70s Orgasm Club (Belum) Bubar

Satu-satunya personel yang tersisa, Anto Arief, masih memperjuangkan album penuh yang renca-nanya dirilis tahun ini

Oleh
Membicarakan 70s Orgasm Club, unit rock-blues-funk asal Bandung, dengan Anto Arief bisa sangat panjang tetapi sama sekali tidak membosankan. Bagaimana tidak, mendengarkan pria yang menjabat sebagai vokalis sekaligus gitaris itu bercerita tentang perjalanan bandnya; yang harus menunggu selama delapan tahun untuk merilis sebuah album mini, sungguh terasa mengasyikkan. Jika delapan tahun hanya untuk menghasilkan album mini Supersonicloveisticated yang baru dirilis beberapa bulan lalu tersebut dianggap kurang untuk membuat perjalanan bandnya terasa tidak mulus, maka ditinggal oleh bassist dan drummer-nya mungkin adalah puncaknya. Dua sahabat Anto, Rio Novtriansyah dan Endi Sutendi, memutuskan harus keluar dari 70s Orgasm Club karena lebih memilih pekerjaan dan keluarga.

Apakah 70s Orgasm Club akan bubar atau tetap ada, setelah menyisakan Anto sendirian? "Kata-kata yang tepat adalah gue meneruskan perjuangan teman-teman. Memang band ini sebenarnya aneh banget. Band yang most of the time, sampai sekarang, tidak punya manajemen yang benar. Kami sempat naik karena sebuah festival, lalu turun lagi. Terakhir, yang membuat kami stagnan itu di 2009, gue sibuk ngantor, dua personel lainnya kawin," cerita pria yang berpostur tinggi dan kurus itu. Setelah 2009, ia mengambil keputusan besar karena harus keluar dari pekerjaannya. Ia berharap dengan keputusan itu, ia bisa lebih fokus mencurahkan hatinya untuk musik. Tetapi Anto melihat kedua temannya sudah lebih fokus kepada keluarga dan pekerjaan, sehingga menurutnya tidak akan bisa mengimbangi hasratnya untuk terus bermusik.

Akhirnya Anto meminta izin kepada kedua temannya untuk meneruskan band ini sampai bisa mengeluarkan sebuah album penuh. Tetapi sebelumnya, ia ingin merilis sebuah album mini, yang biaya produksinya ditanggung oleh salah satu kawan Anto, sekaligus menandai Supersonicloveisticated sebagai album perpisahan dengan kedua temannya.
"Semua orang bertanya, "Buat apa sih elo mengeluarkan album mini ini, padahal elo kan sudah sendiri. Kenapa pakai materi yang lama?" Menurut gue, (album) ini seperti fase penting dalam musikalitas gue. Ya harus diberesin satu-satu. Kalau nggak beres, ya mungkin nggak jadi apa-apa," tuturnya.

Lima lagu termuat dalam Supersonicloveisticated. Lagu "Supersonicloveisticated", "Peppermint, Insect", dan "Love Bus" sudah pernah dirilis dalam sejumlah kompilasi beberapa tahun yang lalu. Sedang dua lainnya, "Libido Schizophrenia" dan "Yellow Mellow" versi akustik, adalah lagu baru yang belum pernah dirilis. Untuk menambah spesial album perpisahan tersebut, 70s Orgasm Club hanya merilis album itu sebanyak seratus buah dengan sepuluh artwork sampul yang berbeda.

Tidak hanya tampilan luar album yang benar-benar dipersiapkan, Anto membeberkan bahwa ia sempat berlatih vokal kepada salah satu vocal coach ternama di Jakarta, Indra Aziz, untuk menunjukkan keseriusannya menggarap Supersonicloveisticated.
"Gue sempat kursus, les singkat dengan Indra Aziz. Karena gue sama Indra Aziz memang berteman, gue bilang ke dia, "Ziz, gue mau take vocal untuk EP nih, tolong dibekali dong." Tapi karena biayanya cukup mahal, akhirnya gue ngomong, "Gue punya duit sebanyak ini, bisa buat berapa kali (latihan)?". Akhirnya bisa (latihan) dua atau tiga kali, lupa gue," kata Anto sambil tertawa.

Tetapi jika 70s Orgasm Club sudah berhasil memenuhi target terakhir untuk merilis album yang rencananya akan dikeluarkan tahun ini, Anto sendiri belum berani memastikan apakah band yang pernah menjadi finalis di salah satu kompetisi band se-Indonesia pada 2007 tersebut akan benar-benar bubar atau tidak.
"Gue nggak ngerti sih (70s Orgams Club) ini bakal bubar atau tidak. Tapi yang jelas, nggak- akan ada album kedua. Karena orientasi bermusik gue sudah jauh berbeda," jelasnya.

Ia kemudian menceritakan rencananya akan bermusik tidak membawa nama "70s Orgasm Club" lagi, bahkan ia kemungkinan tidak begitu menonjolkan unsur funk dalam musik barunya.
"Lebih eklektik. Tapi gue kalau main gitar selalu nge-groove, pasti. Jadi nggak bisa dipungkiri, beberapa lagu gue yang baru tetap ada yang nge-groove. Tapi mungkin lebih luas," ungkap Anto.

Tidak membawa nama 70s Orgasm Club dan tidak begitu menonjolkan unsur funk dalam musiknya, ia kelihatannya tidak bisa melepaskan keterikat-annya dengan masalah cinta dalam hal lirik. Berbicara tentang cinta, pria yang kerap berceloteh, "Cinta, cinta, cinta!" di setiap penampilannya itu seperti menyetujui setiap kata dalam lagu The Beatles, "All You Need is Love".

"Gue pikir cinta itu seperti energi, seperti cara untuk bersyukur terhadap semua yang ada di sekitar kita. Jadi kalau kita memberi energi cinta besar ke sekeliling kita, pasti me-reka akan memberinya kembali, seperti feedback. Gue orangnya itu sangat pecinta," ujar Anto terkekeh.


Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Kisah di Balik Tur Konser Keliling Dunia Raksasa Metallica
  3. Album Debut Eleventwelfth Dirilis Ulang di Jepang
  4. Saksikan Video Musik Terbaru Monita Tahalea, “Hai”
  5. Grup Folk Rock asal Bandung, Rusa Militan, Merilis Album Perdana

Add a Comment