Blog: 15 Lagu NAIF Terbaik yang (Mungkin) Belum Pernah Anda Dengar

Lagu-lagu berstatus single bisa menjadi karunia maupun kutukan bagi musisi, tergantung dari sudut pandang mana Anda melihatnya.

Oleh

Lagu-lagu berstatus single bisa menjadi karunia maupun kutukan bagi musisi, tergantung dari sudut pandang mana Anda melihatnya.

Single bisa meroketkan ketenaran sang artis serta melambungkan nilai penjualan album mereka. Namun dapat pula menyebabkan tenggelamnya lagu-lagu lain yang kurang tenar pada album—pendengar hanya mau mendengarkan lagu single secara terus menerus. Padahal sebagai seorang atau sekumpulan seniman, mereka pasti menginginkan agar karya-karyanya mendapat kesempatan yang sama untuk diserap.

David, Pepeng, Emil, dan Jarwo yang bermain bersama di dalam sebuah band dengan nama Naif adalah salah satu contoh yang menjadi korban dari betapa monumentalnya lagu-lagu single mereka dari album ke album—dari "Mobil Balap" ke "Posesif", "Aku Rela" ke "Benci untuk Mencinta", "Di Mana Aku Di Sini" ke "Karena Kamu Cuma Satu". Sebetulnya, "korban" adalah kata yang terlalu kuat karena tidak sedikit lagu Naif selain single yang menjadi favorit penggemar saat mereka tampil tampil di atas panggung.

Namun di bawah bongkahan emas tersebut, ada gundukan permata dari repertoar Naif yang berkilau luar biasa namun sayangnya tidak mendapatkan pengakuan sesuai—atau bahasa asingnya: underrated. Bahkan Naif sendiri jarang sekali, jika bukan tidak pernah, membawakan lagu-lagu tersebut.

Saya sudah cukup lama berencana menulis dan menyebarkan daftar ini, namun proses seleksinya menyulitkan. Naif adalah band brengsek karena telah menciptakan begitu banyak lagu bagus, membuat saya kerepotan dalam mengerucutkan jumlah lagu untuk daftar ini menjadi lima belas (awalnya ingin genap sepuluh, namun kewalahan dan menyerah). Saya rasa halal-halal saja jika band lain iri terhadap Naif untuk urusan produktivitas dan kreativitas, kuantitas serta kualitas, komersialisme juga idealisme yang bisa dijalankan beriringan.

Momen ulang tahun Naif ke-18 juga menjadi alasan mengapa saya merilis daftar ini pada Rabu (23/10). Apalagi tepat tadi malam, Naif telah melaksanakan konser ulang tahun mereka di Hard Rock Cafe, Pacific Place, Jakarta. Mereka membawakan total dua puluh dua lagu, dan sayangnya tak ada satu lagu pun pada daftar ini yang dibawakan.

Patut digarisbawahi bahwa setiap album yang pernah dirilis Naif memiliki perwakilan lagu masing-masing pada daftar ini. Selain itu, daftar ini tidak diurutkan berdasarkan lagu apa yang menurut saya paling baik, melainkan sesuai tahun rilis album. Jika lebih dari satu lagu berasal dari album yang sama, maka urutan bergantung kepada mana yang lebih dulu muncul pada tracklist album.

Lagu-lagu yang sudah dibawakan ulang oleh artis lain pada kompilasi Mesin Waktu: Teman-Teman Menyanyikan Lagu Naif tidak dicantumkan ke dalam daftar ini, karena menurut saya album tersebut sukses besar dalam mengenalkan karya-karya Naif ke demografi yang lebih muda.

Tanpa ditunda-tunda lagi, saya persembahkan lima belas lagu Naif terbaik yang (mungkin) belum pernah Anda dengar.

1. "Benci Libur" (dari album Naif, 1998)

Sebuah lagu menyenangkan tentang kekesalan terhadap hari libur? Hanya Naif yang bisa memikirkannya, dan hanya mereka pula yang mampu melakukannya dengan penuh gaya. Lirik "Siapa pun yang mengganggu akan aku tembak!" lengkap dengan suara tembakan yang seolah dicomot dari film fiksi ilmiah sudah bisa menjadi alasan mengapa lagu ini layak masuk buku sejarah.

2. "Sekali Layar" (dari album Naif, 1998)

Dimulai dengan alunan piano manis dari eks-kibordis Naif, Chandra Wirawan Sukardi, diikuti masuknya aliran bassline Emil, menyusul genjrengan malu-malu kucing Jarwo, detak pukulan drum Pepeng, serta vokal antik David; "Sekali Layar" adalah lagu yang mampu bermekaran secara anggun dalam durasi singkat—tidak sampai tiga menit. Perhatikan letupan tiba-tiba pada refrain ditandai dengan gaya menyanyi David yang mendadak penuh semangat.

3. "Safari Menuju Laut" (dari album Jangan Terlalu Naif, 2000)

Judul lagu yang brilian, walau masih beririsan dengan "Surfin" Safari" milik The Beach Boys. Tema liriknya pun sangat The Beach Boys, yaitu pantai dan selancar; begitu pula dengan harmonisasi vokalnya. Namun apa yang membuat lagu ini memiliki jarak dari The Beach Boys era pop matahari adalah adanya progresi memabukkan pada tiap verse, beserta lirik fantasi yang hanya bisa ditulis oleh manusia berimajinasi tinggi (atau dalam pengaruh halusinogen?): "Terhempas ke dasar laut/Hampir ku di ujung maut/Oh ternyata, tiba-tiba/Ku ditolong lumba-lumba".

4. "Stop (Air Mata Buaya)" (dari album Jangan Terlalu Naif, 2000)

Upaya terbaik Naif dalam menjadi serikat soul atau funk brothers. Padunya kehadiran kelompok alat tiup dan penyanyi latar membuat lagu ini berada pada kawasan musik hitam yang nikmat. Jangan lupakan lirik jenaka yang mewakili perasaan setiap pria dalam merespons amarah kekasihnya yang tidak penting-penting amat: "Ku mohon, stop!/Ku pergi segera/Ke Bali, ke Hawaii, India/Ke Paris, ke London, Malaysia/Ke Cina, ke Belgi, keliling-keliling dunia".

5. "Lepas Jiwa" (dari album Jangan Terlalu Naif, 2000)

Seperti banyak lagu bagus, lirik "Lepas Jiwa" mengandung sifat multi-tafsir. Kisah surealisme atau petualangan rohani? Pendengar yang jadi penentunya. Lirik dan aransemen sama-sama teler.

6. "Jual Pesona" (dari album Jangan Terlalu Naif, 2000)

Satu lagi dari album Jangan Terlalu Naif. "Jual Pesona" terdengar seperti lagu yang hilang dari sesi rekaman album Revolver milik The Beatles. Motif permainan drum kegemaran Pepeng muncul pada lagu ini, juga bassline yang sering digunakan Emil. Sementara itu, Jarwo bereksperimen dengan efek backmasking untuk suara gitarnya pada koda lagu.

7. "Electrified" (dari album Titik Cerah, 2002)

Melaju seksi, terima kasih kepada bassline menggeliat dan alat tiup yang genit, klop dengan lirik lagu yang berkisah soal nafsu laki-laki terhadap keindahan dan sensualitas lawan jenisnya. Soundtrack pembuatan bayi? Kenapa tidak.

8. "Lagu Fajar" (dari album Titik Cerah, 2002)

Lagu ini menanjak dengan hebat. Bila ada happy ending untuk sebuah lagu, maka "Lagu Fajar" memilikinya. Terdapat dua trivia menarik soal lagu ini: pertama adalah judul "Lagu Fajar" dipilih karena lagu tersebut memang ditulis oleh Fajar Endra Taruna, nama asli Jarwo. Kedua, ada dua drum yang dimainkan pada lagu ini; selain Pepeng, drummer lain yang menggebuk drum adalah Wawan Juniarso eks-Dewa 19 yang saat itu memperkuat tim manajemen Naif.

9. "Gula Gula" (dari album Retropolis, 2005)

Segala macam sembah sujud Naif terhadap psikedelia dari dekade 60-an memuncak pada lagu ini: drum berefek reverb, orkestra dengan nuansa ketimuran, solo gitar menakjubkan, dan lirik yang bisa diselewengkan menjadi tentang zat narkotika yang berfisik seperti gula (sebenarnya soal groupies, tetap merupakan tema yang menarik). "Gula Gula" mungkin adalah lagu yang paling tenar pada daftar ini, terbukti dari keberadaan video musiknya pada YouTube walau tidak pernah tayang di televisi—menurut deskripsi video tersebut.

10. "Akulah Pasanganmu" (dari album Retropolis, 2005)

Lagu manis yang sederhana. Sangat renyah berkat nada-nada yang mudah lekat di kepala. Berikan lagu ini kepada pasangan atau incaran Anda dan rasakan khasiatnya.

11. "Voor Moeder" (dari album Retropolis, 2005)

Penutup album yang mengharukan. Secara literal, "voor moeder" adalah bahasa Belanda yang berarti "untuk Ibu". Terdapat spoken word bahasa Belanda yang menekankan tema lagu. Verse lagu ini repetitif: "Semoga kita abadi selamanya". Begitu pula dengan refrain yang mengulang-ulang lirik, "Tetap selamanya". Pengulangan-pengulangan tersebut menambah kesan hipnotis terhadap lagu.

12. "Tersenyumlah" (dari album Televisi, 2007)

Terlepas dari gombal atau tidak, "Tersenyumlah" tetap merupakan lagu Naif yang manis. Tak perlu upaya untuk menyukai lagu ini.

13. "Superstar" (dari album Televisi, 2007)

Kritik terhadap orang-orang yang mengaku sebagai bintang walau hanya mengandalkan tampang, tanpa talenta. Nomor rock & roll yang intens, seluruh alat musik mendapat sorotan pada lagu ini. Perhatikan ketika lagu memberikan ruang kepada synthesizer untuk bertindak sebagai jembatan.

14. "Ooh Yeah!" (dari album Let"s Go!, 2008)

Dari judulnya sudah dapat dilihat bahwa "Ooh Yeah!" memiliki tempo tinggi. Namun tak pernah terbayangkan bahwa rekamannya akan raw seperti ini. Memang, Let"s Go! memiliki sub-judul A Halfway to Chapter 6 alias setengah jalan menuju album keenam, namun siapa sangka hasil rekaman yang mentah ini ternyata meluapkan energi Naif yang tiada tara.

15. "Hidup Penuh Cinta" (dari album Planet Cinta, 2011)

Klasik Naif pada album teranyar mereka. Seksi alat tiup? Centang. Solo gitar yang bernafas blues? Centang. Alur menanjak? Centang. Ramai-ramai bernyanyi pada koda? Centang.

P.S.: oke, harus diakui bahwa ada motif "udang di balik batu" dari daftar yang saya buat ini; agar suatu saat David, Pepeng, Emil, dan Jarwo memutuskan untuk menampilkan lagu-lagu di atas secara live. Lebih baik lagi, membawakan suatu album secara penuh di atas panggung demi memberikan kesetaraan terhadap karya-karya mereka. Siapa yang bisa menolak kesempatan menyaksikan Naif membawakan album Naif, Jangan Terlalu Naif dan/atau Titik Cerah—menurut saya, trinitas suci karya mereka—dari awal sampai akhir?

Editor's Pick

Add a Comment