Crossover: Dochi Sadega & Eross Candra

"Lagi lumayan pusing nih, sibuk mengurus pernikahan, jadi sering berselisih,” kata Alditsa “Dochi” Sadega, pria kelahiran Yogyakarta, 26 Desember 1985, pemain bas unit pop punk Pee Wee Gaskins. Dochi mengatakan kepada Rolling Stone bahwa pernikahannya di bulan November ini cukup besar menyita waktunya demi persiapan yang matang.

Oleh
"Lagi lumayan pusing nih, sibuk mengurus pernikahan, jadi sering berselisih," kata Alditsa "Dochi" Sadega, pria kelahiran Yogyakarta, 26 Desember 1985, pemain bas unit pop punk Pee Wee Gaskins. Dochi mengatakan kepada Rolling Stone bahwa pernikahannya di bulan November ini cukup besar menyita waktunya demi persiapan yang matang.

Persiapan pernikahannya paralel dengan persiapan band berangkat ke Jepang kedua kalinya untuk melakukan sebuah pertunjukan. Tapi ini bukan hal yang aneh, Dochi memang cukup dikenal dengan determinasinya yang tinggi dan kerja kerasnya bergumul dengan dunia Internet. Sampai-sampai di awal karier mereka Pee Wee Gaskins sempat menjadi fenomena yang menarik perhatian khalayak. Hingga kini mereka didaulat sebagai salah satu unit pop punk dengan jumlah penggemar terbanyak di Indonesia, dan kenyang malang melintang meniti karier baik secara lokal maupun internasional.

"Gue memang penggemar Eross Sheila on 7", kata Dochi kepada Rolling Stone ketika tahu akan dipasangkan dengan gitaris dan pencipta lagu utama dari Sheila On 7, raksasa pop dari Yogyakarta yang penjualan album debutnya, Sheila On 7, demikian fantastisnya hingga mereka dijuluki band sejuta kopi. Ini di era saat pendengar musik masih rela menyisihkan uang untuk membeli rilisan fisik.

Sheila on 7 sempat mengalami pasang surut dalam berkarier. Begitu pula dengan Pee Wee Gaskins. Menghadapi para pembenci mereka sempat memberi pengalaman yang tak enak dan sempat bersinggungan dengan kekerasan. Semua dibahas dalam rubrik Crossover kali ini.

Tak ketinggalan juga, pembahasan yang berhubungan dengan panasnya suhu pemilihan presiden Indonesia tahun ini, Dochi cukup gamblang dalam menyampaikan dukungannya kepada capres pilihannya, yakni Joko Widodo. Panas sampai ke tahap publik pun pernah saat ia terlibat diskusi/debat dunia maya dengan Anji (eks-Drive) di Twitter, yang ketika itu sempat memancing wacana pro-capres 1 di linimasanya.

Tidak ada yang kalah atau menang di diskusi itu, hanya fakta bahwa musisi muda seperti Dochi yang lantang menyanyikan "Dari Mata Sang Garuda" bukan berarti pro kepada capres yang mengusung Garuda Merah. Dochi punya alasan kuat akan pilihannya. Eross pun demikian vokal di topik satu ini. Kedewasaan dan keluarga kini membuka matanya.

DOCHI: Mas Eross ini Idola saya sejak zaman sekolah dulu. Selain main gitar dan mencipta lagu, saya lebih tertarik di sisi lainnya. Dulu itu setiap ada cewek cantik yang namanya lagi naik-naiknya itu pasti mantannya Mas Eross. Itu merupakan motivasi awal?
Eross: [Tertawa] Oke, saya berharap istri saya tidak membaca artikel ini. Nggaklah, saya memilih istri saya karena dia mengerti dengan hal-hal semacam ini. Jadi saya nggak apa-apa ngomong. Kalau menilik dari zaman SMA, memang cewek itu selalu menjadi inspirasi. Ini tidak dibikin-bikin, ini tidak dipaksa. Memang senang saja kalau melihat cewek yang cantik. Bukan cuma fisik tapi juga jalan pemikiran dia dan sebagainya. Dan kebiasaan itu masih terbawa sampai kami menjadi musisi profesional. Ketika SMA, mungkin lingkupnya kecil, dan ketika jadi musisi yang bisa dikatakan sukses, jaringannya semakin luas, ketemu orang semakin banyak juga.

Saya jadi lebih punya kesempatan ketemu dengan cewek-cewek cantik lebih sering daripada personel yang lain, karena kebiasaan saya dari dulu. Ketika ketemu yang disenangi, aku coba dekati, jalan bareng dan apalah begitu. Untungnya di zaman itu, tahun 2000, yang namanya infotainment belum mengejar setoran seperti sekarang. Menyenangkan sekali sih. Kalau ditanya ilmunya bagaimana itu tidak bisa dijelaskan karena itu sudah merupakan pembawaan saya. Ketika ada yang cantik dan menarik, saya akan berusaha mendekati. Teorinya seperti itu.

Ini adalah hal yang saya paling bisa relate dengan mas Eross. Waktu SMA kan sudah ketebak besar kolamnya seberapa, sedangkan begitu pamornya mulai naik, bergerak ke kolam yang lebih besar, dan punya kesempatan ketemu dengan ikan-ikan dari kolam lain. Calon istri saya juga bisa mengerti ini. Dia tidak seperti mantan-mantan saya sebelumnya.
Ketika kita selesai dengan seseorang biasanya kita menjadi orang yang lebih baik, karena kita dapat pelajaran dari situ. Hubungan bisa berakhir bukan hanya dari satu pihak, tapi bisa juga karena pemicu dari pihak lain lagi. Pembelajaran-pembelajaran itu yang akhirnya membuat saya menemukan istri saya, bisa settle down karena mungkin "nakalnya" sudah hilang dari dulu-dulu. Sudah capek. Yah, kamu nanti akan bisa merasakannya. Sebentar lagi [tertawa].

Relationship ini berhubungan nggak ke proses berkarya? Apakah jadi inspirasi?
Kalau pemicu bikin lagu bisa macam-macam ya. Misalnya aku ada perasaan suka pada A, tapi perasaan ini harus diiringi dulu dengan lagu yang aku suka. Jadi lagu ini menjadi soundtrack, bikin suasana jadi terbawa. Kemudian nanti kita akan bikin lagu itu tapi versi kita. Misalnya aku lagi suka lagu Bon Jovi, "In This Arms", bersamaan dengan aku lagi suka seorang cewek. Nanti aku akan bikin lagunya versi aku, cuma memang hasilnya tetap akan beda karena aku pribadi bukan orang yang jago meniru. Selalu gagal dalam meniru itu bikin aku punya versi sendiri. Ini dulu di awal karier, selalu seperti ini. Kalau di band kamu bagaimana prosesnya?

Kalau bikin musik biasanya bareng-bareng. Nanti jadi tahu vibe-nya. Misalnya lagu senang, berarti lagu yang dipakai jadi inspirasi juga lagu yang senang. Dulu lagi tracking album ada lagu yang sudah selesai tapi liriknya belum ada, dan harus hari itu rekamannya. Ketika didengar, sepertinya warna lagunya cocok untuk jadi lagu ulang tahun. Kebetulan adikku ulang tahun, jadi langsung di taksi menuju studio menulis lirik tentang ulang tahun. Tapi dulu lagu-lagu Pee Wee itu kebanyakan curhat. Berasal dari buku jurnal yang isinya curhatan. Waktu bikin album, semua curhatan itu dimasukkan ke lagu-lagu di album itu. Jadi nggak pernah ada pakem untuk bikin lagu. Kalau di Sheila sendiri, pernah clash ego nggak dengan personel lain ketika bikin lagu?

Beberapa kali sih pernah, cuma tidak terlalu sering. Mungkin karena siapapun yang bikin lagu, kami pasti sudah berkhayal mengenai aransemennya akan seperti apa. Jadi personel lain lebih back up saja. Kepuasan si penulis lagulah yang diutamakan. Sampai sekarang pun masih seperti itu. Kalau ada sedikit perbedaan, tinggal dicari jalan tengahnya.

Kadang suka hilang mood juga ketika lagu yang sudah dibuat lalu diubah oleh personel lain sampai akhirnya tidak sesuai dengan yang ada di bayangan kita. Tapi pernyataan Mas tadi cukup membuka pikiran. Bahwa kepuasan si penulis lagu itu penting.
Ya. Menulis lagu itu seperti naik kapal. Nahkodanya harus satu dulu mau ke mana. Penulis lagu istilahnya jadi produser di lagu itu. Ini yang paling aman. Tapi kadang ada juga kejadian saat bikin lagu cuma gitar sama nyanyian. Yang seperti ini justru yang bikin lama. Karena semua punya ide, nggak ada yang menentukan. Ide jadi tabrakan dan sebagainya. Kalau aku lebih aman kalau si penulis lagu sudah punya gambaran. Nggak- apa apa bilang, "Lagunya aransemennya seperti lagu A atau lagu B", jadi kita punya bayangan.

Sheila on 7 adalah band yang personelnya terkenal sebagai penulis lagu. Selama ini kuantitas lagu yang yang sudah ditulis dan tidak dimasukkan ke album ada berapa banyak?
Wah, gila. Ada banyak banget. Biasanya dalam satu album yang isinya sepuluh lagu, kami di awal bisa bikin sampai 20 sampai 25 lagu.

Lagu-lagunya masih ada?
Ada yang lupa, ada yang sudah direkam. Kami jarang banget menggarap lagu-lagu sisa yang nggak jadi masuk ke album. Yang nggak masuk ke album ya nggak diurus lagunya. Di sini kurang bagusnya kami. Tapi untungnya karena sekarang sudah punya studio sendiri, ada berkasnya. Dari album satu sampai lima, yang punya datanya lengkap justru Sony Music. Karena setiap bikin demo pasti kami kasih ke Sony.

Bisa dirilis sebagai B-Sides.
Oh, jelas itu. Tinggal tunggu nanti [tertawa].

Kontrak delapan album dengan Sony. What"s next?

Untuk wawancara selengkapnya baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 112, Agustus 2014.


Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018
  2. Sandhy Sondoro Siap Gelar Tur Konser Perdana di Inggris Raya
  3. Kuartet Rock Asal Bali, Zat Kimia, Luncurkan Album Perdana
  4. Konferensi Musik Indonesia, Archipelago Festival, Siap Diselenggarakan Oktober Mendatang
  5. .Feast Resmi Merilis Album Penuh Perdana Bertajuk 'Multiverses'

Add a Comment