John Petrucci (Dream Theater): 'Apakah Kami Bintang Rock?'

Untuk kedua kalinya saya bersua dengan John Petrucci, gitaris band prog metal Dream Theater yang kini memelihara kumis dan janggut lebat.

Oleh

Untuk kedua kalinya saya bersua dengan John Petrucci, gitaris band prog-metal Dream Theater yang kini memelihara kumis dan janggut lebat. Sepintas Petrucci yang dilahirkan pada 12 Juli 1967 ini terlihat seperti Kapten Haddock, tokoh dalam komik Tintin. Pertemuan pertama terjadi dua tahun silam saat Dream Theater untuk pertama kalinya menggelar konser di Ancol, Jakarta.

John Petrucci adalah salah satu tokoh kunci dalam Dream Theater, ia merupakan salah satu pendiri disamping menulis dan memproduksi hampir seluruh album Dream Theater mulai dari album Metropolis Pt 2: Scenes From A Memory hingga album terbaru Dream Theater (2013).

Siang itu, Minggu (26/10) sekitar pukul 14:00 WIB, sebelum tampil di malam harinya, saya sempat berbincang-bincang dengan John Petrucci di Business Room, Sultan Hotel, Jakarta. Gitaris yang menempati posisi kedua gitaris metal terbaik dalam buku The 100 Metal Guitarists yang ditulis Joel McIver tersebut tampak terlihat segar bugar.

Anda terlihat segar siang ini...
Oh really? Iya, tadi saya sempat nge-gym sekitar dua jam.

Tadi saya sempat melihat Anda dikejar-kejar penggemar di lobi hotel. Menggangukah hal tersebut?
Oh, not really. Saya malah menikmatinya. Mereka datang minta foto bersama dan minta tandatangan di CD dan vinil Dream Theater, bahkan ada yang membawa gitar Music Man untuk ditandatangani juga. Bahkan kemarin saat kami tiba di bandara, tiba-tiba beberapa petugas berbaju seragam mendatangi saya. What"s wrong? Eh, ternyata mereka malah ingin berfoto bersama dan minta tandatangan. Ini sambutan luar biasa bagi band seperti Dream Theater. Apakah kami bintang rock? (tertawa)

Bagaimana komentar Anda tentang para penggemar Dream Theater di Indonesia?
Tampaknya mereka betul-betul die hard fans. Mereka kenal betul lagu-lagu kami. Mereka punya CD dan vinil kami. Ini tentu membanggakan bagi kami.

Betulkah malam nanti Dream Theater akan tampil di panggung selama 3 jam?
Iya, betul. Ini merupakan persembahan kami untuk para penggemar kami yang sangat loyal di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda dalam konser kami, mulai dari penyusunan setlist hingga penonjolan visual di panggung. Dan ini merupakan bagian dari perayaan hari jadi Dream Theater yang memasuki hampir seperempat abad berkarir.

Apa yang membuat Dream Theater bisa bertahan di industri musik?
Sederhana saja, kami memainkan musik secara konsisten. Kami tetap pada jati diri musik kami, tapi tetap update dengan kekinian. Dan ternyata para penggemar Dream Theater bukan hanya itu-itu saja melainkan bertambah. Saya lihat di YouTube ada beberapa anak remaja belasan tahun yang mencoba memainkan karya-karya kami.

Bagaimana dan dimana posisi Dream Theater di industri musik yang mulai mengalami pergeseran, khususnya dalam distribusi musik?
Memang terjadi perubahan yang signifikan. Kami harus menerima kenyataan bahwa penjualan album yang mencapai sertifikat Platinum nyaris tinggal kenangan. Tapi album kami masih tetap ada yang membeli. Ketika album Dream Theater dirilis pada September tahun lalu, di minggu pertama telah terjual lebih dari 34 ribu keping dan langsung menempati posisi nomor 7 di tangga album Billboard Top 200.

Apa tanggapan Anda dengan distribusi musik secara digital?
No problem. Apa pun formatnya, menurut saya, selama karya-karya kami bisa diterima ke masyarakat hal itu bukan persoalan yang mendasar. Karena selama ini selain karya-karya kami di lempar ke pasaran dalam bentuk fisik seperti CD dan vinil, juga tersedia dalam format digital seperti iTunes.

Anda lebih suka format fisik atau digital?
Jujur saya masih menyukai format fisik. Tapi saya tidak begitu suka dengan streaming seperti yang dilakukan Spotify dan lain-lain.

Kenapa untuk album terbaru hanya diberi judul selftitled? Apakah bingung tidak menemukan judul yang tepat?
(Tertawa) biasanya sebuah band memberi judul album debut dengan selftitled. Kami sengaja memberi judul ini sebetulnya untuk menandai hari jadi Dream Theater saja.

Anda banyak menulis lagu untuk Dream Theater kan? Jika saya amati banyak struktur notasi yang terdengar melodius. Mengapa?
Ohhh…..(tertawa) Iya, mungkin karena saya terlahir sebagai seorang Italia, jadi selalu ada nada-nada melodius atau romantik yang secara naluriah keluar.

Kalau boleh tahu, apakah ada lagu yang sifatnya personal?
Ada beberapa di antaranya adalah "Take Away My Pain" yang ada di album Falling Into Infinity. Lagu ini saya tulis setelah ayah saya meninggal dunia pada 1996.

Apakah Anda menulis lagu cinta juga?
Iya, tapi tidak dalam lirik-lirik yang tipikal.

Apakah ada lagu favorit yang paling Anda sukai?
Hmm…. Saya suka lagu "In Your Eyes" dari Peter Gabriel. Saya suka cara Peter Gabriel menulis lirik. Sangat inspiratif.

Apakah Anda suka membaca buku sebagai inspirasi menulis lirik?
Saya jarang baca buku. Tema atau lirik yang saya jadikan lagu biasanya muncul dari peristiwa-peristiwa yang saya alami. Saya bukan Neil Peart yang banyak mengangkat tema dari buku ke dalam lagu (tertawa).

Editor's Pick

Add a Comment