Godbless, Inspirasi Rock Indonesia

Kisah band rock legendaris sepanjang masa

Oleh
Achmad Albar dan Donny Fattah. Aktuil

Tak berlebihan jika saya menuliskan judul seperti diatas ini, karena saya melihat band rock yang terbentuk pada 1973 dengan nama God Bless ini memang memiliki karakter ideal, sebagai band rock panutan yang membersitkan inspirasi bagi grup band seangkatannnya maupun angkatan-angkatan setelah mereka.

Yang paling jelas adalah ketika God Bless mulai menampakkan diri dalam sederet konser rock pada sepanjang 1973, kelompok dangdut Soneta yang dimotori Oma Irama mulai mematut-matut musik dan penampilan fashion-nya seperti yang diperlihatkan God Bless. Saat itu Oma Irama mahfum bahwa musik rock telah memukau anak-anak muda.

Musik rock yang ditampilkan oleh band sekelas God Bless maupun AKA wakau dengan bayangan budaya Barat yang sangat kental, merupakan tolok ukur tingkat pergaulan anak muda dalam skala kehidupan sosialnya. Dangdut yang dilecehkan sebagai musik bernuansa kampungan dan norak, menurut logika Oma Irama harus dipoles dengan dinamika rock yang menggelegar dan menggelegak. Meskipun belum memiliki lagu-lagu karya sendiri, sebetulnya God Bless telah menyemaikan spirit bermain rock yang berembel-embel kebebasan dan anti kemapanan dalam musik rock cover version yang mereka jejalkan ke kerumunan penonton serta tata busana yang saat itu kerap dijuluki busana nyentrik.

Soneta Group lalu mulai meniru gaya berbusana God Bless lengkap dengan sepatu boot spacey hingga ke lutut. Peniruan Soneta terhadap God Bless pun terlihat dari jenis instrumen yang mereka pakai hingga ke sistem tata suara. Pada 1973 pula Oma Irama mendeklarsaikan Soneta sebagai Sound Of Moslem. Bisa saja terminologi tersebut disematkan oleh Oma Irama untuk pembeda bahwa Soneta adalah band rock dengan koridor syariah.

Sosok Achmad Albar dan God Bless mulai menghias lembaran majalah-majalah hiburan termasuk sampul-sampul majalah. Kenapa? Karena secara penampilan saja God Bless telah memiliki nilai lebih. God Bless punya gereget seperti penampilan band-band rock mancanegara yang tengah ngetop pula di era tersebut, mulai dari The Rolling Stones hingga Led Zeppelin.

Pada 1973 God Bless bahkan muncul sebagai cameo di beberapa film layar lebar seperti Tokoh garapan Wim Umboh, Laki Laki Pilihan karya Nico Pelamonia maupun A.M.B.I.S.I yang dibesut Nya" Abbas Akub. Dan yang pasti Achmad Albar adalah sosok rock star yang paripurna. Dia memiliki kualitas vokal dan penampilan fisik yang setara.

Pada 1973 Achmad Albar dan God Bless adalah role model atau patron bagi anak muda penikmat musik sekaligus yang memiliki minat membentuk band rock. Walaupun sebelum Achmad Albar muncul di Jakarta pada 1973 setelah selama 8 tahun berada di Belanda (dan sempat bikin band Take Five hingga Clover Leaf), di Indonesia telah terdengar sosok-sosok rock star seperti Ucok Harahap, Deddy Stanzah hingga Bangun Soegito, namun menurut hemat saya Achmad Albar memiliki karakter yang berbeda.

Sosok Achmad Albar cenderung mendekati gaya rock star mancanegara. Dan harap diingat sosok bintang musik yang mirip orang Eropa seperti Achmad Albar ini jauh lebih memukau dan menawan. Tak heran jika saat itu impian anak band adalah ingin menjadi Achmad Albar atau ingin memiliki band rock sekeren God Bless. Karenanya pula ketika Suzi Quatro maupun Deep Purple menggelar konser di Jakarta, pihak promotor memilih God Bless sebagai band pembuka. Karena dalam penilaian mereka, God Bless dianggap setara dengan band rock mancanegara.

Ketika akhirnya God Bless merilis album debutnya pada 1976, ini pun dianggap sebagai tolok ukur atau parameter bagaimana sikap sebuah band rock berkiprah dalam industri musik. Sebagai catatan, di era 70-an tercatat banyak band rock yang harus menguburkan idealisme bermusiknya saat menandatangani kontrak rekaman dengan sebuah label rekaman seperti Remaco atau Purnama Record.

AKA yang merekam album-albumnya pada label Indra Record harus melakukan kompromi dengan membawakan lagu-lagu ringan bernuansa pop dalam album rekamannya, begitupula dengan Freedom of Rhapsodia. Saat itu AKA lalu menghasilkan lagu pop bertajuk "Badai Bulan Desember" atau Freedom Of Rhapsodia dengan hits "Hilangnya Seorang Gadis." God Bless dengan gagah berani mematahkan mitos yang diciptakan oleh para label bermodal besar tersebut.

Pada 1976 God Bless merilis album debut pada Pramaqua, label rekaman yang dianggap idealis dalam melahirkan sejumlah album rekaman. Album God Bless ini sama sekali tak ada kompromi dengan lagu-lagu pop yang mendayu-dayu. God Bless membawakan lagu-lagu orisinal seperti "Huma Di Atas Bukit," "Setan Tertawa," "She Passed Away," "Gadis Binal" dan "Rock Diudara" serta meremake beberapa lagu mancanegara seperti "Eleanor Rigby" (The Beatles) hingga "Friday On My Mind" (The Easybeats) dalam tata aransemen yang berbeda dengan versi aslinya. Jelas ada kreativitas dan idealisme yang diperlihatkan God Bless pada album debutnya tersebut.

God Bless dengan gagah menampilkan musik rock yang utuh dalam sebuah album, walaupun harus diakui album tersebut gagal dalam pencapaian secara komersial. Namun yang menarik, justru album rock God Bless ini menjadi inspirasi bagi label Remaco yang semula alergi dengan muskc rock total ala God Bless dalam produksinya selama ini.

Remaco lalu merilis album-album bernuansa rock dari beberapa kelompok musik yang berada dibawah naungannya, misalnya Koes Plus merilis album Hard Beat, Bimbo mengeluarkan album Pop Rock atau Ge & Ge dengan album Musik Keras.

Memasuki dasawarsa 80-an, God Bless kembali jadi inspirasi anak band yang ingin membaptis diri sebagai pemusik rock. Album God Bless bertajuk Cermin yang dirilis JC Record pada 1980 menjadi album wajib bagi anak band yang ingin membentuk band rock. Seingat saya ketika Log Zhelebour mulai secara rutin menggelar kompetisi band Festival Rock Se-Indonesia, beberapa lagu God Bless di album Cermin menjadi lagu wajib yang dibawakan oleh para peserta festival.

Lagu-lagu itu antara lain "Selamat Pagi Indonesia" dan "Musisi" serta "Anak Adam." Maka bermunculan band-band jebolan Festival Rock yang digagas Log Zheklebour seperti El Pamas hingga Grass Rock yang mengaku terinspirasi dengan konsep musik rock yang digagas God Bless.

Di usia yang ke-41 tahun, God Bless memang layak diteladani oleh anak band dalam genre apapun terutama karena mampu mempertahankan keberadaan band dalam kurun waktu empat dasawarsa. Ini sebuah prestasi yang sangat luar biasa, apalagi mengingat perjalanan God Bless dalam meniti musik Indonesia justru senantiasa berhadapan dengan begitu banyak badai yang menghadang.

Mulai dari gonta ganti personel hingga pertikaian dalam wujud perbedaan visi musik, egosentris sesama pemusiknya serta konflik antar personel yang bisa diibaratkan sebagai benang kusut. Tapi toh, God Bless dengan kearifan sikap para pendukungnya, mampu mempertahankan diri dari keruntuhan. God Bless telah memberikan teladan yang bagus untuk band-band zaman sekarang yang sangat rentan konflik dan memiliki hidup seumur jagung belaka.

Konser God Bless yang menandai perjalanan musik mereka selama 41 tahun di Bandung pada Sabtu, 30 Agustus merupakan pencapaian terbaik mereka dalam mengatasi begitu banyak kemelut yang kerap menyergah keutuhan mereka sebagai salah satu band rock tertua di negeri ini. Convention Hall Harris Hotel adalah saksi bisu perjalanan panjang band rock berpengaruh Indonesia God Bless.

God bless, God Bless!

Editor's Pick

Add a Comment