Blog: Jakarta Fashion Week 2014

Tulisan ini memang terlambat sekitar dua minggu lebih, karena tentu saja saya lebih mementingkan kewajiban untuk isi majalah.

Oleh
Tulisan ini memang terlambat sekitar dua minggu lebih, karena tentu saja saya lebih mementingkan kewajiban daya untuk isi majalah.

Dan akhirnya saya bisa tuangkan ke dalam blog karena tuntutan penggemar (errr….) Well, ini adalah laporan pandangan mata di Dewi Fashion Knights (DFK) Jakarta Fashion Week 2014 menurut Saya pribadi. Anda bisa sangat setuju atau tidak sama sekali, silakan.

So I must say
, koleksi Oscar Lawalata dan Priyo Oktaviano sangat mencuri perhatian pada malam itu. Banyak decak kagum dan pujian setelah acara berlangsung, belum lagi bagaimana Oscar muncul bersama para model dengan menggunakan koleksi yang sama, serta poni menutup mata.

Semenjak kemunculan Auguste Soesastro di DFK dua tahun lalu, bisa dibilang DFK kali ini memiliki desainer yang mengerjakan couture tanpa HARUS terlalu spektakuler ala Tex Saverio atau Alexander McQueen, karena pada intinya adalah deretan Couture yang bisa memberikan rasa terhenyuh, mengeruk emosi atau tepukan dan teriakan "Bravo!" meskipun terlihat sederhana.

Masuk akal? Sudah pasti, siapa yang tidak mau merasakan berada di dalam balutan couture Tex Saverio walau hanya satu menit? Tapi jika apa yang disajikan adalah messed up fusion, siapa yang akan tertarik? Maka terus terang, Oscar dan Priyo adalah juara malam itu. Dengan koreografi yang mengingatkan Saya akan fashion show Dolce & Gabbana, terasa pas!

Populo Batik muncul dengan kesederhanaannya yang powerful. Terstruktur dan tereksekusi dengan baik, sungguh membuat Saya senang, karena biasanya menonton DFK dengan show yang glam va va voom itu hanya membuat capek mata dan lama-lama membosankan. Toilet, mana toilet?

Sebenarnya Saya cukup menanti-nanti koleksi Toton seperti apa, setelah melihat koleksi Ready to Wear-nya beberapa hari yang lalu, but for the second time, his style is not my cup of tea, BAHKAN Saya tidak yakin model merasa nyaman dengan apa yang mereka kenakan (atau pemilihan model yang salah? Entahlah, intinya cukup membingungkan dan tidak logis).

Penonton riuh saat nama Tex muncul di layar. Entah kenapa saya merasa show ini mudah ditebak, setelah beberapa kali melihat tampil di DFK, dengan musik theatrical yang juga sangat mudah ditebak. Saya pribadi masih lebih terharu dengan koleksi Ready to Wear milik Tex. Haru yang saya rasakan sama seperti saat pertama kali menonton show Tex beberapa tahun yang lalu.

Jadi, malam itu, saya masih jatuh hati dengan koleksi Oscar, Priyo dan Populo Batik.

Kesimpulannya, JFW 2014 kali ini benar-benar menampilkan banyak desainer yang berhasil menaikkan kelas dan kualitas mereka. Koleksi yang rapi, well tailored, clean cut dengan material terbaik, menjadikan gelaran tahunan ini begitu penuh semangat dan keyakinan akan masa depan cerah bagi para desainer muda tanah air.

Dua tahun yang lalu saya sempat berucap, "JFW sih JFW, tapi kenapa sedikit sekali desainer yang bisa buat koleksi mereka mengena, make sense, actually ready to wear, dan bisa jadi tren? Tidak perlu lah hujan payet yang dari 100 meter harus kelihatan atau cut out asimetris tidak jelas, tapi bahkan di tubuh model pun, terlihat aneh, bagaimana di tubuh perempuan Asia yang umumnya bertorso pendek atau berpinggul besar?

Maka patutlah desainer-desainer lokal diacungi jempol, tepukan di pundak, pelukan dan senyum haru untuk terus mendukung dan menghargai mereka, sehingga para seniman ini bisa terus berinovasi dan berkarya.

Ini menurut saya.


Editor's Pick

Add a Comment