dan lugas dengan tidak meninggalkan kualitas dan warna yang selama ini menjadi karakter saya.

Saya bersama Nikita Dompas dan Dovie Farrel selaku produser album ini kemudian menentukan lagu-lagu yang akan masuk ke dalam album. Kami memang ingin persentase lagu recycle lebih banyak dibanding lagu barunya. Ini merupakan tantangan bagi kami karena "membuat enak" sebuah lagu (bahkan sama enaknya dengan versi asli), bukan sesuatu yang mudah.

Yang pertama kami kerjakan adalah "Jadikanlah Aku Pacarmu", lagu Sheila On 7. Buat saya, mereka sangat ikonik. Setelah mengalami proses panjang, jadilah lagu "JAP" dengan sentuhan yang lebih "perempuan", tapi masih sama dinamisnya dengan versi SO7.

Kemudian "Satu Yang Tak Bisa Lepas" dari Reza. Kami bertiga melakukan semacam brainstorming dengan Harry Anggoman, mencoba bernyanyi secara live dan mendapatkan cara yang berbeda.

Setelah "JAP" dikerjakan, saya sempat meminta kembali pada Eross untuk dibuatkan sebuah lagu baru. Eross yang menikah dengan keponakan saya dan memanggil saya "Tante" sepertinya tidak enak untuk menolak. Ia mengirimkan lagu berjudul "Dan Di Radio". Ini adalah lagu favorit saya dan favorit banyak orang pula. Saya merasa bisa menyanyikan warna SO7 dengan kepribadian dan karakter saya, ditambah dengan warna Nina Tamam yang begitu khas di lagu ini.

Saya rasa orang yang juga tepat untuk di ajak bekerja sama dalam hal ini adalah Melly Goeslaw dan Anto Hoed. Mbak Melly bilang dia akan buatkan satu lagu balada, tapi selain itu dia akan buat satu lagu yang menurut dia tepat untuk dinyanyikan saya di album yang kali ini. Lalu jadilah lagu "Siapa" dan "Le It Be My Way".

Saya tidak biasa membawakan lagu se-playful ini. But I nailed it! Termasuk ketika mbak Melly menjelaskan bagaimana lagu "Siapa" ingin diinterpretasikan. Mbak Melly sempat memperdengarkan lagu Dian Pramana Poetra, dan bilang bahwa seperti inilah mood yang dia maksud. Everybody was so helpful and I did it!

Kalau ditanya siapa penyanyi Indonesia yang paling saya kagumi, jawaban saya tidak pernah berubah: Ruth Sahanaya. Saya ingin sekali membawakan lagu "Astaga" yang diaransemen oleh Nikita. Untuk itu, saya harus menemui James F. Sundah sebagai pencipta lagu. Hampir empat jam obrolan kami cukup membuat saya mengerti tentang latar belakang lagu "Astaga." It"s about anger, tentang kepedulian kaum muda. Alhamdulillah, om James dan mbak Uthe senang mendengarnya.

Saya rasa semesta sedang berpihak pada saya karena tidak disangka-sangka saya yang selama ini hanya bermimpi membuat cover lagu "Rindu Ini" mendapatkan izin langsung dari penciptanya, Anang Hermansyah. Saya menginterpretasi lagu itu bersama Nikita Dompas dan DJ Dipha Barus.

Ada pula lagu "Kasih Putih" ciptaan Yovie Widianto dari film Mantan Terindah, "Sempurnalah Cinta" alias duet dengan Marcell Siahaan dari film Merry Riana, serta lagu "Masih Bebas", recycle dari album saya sendiri pada tahun 2002.

Alhamdulillah, album ini akhirnya selesai. Semua kerja keras terbayar. Enam lagu di album ini digunakan juga untuk original soundtrack empat film yang berbeda. Ini pengalaman baru untuk saya, bahkan dalam dua bulan terakhir saya telah membuat empat video musik. Ternyata cara pemasaran dan menghadapi pasar semua telah berubah. Betapa beruntungnya saya masih diberi kesempatan untuk menghadapi serta belajar mengenai ini semua.

Sekarang saya sudah melaju selangkah, di benak saya masih ada 1000 langkah lagi untuk album ini serta berjuta langkah lagi untuk karier saya ke depan. Di album ini, saya mengajak para pendengar untuk tidak menganalisis, saya ingin mereka menikmati. Saya mengajak mereka untuk tidak menilai, saya ingin mereka bernyanyi bersama.
Album ini adalah saya. Let me do this in my own way! Let me be my way.


Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Dunkirk
  2. 12 Lagu Esensial Linkin Park
  3. Tonton Video Musik Single Terbaru Yacko, "Hands Off"
  4. Iko Uwais Bertarung Bersama Tony Jaa dan Tiger Chen di Film Terbaru, 'Triple Threat'
  5. Linkin Park Batalkan Tur Setelah Kematian Chester Bennington

Add a Comment