Gugur Gunung untuk Indonesia

Ketika para politisi sibuk jual pesona ke lokasi bencana dengan beragam atribut mereka, para musisi tanpa pamrih rela menyumbangkan tenaga lewat lagu, nada, syair dan lirik yang mereka gulirkan di berbagai pentas amal. Sumbangan mereka bisa jadi tidak seberapa. Tapi kehadiran mereka telah berhasil “menemani” ribuan korban bencana alam yang kehilangan harta, benda, bahkan nyawa dari orang-orang yang mereka sayangi. Mereka merasa mendapat teman. Mendapat perhatian dari orang-orang yang masih peduli kepada sesama. Gugur gunung untuk Indonesia…

Oleh

… Tak terkira kerugian yang diderita baik harta atau nyawa.
Lalu gunung-gunung melaksanakan tugasnya. Sinabung... bahkan semalam Gunung Kelud dan masih ada 127 gunung lagi di tanah air yang kita cintai ini menunggu gilirannya. Semoga semua ini semakin menguatkan kita dalam mengarungi hidup. Di dalam menjalani kewajiban-kewajiban kita sebagai manusia yang beradab.
Oh Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami -
Iwan Fals.

Iwan fals di panggung 40 tahun Erros Djarot pada 14 Februari 2014 lalu membuat penonton satu gedung di JCC tercekat. Rasanya doa dari Iwan Fals sebelum membawakan lagu "Tuhan Ampuni Dosa Kami" yang diciptakan Erros Djarot sesaat setelah gempa melanda Yogyakarta pada tahun 2006 itu benar-benar seperti wakil doa kita semua.

Penonton terdiam, bahkan ada yang menitikan air mata … "Mengapa bisa terjadi/Bencana alam yang tiada henti/Pada siapa ku harus bertanya/Sementara Tuhanpun hanya berdiam…" Lirik yang mengena tentang doa manusia kepada Tuhannya yang saat ini kita rasakan sedang menguji manusia lewat bencana dengan berbagai bentuknya.

"Dulu saya sempat diminta Mas Erros membawakan lagu ini saat gempa mengguncang Yogya. Tapi saya tidak berani. Berat bagi saya membaca lirik lagu ini. Tapi malam ini saya akan membawakannya. Rasanya berbagai bencana alam dan bencana lain yang menimpa negeri ini harus membuat kita tersadar sebagai manusia," kata Iwan Fals di belakang panggung JCC, beberapa menit sebelum dia naik panggung.

Bencana yang melanda Indonesia di berbagai pelosok dari dari mulai Sinabung, Manado, banjir di Jakarta dan terakhir letusan gunung Kelud membuat banyak pihak bersatu menggalang dana. Lewat berbagai bendera, para musisi juga turun tangan dengan cara mereka. Bernyanyi dan bersenandung, mengumpulkan donasi dan membagikan langsung kepada mereka yang membutuhkan.

Sebuah konser bertajuk "Gugur Gunung Untuk Sinabung" digelar di Yogyakarta pada 23 Januari 2014, melibatkan musisi seperti Endank Soekamti, Shaggydog, JHF, Captain Jack dan FSTVLST. "Kami sedianya akan menuju Sinabung pada 14 Februari 2014. Apa daya penerbangan dari Yogyakarta tidak bisa akibat bencana letusan gunung Kelud. Hari itu juga kami memutuskan pergi ke Kelud bergabung dengan relawan lain di sana," kata Marjuki alias Kill The DJ dari Jogja Hip Hop Foundation.

Di Jakarta, GASS alias Gabungan Artis dan Seniman Sunda awal Februari 2014 juga menggelar amal bertempat di kafe Eclectic, Cilandak Town Square. Hampir Rp 500 juta terkumpul dari acara ini. Armand Maulana dan Melly Goeslaw adalah beberapa orang di balik malam dana itu. Mereka bahkan mengirimkan hasil donasi langsung ke lokasi bencana di Jakarta, Manado, dan Sinabung. "Ini yang kami bisa sumbangkan untuk mereka, semoga bermanfaat," kata Armand Maulana sebelum duet dengan Dewi Gita, sang istri. Duet mereka dihargai Rp 50 juta.

Di tempat lain, sebuah acara dengan nama "Singing Toilet" digelar di Graha Bhakti Budaya TIM pada 2 Februari 2014. Konser Sanitasi Untuk Sinabung menjadi judul acara yang di antaranya menampilkan Bonita and The Hus Band, Endah N" Rhesa, Payung Teduh, Glenn Fredly, Sigmun, White Shoes and the Couples Company, Float, Dik Doank, dan Banda Neira. Acara yang hangat dan guyub. Di Rolling Stone Café, acara bernama "Konser Peduli Sesama" berlangsung pada 20 Februari 2014.

Komunitas KOIN yang kerap membuat acara amal juga bergerak dengan nama acara "Senandung Untuk Negeri" di Hard Rock Café Jakarta pada 5 Februari 2014. Pentas amal ini melibatkan Slank, Once, Glenn Fredly, Musikimia, Ermy Kulit, Connie Constantia, Alexa, Kerispatih, Rizki The Titans, Soul ID, Yacko, Intan Ayu & The Hammers, JFlow, The Fly, Cherrybelle, Angela Nazar, Indah Dewi Pertiwi, Supergirlies, Barry Likumahuwa Project, Roy Jeconiah & John Paul Ivan, Gideon Tengker, Pee Wee Gaskins, Kolintang Bapontar, Kikan, Budi Doremi, Yoyok Bassmen, dan Pop the Disc. Acara ini berhasil mengumpulkan Rp 430 juta.

Di tempat lain, di Colliseum Jakarta, deretan musisi seperti Slank, Dira Sugandi, Elfa"s Singers, Maera, Lilo, Project Pop, Once dan banyak lagi menggelar acara berjudul "HELO Indonesia (Help Everybody Love Others) Charity for Sinabung, Manado, Jakarta dan Java Area."

Salah satu pentas amal luar biasa datang dari para gitaris Indonesia dengan judul "Dari Gitaris untuk Indonesia" yang mereka adakan pada 12 Februari 2013 di Bentara Budaya, Jakarta. Pentas dawai gitar lintas genre ini berhasil mengumpulkan angka Rp 1,7 miliar. Sebuah angka yang luar biasa.

"Semangat gotong royong begitu kental, tidak memandang status sosial dan agama. Partisipasi warga yang guyub-rukun dan bahu-membahu untuk menyelesaikan persoalan sepert ini dalam istilah Jawa disebut dengan "gugur gunung"," seperti dikutip dari tulisan Marjuki alias Kill The DJ di majalah ini pada tahun 2010 setelah bersama teman-teman di Yogyakarta ia membuat pentas amal untuk korban Gunung Merapi yang meletus pada 26 Oktober 2010.

Ketika para politisi sibuk jual pesona ke lokasi bencana dengan beragam atribut mereka, para musisi tanpa pamrih rela menyumbangkan tenaga lewat lagu, nada, syair dan lirik yang mereka gulirkan di berbagai pentas amal. Sumbangan mereka bisa jadi tidak seberapa. Tapi kehadiran mereka telah berhasil "menemani" ribuan korban bencana alam yang kehilangan harta, benda, bahkan nyawa dari orang-orang yang mereka sayangi. Mereka merasa mendapat teman. Mendapat perhatian dari orang-orang yang masih peduli kepada sesama. Gugur gunung untuk Indonesia…


Editor's Pick

Add a Comment