Sakrielegious: Iwan Madjid, Reuni Cynomadeus dan Kebebasan Berkarya

Ternyata malam itu Cynomadeus, band rock dengan susupan aura klasik yang digagas almarhum Iwan Madjid, dan hanya sempat merilis satu album saja, akan memulai latihan. Ini adalah reuni Cynomadeus sejak 1991. Sebuah kekosongan yang panjang, sekitar dua dasawarsa.

Oleh
Selasa (2/9) malam lalu sekitar pukul 19:30, Arry Syaff, vokalis Cynomadeus terlihat menguak pintu Abbe Studio yang terletak di Jalan Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ternyata malam itu Cynomadeus, band rock dengan susupan aura klasik yang digagas almarhum Iwan Madjid, dan hanya sempat merilis satu album saja, akan memulai latihan. Ini adalah reuni Cynomadeus sejak 1991. Sebuah kekosongan yang panjang, sekitar dua dasawarsa.

Reuni ini terjadi lantaran sahabat-sahabat dekat Iwan Madjid dalam ranah musik mengupayakan untuk mengenang Iwan Madjid dan karya-karyanya dalam konser bertajuk Tribute To Our Beloved Friend Iwan Madjid yang berlangsung Jumat pekan lalu di Airman Lounge, Sultan Hotel, Jakarta.

Tak lama berselang, Fajar Satritama, yang sehari-hari adalah seorang bankir tiba pula di studio lengkap dengan dandanan kantoran, kemeja putih dan celana hitam. Lewat pukul 20.00 muncul gitaris Eet Sjahranie, yang pada 1989 berinisiatif membentuk Cynomadeus bersama Iwan Madjid.

Iwan dan Eet mulai berkenalan saat mereka dilibatkan dalam proyek operet rock Cikini yang memanggungkan opera rock berdasarkan kisaah-kisah legenda seperti Mahabarata dan Ramayana di akhir era 70-an dan masuk era 80-an. Ketika Iwan Madjid membentuk Wow pada 1983 sebetulnya Eet pun diajak Iwan Madjid untuk ikut bergabung dalam formasi Wow, namun urung lantaran Eet Sjahranie harus mengenyam pendidikan di Amerika Serikat. Sepulang dari Amerika, Iwan Madjid kembali mengajak Eet untuk mendukung album solonya bertajuk Pesta Reuni.

Terakhir, bassist Todung Panjaitan dengan rambut panjang putih menjuntai memasuki studio. Cynomadeus malam itu mempersiapkan empat lagu yang diambil dari album mereka yang dirilis JEPS pada 1990, di antaranya adalah "Circus Show" dan "Cynomadeus."

Boleh dibilang, banyak orang yang tak mengenal kiprah Cynomadeus di awal 90-an. Penyebabnya adalah kesibukan para personelnya yang menyebabkan mereka cepat dilanda kekosongan. Saat itu, Eet Sjahranie juga menerima tawaran sebagai gitaris God Bless, menggantikan Ian Antono yang mengundurkan diri dari band.

Iwan Madjid pun memiliki banyak kesibukan sebagai jingle maker hingga penggubah musik sinetron dan layar lebar. Cynomadeus pada akhirnya betul-betul terabaikan ketika Eet Sjahranie bersama Fajar Satritama membentuk EdanE dan Iwan Madjid kembali mengaktifkan Wow bersama Fariz RM, Darwin B Ranchman dan Musya Junus.

Mereka memakai nama Cynomadeus, karena tertarik pada karya tulis Wisnu Soeyono, yaitu sebuah komik mengenai seorang musisi yang dijuluki Cynomadeus. Cynomadeus ini merupakan akronim dari Cycle Neo Amadeus, dan perjalanan dalam menyusuri lorong waktu. Cynomadeus adalah tokoh masa depan yang mengacu pada sosok komponis musik klasik Wolfgang Amadeus Mozart.

Iwan Madjid lalu meminta Wisno Soeyono untuk menuliskan lirik-lirik lagu pada album debut Cynomadeus tersebut. Tema liriknya cukup menyempal dari arus besar industri musik saat itu. Ada yang bernuansa surealis dan berperangai gugat dalam balutan metafora yang mistikal. Termasuk pula bagaimana upaya Cynoamdeus memainkan gelegak rock dalam dimensi yang agak berbeda. Iwan Madjid yang menyukai musik klasik banyak menyusupkan elemen klasik, meskipun tidak sekental saat Iwan Madjid menggarap repertoar lagu pada grup sebelumnya semisal Abbhama.

Dengan setumpuk gagasan dan idealisme, Cynomadeus pun berupaya merekam karya-karya yang selama ini telah mereka garap. Menurut Eet Sjahranie, dalam kurun waktu sekitar tiga bulan pertemuan, kelima musisi tersebut menghasilkan sekitar 10 komposisi. Semasa hidupnya Iwan Madjid pernah bertutur bahwa kurun waktu yang sangat pendek untuk proses penulisan lagu dan sesi rekaman ini bukan mengada-ada, namun karena prosesnya mengalir secara deras.

Padahal jelas Eet Sjahranie, sesungguhnya setiap personel yang berada di bawah payung Cynomadeus berasal dari selera dan genre musik yang tak sama. Agaknya ini justru memperlihatkan sebuah persenyawaan yang saling mendukung. Bahkan hubungan erat antar sesama pemusik malah jauh melebihi perbedaan genre musik. Alhasil karya mereka menembus tradisi straight-beat rock di Indonesia.

Mereka pun mungkin tak menyadari akan menjadi titik awal dari perubahan era musik rock di Indonesia saat itu. Cynomadeus tampaknya menjadi anti-tren. Sekadar catatan, saat itu dunia tengah diguncang dengan kehadiran grunge dari Seattle, Amerika Serikat. Namun Cynomadeus hanya mengutamakan berkarya dalam ekspresi kesenimanan yang mutlak tanpa memperhitungkan pernak pernik industrial.

Mereka seperti asik sendiri dengan dunianya. Cynomadeus melaju dengan ide-ide musik yang merupakan hasil saling bentur antar genre musik, mulai dari rock, funk hingga klasik sekalipun. Kesepuluh lagu di album Cynomadeus seperti "Cynomadeus," "Circus Show," "Potret Hujan," "Profesi Trend Mode," "Opera Kota Naga," "Wowverture," "Strawberry Pink," "Angel Rose," "65" serta "Era 1214 Saka."

Saya yang hadir malam itu melihat latihan Cynomadeus di Studio Abbe merasakan getaran yang menyenangkan dari sebuah band yang sudah sekian lama menghilang dan nyaris terlupakan banyak orang. Cynomadeus menampilkan aransemen musik yang lugas namun tetap menyisakan ruang harmoni yang memberikan neraca setara bagi penikmatnya maupun pemusiknya itu sendiri.

Di era sekarang, musik-musik dengan tingkat kreativitas yang idealis dan mengabaikan perilaku pasar seperti yang diperlihatkan Cynomadeus atau yang kerap dijuluki musik cutting edge memang cukup banyak bertebaran. Seperti halnya kredo bermusik Cynomadeus, mereka – para pemusik era masa kini pun tak haus popularitas dan tetap mengedepankan kebebasan berkarya. Ini yang pantas dibanggakan.

Lalu apakah Cynomadeus masih punya keinginan untuk merekam karya-karyanya lagi seperti dahulu? Semoga saja.


Editor's Pick

Add a Comment