Lifetime Achievement ICEMA 2014: Dara Puspita (dan Kesetaraan Gender Bermusik)

Dara Puspita akhirnya menjadi perbincangan lagi. Setidaknya sebelumnya diantara para dewan juri tetap Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) 2014 yang terdiri atas Indra Ameng, David Tarigan, Bin Harlan, Eric Wirjanata, Sandra Asteria, Wendi Putranto dan saya sendiri.

Oleh
Dara Puspita akhirnya menjadi perbincangan lagi. Setidaknya sebelumnya diantara para dewan juri tetap Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) 2014 yang terdiri atas Indra Ameng, David Tarigan, Bin Harlan, Eric Wirjanata, Sandra Asteria, Wendi Putranto dan saya sendiri.

Jelang akhir penjurian ICEMA 2014, seperti di tahun-tahun sebelumnya kami mendapat tugas berat untuk memilih dan menentukan siapa sosok pemusik yang akan disematkan anugerah Lifetime Achievement ini. Kriterianya mencakup gagasan dan konsep bermusik serta pengaruh musik yang mereka ciptakan dan mainkan pada generasi di zamannya maupun generasi di era-era sesudahnya. Sebelumnya Lifetime Achievement ICEMA 2010 disematkan kepada Fariz RM, Lifetime Achievement 2012 diberikan kepada Harry Roesli.

Ada terobosan yang kuat dalam menebar karya-karya mereka. Dari elemen-elemen yang telah terpatri di benak kami, akhirnya tercetuslah sebuah nama band yang mulai menguak pada dasawarsa 60-an. Ini jelas masih era rejim Orde Lama yang tak memberi ruang terhadap pola bermusik anak muda yang bermuara pada aspek dan kredo kebebasan berekspresi.

Di zaman itu, dunia musik internasional telah bersimbah virus British Invasion di mana band-band populer yang berasal dari Britania Raya tengah menjadi idola dan acuan anak muda di seantero jagad termasuk Indonesia. Band-band seperti Dara Puspita yang menguntit pamor pendahulunya Koes Bersaudara juga tak berdaya menghadapi sensor pemerintahan Bung Karno yang anti ngak-ngik-ngok.

Ngak-ngik-ngok adalah idiom yang dilontarkan Bung Karno terhadap perilaku budaya populer dari negara-negara imperialis yang dikumandangkan lewat band-band atau pemusik bernafas rock "n roll mulai dari Elvis Presley, Bill Haley and His Comets dari Amerika Serikat hingga The Beatles dan The Rolling Stones dari Inggris.

Walaupun Dara Puspita tak sampai mendekam dalam penjara seperti halnya Koes Bersaudara yang digiring ke kursi tertuduh karena dianggap menyepelekan budaya Indonesia, kebarat-baratan tanpa kepribadian sama sekali, namun keempat gadis berambut poni yang terampil bermusik ini harus dicekal aparat dan diharuskan melakukan wajib lapor. Saat itu pemerintah dengan tegas tanpa tedeng aling-aling ingin membumihanguskan perilaku budaya Barat yang tercermin dalam musik populer.

Menariknya, Lies AR (gitar), Titiek AR (gitar), Susy Nander (drums) dan Titik Hamzah (bass) tak gentar. Mereka tetap konsisten dengan raungan musiknya yang direkam secara primitif di studio Irama milik Soejoso Karsono maupun Mesra Record milik Dick Tamimi. Jiwa rock 'n roll Dara Puspita terlihat jelas saat menghadapi kasus ngak-ngik-ngok ini. Keempat wanita ini tetap berperilaku mbalelo.

Harap diketahui bahwa pilihan keempat wanita asal Surabaya ini memilih membentuk band sebagai ekspresi berkesenian adalah hal yang sangat luarbiasa. Mengingat tata krama dan adat ketimuran yang masih dijunjung tinggi dalam masyarakat kita pada saat itu seolah menggariskan bahwa wanita tak pantas menggebuk perangkat drum, memetik dan meraungkan gitar elektrik maupun bass serta tampil energik, baik di bilik rekaman maupun pentas pertunjukan.

Kepeloporan Dara Puspita yang dalam hal ini bisa disebut pula sebagai bentuk kongkret kesetaraan gender, pada akhirnya menyemaikan tren bermunculannya banyak band wanita sesudahnya. Setelah pemunculan Dara Puspita yang fenomenal dengan kredo rock 'n roll yang kuat, muncullah sederet panjang band wanita yang seolah tak ingin kalah dengan band-band pria yang telah menuai puncak kejayaan.

Ada The Singers, The Beach Girls di akhir era 60-an. Lalu ada Pretty Sisters, Aria Junior, One Dee and The Ladyfaces, The Orchids, Anoas, Antique Clique, Ress Group, Partha Putri dan masih sederet panjang lagi di era 70-an hingga 80-an. Bahkan pada 1976 majalah kultur pop, Top, yang terbit di Jakarta pernah menggagas menyelenggarakan Festival Band Wanita pertama di Indonesia.

Festival ini hanya sempat diadakan sekali saja. Namun band-band wanita tetap deras bermunculan dan tumbuh berkembang di seluruh Indonesia. Jelas ini adalah pengaruh besar yang ditularkan oleh Dara Puspita, yang juga telah melakukan beberapa konser muhibah ke berbagai penjuru dunia, mulai dari wilayah Asia hingga Eropa. Dara Puspita pun sempat merilis beberapa single pada label rekaman Decca Records di Inggris.

Belakangan di era 80-an, banyak blog dalam dan luar negeri mulai mentahbiskan Dara Puspita sebagai band garage wanita pertama di Indonesia. Istilah garage band ini kemungkinan karena mereka menyimak kualitas rekaman Dara Puspita yang masih menggunakan teknologi primitif terdengar lebih mentah, apa adanya dan lugas.

Sara Schondhardt dalam The Wall Street Journal edisi 25 September 2014 menulis tentang sepak terjang Dara Puspita dengan tajuk Indonesia"s First All-Girl Rock Band Still Has The Power To Captive yang antara lain menyebut bahwa Dara Puspita adalah band wanita yang tampil dengan semangat berapi-api penuh daya dan gaya musik gugat. Schondhardt bahkan membandingkan Dara Puspita dengan Pussy Riot, band punk rock perempuan asal Rusia yang menawarkan aura feminisme.

Di mata mereka Dara Puspita adalah sebuah keajaiban dari negara ketiga yang tengah memulai kebangkitan. Ketakjuban mereka terlihat jelas ketika selama seminggu sejak 1 hingga 6 Oktober 2014 silam di Casa Luna, Ubud, Bali berlangsung pameran tentang Dara Puspita dengan tajuk Dara Puspita: The Greatest Girl Group That (N)ever Was yang digagas oleh Julien Poulson, orang Australia yang bermukim di Phnom Penh, Kamboja. Julien Poulson bahkan berencana ingin membuat album Tribute To Dara Puspita.

Terbetik pula kabar bahwa sebuah label rekaman asal Portugal bernama Groovie Records merilis album kompilasi hits Dara Puspita dalam format vinil secara ilegal. Album yang dirilis tanpa izin dari Dara Puspita ini ternyata mendapat sambutan hangat di mancanegara.

Di Detroit, Michigan, AS, ada seorang disc jockey yang kerap memutarkan piringan hitam Dara Puspita dihadapan para pengunjung bar. Merekap pun larut dalam hits Dara Puspita "Marilah Kemari" yang ditulis Titiek Puspa.

Empat tahun sebelumnya Alan Bishop, pemilik label rekaman Sublime Frequencies yang berada di Seattle, AS merilis ulang secara resmi kumpulan hits Dara Puspita (1966 -1968). Album yang berisikan 26 lagu itu bahkan masuk dalam 25 Favorite World Compilations of 2010 yang dipilih situs musik terbesar dan berwibawa, All Music Guide.
Di Australia sendiri muncul sebuah tribute band yang khusus membawakan repertoar Dara Puspita. Band yang bernama 45 ini beberapa waktu lalu menggelar konser di Jakarta.

Fakta-fakta ini jelas menunjukkan bahwa Dara Puspita merupakan salah satu pilar bersejarah dalam konstelasi musik populer di Indonesia. Dara Puspita walaupun tak menyuarakan ekspresi politiknya dalam bermusik, tapi dari ragam musik yang mereka mainkan, ekspresi bermusik serta fashion yang mereka kenakan menyiratkan bahwa Dara Puspita bersikap seperti halnya kredo pemusik rock 'n roll: anti kemapanan.

Sayangnya, perilaku budaya pop yakni musik serapan – rock 'n roll dengan rasa Indonesia, yang pernah dimunculkan Dara Puspita pada zamannya seperti raib begitu saja ditelan waktu.

Bisa dihitung dengan jari penikmat musik sekarang yang mengenal Dara Puspita. Ketika masyarakat internasional menggunjingkan dan memberikan apresiasi setinggi langit pada Dara Puspita, kita sendiri malah tak tahu menahu dengan keberadaan dan jati diri Dara Puspita. Ironis.

Anugerah Lifetime Achievement yang diterima Dara Puspita dari Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) 2014, menurut saya merupakan momentum yang tepat untuk menggali lagi khazanah musik Indonesia yang menginspirasi dari era-era sebelumnya. Sudah saatnya generasi sekarang mengetahui dengan pasti jejak-jejak musik para pendahulunya.


Editor's Pick

Add a Comment