Cover Story: Editor's Choice 2013: The Sensational - Pevita Pearce

Nyaris satu dekade setelah melakukan debut sebagai bintang iklan, perempuan berusia 20 tahun ini tengah menikmati popularitas yang paling menjulang di sepanjang kariernya. Hanya saja, ia menganggap ini baru permulaan.

Oleh
Raut wajah Pevita Pearce terlihat cemas.

"Sekarang jam berapa?," ia bertanya. Matanya mencari-cari dan berhenti di jam dinding yang terpampang di atas kaca rias. Pevita—yang saat itu mengenakan paduan tank top hitam, skort dwiwarna hitam dan abu-abu serta sepatu datar abu-abu dari bahan suede—baru saja tiba di sebuah studio yang berlokasi di Kemang Utara, tempat sesi wawancara dan pemotretannya dengan Rolling Stone Indonesia diadakan pada awal April lalu.

Tanpa menodai paras cantiknya walau datang tak bertata rias, wajah cemas Pevita lantas bermetamorfosis menjadi kesal campur sungkan. Ia mengatakan, "Argh, sudah jam sebelas lewat sepuluh menit ya! Aduh, maaf ya terlambat." Memang, perjanjian yang telah disepakati adalah bertemu di lokasi pada pukul 11.00 WIB, namun kekecewaan yang dirasakan Pevita terhadap dirinya sendiri karena datang terlambat sepuluh menit saja adalah respons yang mengejutkan. Ia bahkan juga sempat mengingatkan asistennya, yang tiba sekitar sepuluh menit setelah Pevita, untuk tidak membiasakan datang terlambat.

Stereotipe mengenai selebriti yang gemar datang terlambat jauh dari waktu kesepakatan sudah lebih dari sering mengambil tempat. Bahkan ada pula yang menyatakan: semakin terkenal, semakin terlambat pula seorang selebriti akan tiba. Namun Pevita berada jauh dari stereotipe tersebut.

Padahal, jika bicara soal kadar ketenarannya saat ini, Pevita sedang berada di puncak dalam perjalanan kariernya sampai saat ini. Terbukti, film yang terakhir dibintanginya, 5 cm, ditonton oleh 521.473 orang dalam lima hari pertama penayangan. Total, film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani tersebut, menyedot 2.388.523 orang; film dengan jumlah penonton paling banyak kedua selama tahun 2012, di belakang Habibie & Ainun.

Wajahnya seringkali muncul di berbagai media massa, baik tingkat nasional maupun regional, karena nilai berita yang ia emban dan juga tugasnya sebagai brand ambassador produk-produk tertentu. Pekerjaan sebagai model video klip juga ia sabet. Deretan band yang menggunakan jasa Pevita antara lain adalah Tangga, D"Masiv, Vidi Aldiano, Piyu, Afgan, dan yang terbaru, NOAH, untuk lagu "Hidup Untukmu, Mati Tanpamu".

Belum lagi pencapaiannya sebagai nomine Festival Film Indonesia 2008—Pevita masih berusia 16 tahun saat itu—pada kategori "Pemeran Utama Wanita Terbaik" berkat aktingnya lewat film Lost in Love.

Budaya Pevita untuk tidak datang terlambat bisa disinyalir datang sejak permulaan kariernya sebagai aktris yang juga dimulai jauh dari terlambat, jika tidak mau dibilang terlalu dini, yaitu saat ia berusia 11 tahun.

Kisah dimulainya karier Pevita bisa dibilang sangat klise, ia menemani kakaknya, Keenan Pearce, yang kini juga merupakan kekasih penyanyi Raisa Andriana, untuk audisi iklan. Apa daya, Keenan tidak lolos, namun Pevita diminta khusus untuk ikut audisi dan sukses besar. Ia mengenang, "Awalnya, gue nggak mau, tapi didorong-dorong dan akhirnya gue coba. Ternyata seru."

Dua tahun kemudian, berawal dari iseng-iseng, Pevita tampil pada film Denias, Senandung di Atas Awan yang merupakan perwakilan film Indonesia untuk Oscar 2008. Film arahan John de Rantau itu adalah penyebab dirinya jatuh cinta dengan kamera dan film.

"Dari situ gue nggak bisa lepas. It"s just something new, a new thing to try, and I didn"t know that I would fall in love immediately with acting. Tapi jujur, sampai sekarang gue merasa belum bisa akting. Selalu merasa ada yang kurang," terang perempuan yang memiliki keturunan Inggris dari ayahnya ini.

Saat ini, Pevita sedang terlibat dalam proyek film besar-besaran berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang diadaptasi dari novel karangan penulis legendaris tanah air, Hamka. Kisahnya sendiri tentang persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih.

Disutradarai oleh Sunil Soraya, film tersebut membutuhkan empat bulan reading di Jakarta dan empat bulan syuting di Padang, Makassar, Surabaya, serta Jakarta. Pevita akan beradu akting dengan Herjunot Ali yang juga merupakan lawan mainnya di 5 cm.

Tak berhenti sampai dunia hiburan, Pevita juga menyelami diri dalam aktivitas berbisnis lewat merek aksesorisnya yang bernama Hippearce. Meremehkannya di bidang bisnis adalah perbuatan yang salah karena ia tak sungkan menyebut "entrepreneur" sebagai profesinya. Lulusan short course akting di New York Film Academy cabang Gold Coast, Australia, ini menjelaskan, "Kalau ditanya soal profesi, gue jawab: entertainer dan entrepreneur. Dua-duanya gue suka, nggak bisa pilih salah satu. Lagipula keduanya tipe profesi yang berbeda juga. Tapi, intinya masih sama, yaitu menginspirasi orang lain dengan hasil karya gue."

Kepeduliannya terhadap lingkungan dan perdamaian dunia juga menjadi nilai tambah. Pihak Earth Hour dan My Baby Tree bahkan mengajak Pevita kerja sama untuk membangkitkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan planet bumi.

Entah ada berapa banyak laki-laki yang ingin bersamanya, dan entah ada berapa banyak perempuan yang ingin menjadi sepertinya; atau setidaknya sirik terhadap dirinya. Ketenaran dan perhatian yang Pevita Pearce terima, dan kian menjulang, membuatnya pantas dijadikan simbol sensasi dunia hiburan Indonesia untuk 2012.

Berikut adalah wawancara kami dengan sang sensasional, tentang ketenaran yang ia alami, keinginan untuk menikah, adegan g-string di film 5 cm yang dibicarakan banyak orang, Nazril Irham, pandangan terhadap dunia hiburan dalam negeri, hingga The Beatles.

Dengan usia belia, 20 tahun, Anda telah mencapai ketenaran yang luar biasa. Apakah pernah terpikir dan merasa takut kalau puncak karier Anda datang terlalu cepat?
Nggak sama sekali, gue selalu merasa ada awan di atas awan. Gue sama sekali nggak pernah merasa, "Aduh, gue sudah di puncak nih." Justru gue merasa kalau ini baru permulaan. It"s just the beginning. Walaupun ada orang yang berpikir kalau ini sudah puncak, namun nggak sama sekali buat gue. Gue baru mulai dan awalan ini bisa dibilang lumayan menantang. Banyak ups and downs. Mindset gue sekarang berbeda dengan gue yang tahun lalu, apalagi dua tahun lalu, tiga tahun lalu dan seterusnya. Saat ini gue sedang persiapan untuk syuting film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan itu adalah one of the biggest projects ever made in Indonesia. Ini benar-benar menguras waktu, tenaga, otak, emosi, dan mental; jadi gue merasa apa yang sudah gue lakukan sebelum-sebelumnya nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Sepertinya ini pertama kali gue dituntut untuk benar-benar akting, jadi agak menantang, tapi gue tahu gue bisa.

Kalau di film-film sebelumnya tidak dituntut akting?
Karakter yang gue perankan di film-film sebelumnya bisa dibilang gue jadi diri gue sendiri, atau setidaknya relate dengan karakter itu lewat apa yang pernah gue alami di kehidupan nyata. Sementara itu, di Tenggelamnya Kapal Van der Wijck gue berperan sebagai Hayati. Setting tahunnya adalah dari 1920 sampai 1935, dan gue nggak pernah hidup di era itu. Jadi gue nggak tahu bagaimana orang-orang dari era tersebut berdandan, berbicara apalagi bersikap. Sedikit sulit untuk meraih ke sana, makanya gue terus belajar.

Riset yang Anda lakukan seperti apa?
Gue terima kasih kepada Google [tertawa]. Di situ ada banyak informasi. Namun tentu saja, gue juga ngobrol-ngobrol dengan orang untuk minta pendapat dan siapa tahu ada masukan-masukan krusial.

Sampai saat ini, setelah melalui banyak naik turun, apa pencapaian Anda yang paling membanggakan?
Untuk bisa ikut serta dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan pencapaian yang luar biasa buat gue. Namun setelah ini gue harus mencari lagi yang baru, sesuatu yang belum pernah gue coba sebelumnya.

Apakah ada target tertentu yang ingin Anda capai ke depannya?
Ada, gue mau menikah [tertawa].

Kapan?

Kisah selengkapnya baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 97, Mei 2013.


Editor's Pick

Add a Comment