Vokalis Sheila On 7: 'Buat Apa Major Label, Lebih Baik Indie'

Lebih dari tiga tahun setelah merilis album Berlayar, Sheila On 7 akan segera hadir kembali dengan Musim Yang Baik. Album studio ke-8 dari Akhdiyat Duta Modjo (vokal), Eross Candra (gitar), Adam Muhammad Subarkah (bass), dan Brian Kresno Putro (drum) ini jika sesuai rencana akan dirilis pada minggu kedua Desember mendatang.

Oleh
Lebih dari tiga tahun setelah merilis album Berlayar, Sheila On 7 akan segera hadir kembali dengan Musim Yang Baik. Album studio ke-8 dari Akhdiyat Duta Modjo (vokal), Eross Candra (gitar), Adam Muhammad Subarkah (bass), dan Brian Kresno Putro (drum) ini jika sesuai rencana akan dirilis pada minggu kedua Desember mendatang.

Album yang memajang single seperti "Lapang Dada" (pertama kali diputar di berbagai stasiun radio seluruh Indonesia hari ini), "Musim Yang Baik", juga "Canggung" ini juga akan menjadi penutup kerjasama yang sudah terjalin selama 16 tahun dengan label rekaman mereka, Sony Music Entertainment Indonesia.

Selama kurun waktu tersebut, band bentukan tahun 1996 ini telah menelurkan album Sheila On 7 (1999), Kisah Klasik Untuk Masa Depan (2000), 07 Des (2002), Pejantan Tangguh (2004), 507 (2006), Menentukan Arah (2008), hingga Berlayar (2011). Selain itu juga mereka menggarap album OST. 30 Hari Mencari Cinta (2003), serta sebuah album terbaik berjudul The Very Best of Sheila On 7: Jalan Terus (2005). Setelahnya nanti mereka telah memutuskan untuk kembali bermusik via jalur independen.

Rolling Stone berkesempatan berbincang dengan vokalis Akhdiyat Duta Modjo pada Senin (3/11) lalu di markas duta besar Yogyakarta untuk musik pop Indonesia ini di daerah Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. Kepada Rolling Stone, Duta mengungkapkan tentang karakter album terbaru yang disebutnya sebagai "Red Hot Chili Peppers versi pop", konsep album tribute yang ideal, sosok Jan Djuhana, hingga pandangannya tentang konsep indie.

Kapan kepastian tanggal rilis album Musim Yang Baik?
Kalau single memang bulan ini. Tweet dari label sudah mulai ada countdown. Kita lihat saja bener nggak keluar. Untuk single-nya judulnya "Lapang Dada". Album keluar di minggu kedua Desember. So far Sheila On 7 menunggu aja. Sampai detik ini apa yang mereka lakukan sudah sesuai sama obrolan terakhir. Jadwal promo bulan depan juga sudah diobrolin. Kami tinggal menunggu realisasi karena timeline-nya sudah ada. Rencana single ini pakai video lyric dulu.

"Canggung" atau "Musim Yang Baik" sudah sering dimainkan kalian di konser?
"Canggung" dan "Musim Yang Baik" awalnya anak-anak pengen coba bawain live. Ternyata boleh juga nih jadi single. Memang kemarin-kemarin masih trial and error. Sosialisasi sih harusnya sudah karena untuk materi dari dua tahun yang lalu demonya udah siap. Memang ada kendala-kendala non teknis antara kita dan label yang komunikasinya nggak lancar sehingga materi yang sudah siap nggak bisa direalisasikan secara berkelanjutan dalam waktu yang nggak terlalu lama.

Gambaran Musim Yang Baik akan seperti apa musiknya?
Di album ke-8 kami berusaha berkacamata bukan dari Sheila On 7 seperti biasanya. Diihat dari segi rekaman, teknis recording-nya kalau Eross bilang seperti basic track. Tapi kami lebih senang menyebutnya Red Hot Chili Peppers versi pop (tertawa). Ini effort Sheila On 7. Kami belum bisa kolaborasi sama orang tapi kami bisa keluarin atribut bahwa kami berpikir dari perspektif lain. Untuk band yang sudah delapan album itu sesuatu yang halal buat dilakukan. Next chapter buat band.

Tapi soal mencoba sesuatu yang baru juga pernah dilakukan di album Pejantan Tangguh...
Kalo Pejantan Tangguh lebih ke musisi yang bisa mengapresiasi itu. Dalam artian Sheila On 7 ternyata bisa melakukan itu. Kalo ini lebih muluk lagi impiannya. Saat nanti berkolaborasi, orang nggak akan berpikir, "Wah iki Sheila on 7 to ta darani udu (Wah ini Sheila On 7, saya kira bukan)." Tapi berpikirnya ini memang band all around yang roots-nya pop tapi mainin musik kayak gini atau yang begini juga enak.

Jadi Musim Yang Baik hanya tinggal menunggu waktu rilis saja?
Semuanya sudah siap, tinggal keluar. Materi siap, artwork sudah siap. Oh ya, untuk artwork album ini yang membuat seniman Yogya idola saya, Farid Stevy Asta. Jadi collectible item untuk anak-anak SMA dan kuliah untuk dateng terus ke show Sheila On 7 sekarang. Mereka udah baik sama Sheila On 7 karena mereka dateng terus. Event pensi kampus dan sekolah nggak terbendung dalam lima tahun terakhir. Padahal dalam lima tahun kan baru keluar satu album (tertawa). Ya, ini buat bayar kepercayaan mereka lah sudah mau support dan denger obrolan dari beberapa tahun lalu tentang album baru.

Eross saat diwawancara Dochi Sadega di rubrik Crossover bilang ada perubahan di label, aspek apa saja yang Sheila on 7 rasakan sudah tidak sama lagi ?
Dari dua tahun lalu di label banyak transisi. Dimulai dari Pak Jan (Jan Djuhana, produser yang menemukan mereka). Kami ngomongin album baru nggak sama pak Jan lagi tapi dengan managing director yang baru, Pak Totok (Toto Widjojo). Terus Pak Totok keluar juga. Akhirnya ya udah ngobrol setengah harus mulai dari nol lagi. Itu salah satu faktor yang kelihatan. Kalo yang nggak kelihatan saya juga nggak tahu dari label pertimbangannya seperti apa yang membuat ini nggak bisa keluar, meski semua yang mereka lakukan dan pikirin nggak bikin bandnya juga seneng. Banyak friksi-friksi lah sampai akhirnya kita ketemu tanggal ini. Melelahkan sih memikirkan album ini. Mikirin perjalanannya. Kalau kejadian ini karena kami belum siap ya kami nggak mau nyalahin siapa-siapa. Yang bikin capek karena materi udah siap dari lama.

Album Anugerah Terindah Dari Sheila On 7 juga jadi salah satu hal yang membuat jadwal rilis album jadi terhambat?
Itu, iyalah.

Sampai ada kekecewaan yang Anda sampaikan terbuka di akun Twitter Anda?
Yang dikecewakan oleh anak-anak karena obrolan kami sama label dari awal tentang album ke-8 Sheila On 7. Udah hampir dua tahunan ternyata mereka malah memproduksi sesuatu di luar apa yang dibicarakan. Kalau album itu keluar setelah album Sheila On 7 keluar ya gak masalah juga. Album itu dirilis dengan waktu, nama, dan cara distribusi yang tanpa persetujuan bandnya. Sheila On 7 kesel ya kesel, jengkel ya jengkel, tapi kalo masalahin itu nanti albumnya nggak keluar-keluar. Kami pengen ngayem-ngayemi (menenangkan) band dan fansnya. Itu tanggung jawab kami. Kami pun juga sama nggak sabarnya karena tanggungan pekerjaan udah kami selesaikan.

Ada penilaian dari Anda sendiri tentang materi album tersebut?
Ya, kalau kami ditanya tentang album itu jelas kami nggak mau jawab, karena album itu keluar tanpa persetujuan Sheila On 7. Bagi musisi yang mengisi, saya respek. Mereka mau perform, menyempatkan diri recording untuk lagu Sheila On 7 itu sebuah penghormatan. Makanya kami lebih setuju judulnya bukan Anugerah Terindah Dari Sheila On 7 karena itu bukan Sheila On 7 yang bikin. Ada lagu-lagu back catalogue yang dulu-dulu itu kepepet aja. Sesuatu hal yang sangat maksain. Ada album tribute tapi ada back catalogue-nya. Saya nggak mau menuding, yang jelas realitanya seperti itu. Bahwa itu sama sekali bukan anugerah terindah dari Sheila On 7 karena itu bukan Sheila On 7.

Untuk pemilihan musisi pendukung ada komentar?
Konteksnya kan bukan kami sendiri yang cari orang, seperti di album Kolaborasoe Endank Soekamti. Ini kan pure dari label. Saya nggak tahu mekanismenya mereka milih musisi yang ada di album itu. Aku juga nggak ada request khusus.

Kalau konsep album tribute yang ideal menurut Sheila On 7 seperti apa?
Ya, itu udah bener ada yang dihubungi untuk bawain lagu Sheila On 7. Buat saya itu sebenernya udah cukup. Sekarang di album itu tribute-nya ada lima, ya cari sepuluh orang lah kalo niat bikin album tribute. Itu udah cukup bagus kok kalo emang konsepnya tribute. Dan aku lebih senang judulnya Tribute to Sheila On 7 saja. Walaupun secara waktu rilis jelas aku kurang senang karena nggak pernah ada obrolan tentang itu. Kami udah obrolin jauh-jauh tentang album. Dari demo siap, lirik udah siap, segala macem udah siap tiba-tiba keluar album yang kami nggak tahu omongannya apa.

Dari segi waktu ya kami nggak senang karena harusnya album Sheila On 7 keluar lebih cepat. Tapi kalau waktu itu seandainya judulnya "Tribute..." tadi kami akan berusaha ambil segi positifnya. Jadi bridging untuk nge-refresh orang-orang di luar sana. Ada musisi yang dengan segala respek mereka mau ngisi album tribute itu. Ini kan sudah waktu rilisnya menyela album keluar, lalu judul albumnya pun seperti itu. Album The Very Best of Sheila On 7 juga belum terlalu lama. Untuk bikin album the best lagi belum seharusnya lah.

Sudah ada solusi yang diberikan label untuk hal ini?
Sheila On 7 pada akhirnya setelah obrolan tentang album berkembang lagi nggak mau terlalu mempermasalahkan itu lagi, kecuali kalo obrolan tentang album masih mandeg (berhenti). Kalo kami ngebahas kenapa mereka memperlakukan ini, hal itu lebih ke hubungan Sheila On 7 dengan label tapi nggak ada pengaruh ke album. Anak-anak nggak mau ngebahas itu tapi pengen gimana jelasnya album ini. Yang penting gimana caranya album ini nggak lama harus keluar karena materi udah siap. Jadi keluarlah rencana single keluar di awal November ini, album di minggu kedua Desember.

Sheila On 7 pernah terlibat di album Tribute to Ian Antono. Anda juga pernah menginterpretasi lagu Koes Plus di album Salute to Koes Plus/Bersaudara. Secara pribadi, siapa musisi Indonesia yang ingin Anda nyanyikan ulang karyanya sebagai sebuah bentuk tribute?
Kalo Indonesia yang aku pengenin udah semua. Ian Antono jelas dia ikon musik Indonesia. Tribute to Iwan Fals atau Tribute to Slank mungkin belum. Sebagai musisi saya pengen tribute untuk band yang eranya di atas Sheila On 7, yang mewakili masa kecil kami mengenal musik sampai jadi pemain band. Saya pengen ada album tribute untuk Slank atau Iwan Fals. Kalau diajak saya mau.

Musim Yang Baik akan jadi album terakhir Sheila On 7 bersama Sony Music Entertainment Indonesia, apa ekspektasi saat mengerjakan album ini?
Kami pengen semakin menancapkan diri. Banyak yang bilang Sheila On 7 reborn. Kalo saya sih lebih ke regenerasi pendengarnya. Yang reborn ya pendengarnya karena apa yang Sheila On 7 lakukan dari dulu sampai sekarang sama aja. Kami selalu ingin melakukan lebih baik. Dalam beberapa tahun kami punya pendengar anak SMA dan kuliah. Kami pengen ngasih lagu di era mereka selain lagu yang mereka dengarkan di era kakak atau tante mereka dan beberapa lagu Sheila On 7 di album-album belakangan ini. Kami pengen ngasih tahu ada lagu baru Sheila On 7 lagi dan semangatnya masih sama. Masih bikin lagu baru dan terus kreatif.

Kalo ekspektasi dari segi industri ya kita pasti pengen albumnya laku (tertawa). Dengan segala macam keribetan yang sudah terjadi, album ini bisa keluar itu udah sesuatu yang luar biasa mengingat penantian yang lama banget. Kalau nanti ada 5000 orang yang beli, itu ekspektasi nanti deh karena tidak ada alasan kalau album itu nggak bisa keluar. Untuk album ini kami coba gali pelan-pelan trigger untuk ngebuat orang supaya aware. Aware supaya mau beli CD karena banyak orang-orang label yang hopeless sama direct selling CD sampai akhirnya ada distribusi di restoran ayam goreng. Kami masih menyimpan mimpi apapun bentuknya apakah akan di-bundling, kami selalu berpikiran orang punya CD Sheila On 7 sebanyak mungkin. Okelah orang marketing berpikir dengan segala analisisnya berpikir dari disiplin ilmunya dan statistik kalau CD susah dijual. Cuma sebagai seniman kita nggak mau mikir seperti mereka.

Selain kontrak sudah selesai, apa yang membuat Sheila On 7 yakin kalau Musim Yang Baik akan jadi waktu yang tepat untuk berpisah dengan label?
Karena kami rasa sampai detik ini prosesnya (merilis album) susah. Nggak bisa ngebayangin bikin album berikut dengan sistem kerja seperti ini. Butuh berapa tahun lagi? Yang jelas sampai sekarang kami belum melihat major label di sini dan di luar sana yang punya terobosan baru untuk menanggulangi permasalahan di industri musik.

Jadi bukan sekadar keluar lalu pindah ke label lain?
Nggak. Sampai detik ini tidak ada obrolan dari masing-masing personel secara band bahwa kami akan menawarkan album berikut ke label lain. Kami nggak ada obrolan itu.

Berarti episode Sheila On 7 di major label sudah selesai?
Itu lebih tepatnya. Kami menutup era major label buat Sheila On 7. Dari 1998, 16 tahun di major label udah cukup. Saya nggak tahu lima tahun lagi Sheila On 7 akan major label lagi atau bagaimana, yang jelas proyeksi ke depan setelah album ini selesai, promo album juga selesai, Sheila On 7 mau indie. Jelas itu. Itu obrolan dari sejak selesai bikin Berlayar. Kalau ditanya setelah dari sini ke label lain ya saya bisa jawab nggak. Mereka lebih bermain aman. Buat pedagang sih saya bisa memaklumi yang nggak mau terlalu beresiko. Kalo pilihan mereka bermain aman ya mending kami mikir buat diri kami sendiri. Tanpa harus bertanggung jawab pada orang lain dan dibantu orang lain. Dibantu dalam artian major label lho ya. Karena walau indie kami pasti butuh bantuan juga.

Mengapa Sheila On 7 punya itikad untuk mengakhiri kontrak secara baik-baik? Ini agak berbeda kalau melihat kasus band-band yang mengakhiri kontrak dengan labelnya rata-rata masih ada sisa kontrak yang belum diselesaikan
Ya mungkin roots sebagai orang daerah (tertawa). Kami band yang nggak terlalu senang konflik frontal. Sampai kemarin anak-anak di obrolan band meski nggak puas konklusinya di halaman sama. Kami kesal, tapi tanggung jawab kami selesai. Mungkin Sheila On 7 tetap bisa selesai dengan Sony Music tanpa album ini keluar. Secara hukum kan bisa seperti itu. Tapi kan kami harus tetap bikin album ini. Master album sudah jadi. Arep mbok tok" ke karepmu, ora yo karepmu (Mau dikeluarkan terserah, tidak juga terserah). Tanggung jawab sebagai band sudah selesai. Masalah keluar album atau nggak tanggung jawab label.

Banyak temen-temen yang bilang tinggalin aja. Pilihan jadi indie juga bukan karena kami antipati dengan label, tapi karena kami sudah beberapa belas tahun di label ya udah cukup lah. Dengan segala permasalahannya, enak nggak enaknya kami udah tahu. Kalo mau jadi band yang berkembang ya kami harus coba sesuatu yang baru. Kami harus keluar dari zona aman. Tapi dengan segala kekesalan kami punya ruang untuk ke depan. Mau dikecewakan, yang penting album ini harus keluar, fans harus dapat kado. Ya mungkin kami orang Jawa (tertawa). Wis untung album e metu. Arep telat yo wis untung album e metu (Sudah untung album keluar, mau telat juga sudah untung album keluar) (tertawa).

Apa dipicu juga keluarnya Pak Jan dari label?
Sebetulnya nggak sih. Tapi obrolan pertama setelah album Berlayar, Pak Jan bilang udah waktunya nyetor lagu lagi nih, bikin album lagi. Itu obrolan kami dengan Pak Jan dan Pak Totok.

Bagi Anda dan Sheila On 7 sepenting apa sosok pak Jan?
Dia orang yang membuat Sheila On 7 dikenal banyak orang. Ikon musik Indonesia. Dan saya pikir nggak lebih dari tiga orang di Indonesia yang punya intuisi kayak Pak Jan.

Siapa saja?
Saya nggak mau sebutin yang lain. Secara personal juga saya nggak kenal. Lebih ke, "Oke, dia bikin band ini jadi sesuatu." Pak Jan sespesial itu.

Sebelumnya Anda sudah tahu tentang sosok Pak Jan?
Belum. Kami baru kenal setelah ngajuin demo. Kami bukan band yang dateng ke kantor Sony Music cuma buat bilang ke resepsionis, "Mbak, kami mau nitip demo buat Pak Jan. Dirungokke sukur ora yo luweh (Didengarkan syukur, tidak pun tak masalah)." Kami dateng ke Sony Music untuk bikin janji dengan A&R (Artist and Repertoire). Dan A&R-nya itu Pak Jan.

Masih ingat waktu Pak Jan "menemukan" Sheila On 7?
Waktu itu yang berangkat ke Jakarta si Adam sama Eross. Tapi Pak Jan udah denger lagu "Kita" karena ada di nomer satu chart Ajang Musikal selama beberapa bulan. Ajang Musikal kan nggak cuma ada di satu radio itu tapi juga disiarkan seluruh radio Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia. Itu jaringannya seluruh Indonesia. Pak Jan denger dari situ. Jadi begitu ketemu Pak Jan dia bilang,"Oh kalian nih yang punya lagu ini."

Apa yang paling diingat dari Pak Jan?
Pak Jan itu orang yang berkomitmen banget. Dia tanya ke Adam dan Eross apa punya materi lagi. Punya, kata Adam dan Eross. Kalian siap kalau disuruh satu band datang ke Jakarta, kata dia lagi. Siap. Dia bilang dua minggu dikabari. Dua minggu dia dengerin, bener-bener dua minggu dikabari. Ada label lain yang ngomong gitu juga tapi dua minggu kemudian nggak dikabari (tertawa).

Selain itu?
Dia punya intuisi yang kuat sama Sheila On 7. Pak Jan cerita ke kita, "Kalian harus tahu album kalian ini pertaruhannya jabatan saya." Pak Jan waktu itu bawa album pertama ke board Sony Music. Dia bilang, kalau album ini sampai nggak jadi saya nggak tahu lah saya ini masih berguna di industri musik. Kalo nggak salah bahasanya seperti itu.

Pola relasi antara Sheila On 7 dengan Pak Jan seperti apa?
Mungkin di Indonesia nggak banyak produser seperti Pak Jan. Pak Jan disaat lagu jadi dia beri komentar seharusnya nggak seperti ini, gitarnya nggak seperti ini, vokalnya kurang semangat atau apa. Kalau produser di luar kan kita lihat ada yang ikut di proses bikin lagu. Pak Jan nggak. Lagu udah jadi beliau ikut beri penilaian lebih dan kurangnya ke band. Kami take lagi lalu diperdengarkan ke Pak Jan

Pemilihan single juga oleh Pak Jan?
Itu Pak Jan Juga. Kami sangat percaya lah. Dan harusnya memang orang lain tapi yang kompeten. Kalo kami yang milih sendiri akan susah untuk obyektif karena udah sering denger lagunya. Ditanya apa lagu yang bagus ya lagunya bagus semua (tertawa).

Apa album yang paling berkesan selama bekerja bersama Pak Jan?
Kalo aku berkesan semua. Kalo ditanya spesifik aku nggak terlalu. Sekarang aku ke Pak Jan ya dia kayak bapak saya. Kalo Sheila On 7 istilahnya harus dengan Pak Jan lagi mungkin kami akan ke label lain karena pak Jan sekarang di label lain (tertawa).

Selama berada di bawah label, apa hal penting yang didapat Sheila On 7?
Kami banyak merasakan sangat beruntung jadi band yang ada di bawah major label, di beberapa hal. Di beberapa hal juga kami merasa banyak hal yang harusnya kami nggak lakukan sehingga keadaan itu harus terjadi. Poin pentingnya ya kami jadi band mau ribet atau nggak. Kalo nggak mau ribet, nggak mau pinter, cuma mau ada di zona nyaman, melakukan sesuatu di hal yang kami sudah tahu ya di label nggak apa-apa. Namanya berurusan dengan label banyak kompromi. Kami nggak capek tapi banyak kompromi. Tapi nggak capeknya juga harus dijabarkan dulu. Oke kami nggak capek kerja tapi kami capek nggak sama keadaaanya. Idealnya ya kami nggak capek kerja, nggak capek sama keadaanya. Kalo nggak seperti itu ya mending independen. Ya, mungkin Sheila On 7 sudah ada di titik pengen capek dan pengen tahu hasilnya. Walau belum jelas, tapi kami meyakini di saat indie nanti capeknya sama yang didapet, Insya Allah sesuai.

Kalau Anda sendiri memaknai konsep indie seperti apa?
Ya, melakukan segala sesuatu sendiri. Bertanggungjawab sama diri sendiri. Kalau malas ya jangan berharap albumnya laku.

Menurut Anda masih penting memperdebatkan major label verus indie?
Perdebatan menurutku sebenernya nggak penting. Itu nggak akan pernah berlaku sama untuk semua band. Visi band kan beda-beda. Aku pernah melewati fase perdebatan dengan beberapa orang. Pada akhirnya aku sampai kalau aku nggak merasakan indie aku nggak puas. Kami akan tahu bener rasanya kalau sudah ngalami. Itu juga sama dengan pilihan orang ke label. Ada yang ngasih pandangan negatif ke label. Tapi Kalo nggak merasakan kontrak sama label kan nggak tahu itu betul atau nggak. Setiap band kebutuhannya beda-beda, kemampuan me-manage diri beda-beda. Jadi saya pikir indie lah saat kamu siap indie dan major lah saat kamu siap major (tertawa).

Satu hal harus dicatat kalo kamu major label tapi harus keluar uang ya bukan major label (tertawa). Sheila On 7 seterusnya berpikiran bandnya nggak perlu keluar apa-apa. Namanya major kan kami butuh dibiayai, butuh diurusi, ya harusnya nggak keluar apa-apa. Kami butuh jerih payah sebagai seniman. Kalau masih harus keluar jerih payah dari ngejualnya gimana, bikin klip gimana, ya harusnya indie. Nggo ngopo major mending indie (buat apa major lebih baik indie) (tertawa).

Kalau dulu tidak juga dapat kontrak rekaman dengan major label, apa Sheila On 7 akan jalan terus mencari kontrak atau menjadi band indie?
Sheila On 7 menjalani masa jadi band indie juga. Jual lagu ke teman-teman. Nah saat itu kami berangkat di usia yang masih sangat muda. Umurku 18 tahun waktu Sheila On 7 pertama kali rekaman. Jelas orientasinya nggak pengen ribet. Tahunya kami major label ya apa-apa diurusi, apa-apa dibiayai, kami tinggal bikin lagu. Jadi kalo ditanya, ya dulu karena Sheila On 7 berangkat bukan dari band yang punya uang. Udu band ne wong sugih (bukan band orang kaya). Kalo mau indie ya nggak punya duit juga (tertawa). Jadi dulu kalo kamu kaya mau jadi band indie ya nggak apa-apa.

Sampai sekarang juga masih...
Ya itu tadi. Sampai sekarang saya masih berpikir band indie yang main karena bener-bener passion mereka, tanpa ada boundaries, itu banyak. Tapi band indie yang orientasinya ada keuntungan buat mereka itu belum banyak. Maksudnya yang bener-bener indie karena mereka melakukan sesuatu sendiri dan jalur yang nggak lazim, tapi ada orientasi ke profit. Ya mungkin saya belum banyak ngobrol aja sama band-band indie yang lain jadi saya ngomongnya masih seperti ini. Koreksi kalo saya salah. Dulu sih setahu saya banyak band indie ditawari major nggak mau karena merasa tanpa harus masuk major sudah kaya. Di luar negeri pun indie bisa jadi mass juga. Kalo disini saya ngelihatnya orang masih melihat indie sebagai sesuatu yang kesannya terbatas. Kalo saya definisinya nggak seperti itu. Indie kalau mau besar juga bisa.

Mulai kapan menerapkan pola kerja sebagai band indie?
Sebenernya semangat indie makin besar di tahun 2010.

Berarti saat penggarapan album Berlayar?
Ya, seiring proses itu. Kami kan ngurus kantor sendiri. General Manager-nya Adam. Saya kalo bahasa kerennya yang ngatur anggaran di band ini. Dealing sama Adam, yang ngatur duit untuk ini dan itu aku. Apa ya namanya? Account Manager atau apa saya gak tahu namanya. HRD goblok-goblokan mungkin karena saya juga yang lihat orang kalo kerja. Saya sama Adam juga sering ketemu orang. Dulu kan pasrah sama manajer, sama label. Tapi kemaren bikin show ulang tahun sendiri kan bisa walaupun nggak sendiri banget karena kami dibantu sama temen. Kami nggak pasrah sama orang. Jadi makin meningkat ekspektasi bahwa kami itu bisa indie. Bisa buat sendiri.

Anton Kurniawan mundur sebagai manajer juga ada pengaruhnya?
Itu secara tidak langsung juga.

Saya lihat setelah itu Sheila On 7 tidak berusaha mencari manajer lagi. Apa memang sudah berniat untuk bekerja sendiri atau sosok Anton Kurniawan yang tidak tergantikan?
Kalo nggak tergantikan sama aja kayak halnya kami nggak cari gantinya Sakti (Saktia Ari Seno, eks-gitaris). Akhirnya ada Brian pun prosesnya juga nggak sebentar. Itu butuh waktu lama. Dan memulai proses itu untuk orang baru juga kami mikir. Secara kuantitas kerja mungkin kami terbantu dengan orang banyak tapi secara kualitas belum tentu karena kualitas nggak cuma skill tapi ego. Ketemu orang baru ya ketemu ego baru. Kami harus sosialisasi lagi. Orangnya harus ngerti kami dan kami harus ngerti orangnya. Jadi itu awalnya, malas cari orang.

Akhirnya, ya Adam sama saya karena waktu ditanya pada mau nggak jadi manajer. Eross bilang, "Wis aku tak mumet golek sound gitar karo gawe lagu wae (saya memikirkan cari sound gitar dan bikin lagu saja). Dia memang nggak interest sama hal-hal yang sifatnya administratif. Berawal dari situ dan kami kerja akhirnya saya dan Adam belajar. Kami sampai titik nggak punya alasan untuk cari orang. Kalo nanti kami cari orang ya kami sampai titik bahwa kami sudah pinter dan nggak mau capek. Dulu kami belum pinter dan nggak mau capek (tertawa). Bodoh lah kalau sudah sampai di titik ini tapi nggak mau mempraktekkan cara yang sebenernya.

Faktor Yogya juga berpengaruh pada keyakinan untuk menjadi band independen?
Harusnya kalau di Jakarta kami bisa lebih yakin (tertawa). Ya, saya nggak menampik kalo secara kuantitas kerja banyak di Jakarta. Kami mungkin bisa lebih cepet pinter karena orang-orang yang sudah menjalani cara itu juga banyak di Jakarta. Kami lebih banyak sekolah. Di Yogya kami ngobrol ke beberapa teman tapi mungkin pengetahuannya sama kayak kami. Kalau di daerah terus mungkin nggak berkembang. Mosok sampel surveinya cuma dari orang-orang itu aja. Sampel yang lebih besar ya di Jakarta.

Pandangan Anda tentang kancah musik independen Yogya?
Kalau bicara itu, Endank Soekamti saya acungi jempol. Itu salah satu contoh independen yang baik. Menurutku banyak yang harus dicontoh dari mereka.

Soal band daerah versus band ibukota menurut Anda perlu untuk diributkan?
Harusnya nggak. Sekarang makin nggak ada gap kok. Aku nggak tahu apa yang dikomplainkan soal band daerah dan band ibukota. Kenapa Sheila On 7 tetap di Yogya karena poin belajar kami bukan di kuantitas kerja. Kami ngerasa untuk tinggal di Yogya nggak menjadi batasan. Kami ke Jakarta bisa sewaktu-waktu. Dan itu nggak lama kok, cuma 50 menit penerbangan dan tiap jam ada. Akses informasi juga gampang kalo mau belajar sesuatu. Sheila On 7 waktu bikin konser tunggal di Yogya sangat berhasil. Mungkin kalau dibikin di Jakarta bisa lebih ramai lagi. Tinggal bandnya puas atau nggak.


Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. 10 Destinasi Wisata Musik Legendaris di Inggris
  2. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  3. 6 Musisi Yang Juga Ilustrator
  4. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  5. Kelompok Penerbang Roket Gelar Konser Istimewa di Gedung Kesenian Jakarta

Add a Comment