Al Jarreau: 'Jazz Sekarang Kadang Melupakan Kredonya'

Siapa sangka berbicara dengan Al Jarreau akan menyinggung Haight-Ashbury, sebuah daerah di San Francisco yang sempat disebut sebagai pusat pergerakan <em>counterculture</em> pada dekade ’60-an? Jurnalis legendaris, Hunter S. Thompson, bahkan menyebut daerah tersebut “Hashbury” karena keberadaan mariyuana (<em>hash</em>) yang sangat mudah ditemui.

Oleh

Siapa sangka berbicara dengan Al Jarreau akan menyinggung Haight-Ashbury, sebuah daerah di San Francisco yang sempat disebut sebagai pusat pergerakan counterculture pada dekade "60-an? Jurnalis legendaris, Hunter S. Thompson, bahkan menyebut daerah tersebut "Hashbury" karena keberadaan mariyuana (hash) yang sangat mudah ditemui.

Tapi itulah yang terjadi pada Sabtu (3/3) lalu ketika Rolling Stone di sela-sela ajang festival Java Jazz 2012 menjalankan sesi wawancara dengan penyanyi jazz berkemampuan tinggi peraih tujuh trofi Grammy Awards tersebut.

Tidak hanya itu, Al Jarreau juga menceritakan soal asal mula hubungan dekatnya dengan kolaborator George Duke. Ia pun mengungkapkan pendapatnya soal jazz di masa jayanya dan jazz sekarang di mana ia sempat menyebut Miles Davis, Herbie Hancock, dan Chick Corea sebagai orang-orang yang berani membawa perubahan.

Berikut adalah hasil wawancara kami dengan pria berusia 71 tahun yang tampil sebanyak dua kali, pada hari pertama dan terakhir, di Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz Festival 2012.

Bisa ceritakan bagaimana Anda pertama kali bertemu dengan George Duke? Kalau tidak salah pada dekade "60-an ya?
Betul, saya masih baru di San Francisco ketika itu. Ada sebuah klub di sana bernama Half Note dan ketika saya masuk kebetulan George Duke sedang main di sebuah acara bertajuk Sunday Afternoon Matinee. Sebelumnya, saya sudah pernah dengar kabar mengenai pianis hebat dan trionya ini. Banyak pengunjung yang naik ke atas panggung, ada yang main terompet, gitar, dan sebagainya. Saya pun turut serta bernyanyi. Ketika selesai, pemilik Half Note menghampiri saya dan berkata, "You"re hired!" Saya ditawari untuk bernyanyi dengan George Duke Trio dan saya menerimanya. Dan hasilnya adalah masa pembelajaran tiga tahun yang menakjubkan. Saya memiliki pengalaman menyanyi yang sedikit dan tiba-tiba diiringi oleh trio hebat itu. Saya menjuluki George dengan sebutan "Duke University of the Swing". George swings! Ia adalah musisi yang luar biasa!

Selain bermusik, apa yang kalian lakukan untuk bersenang-senang saat itu?
Saya tidak bisa membicarakan hal itu. Kami hanya membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan kaki untuk tiba di Haight-Ashbury, kau tahu? (tertawa)

"Hashbury" ya?
(tertawa) Anda yang mengatakannya, bukan saya! Itu merupakan era yang menarik untuk berada di San Francisco. Banyak hal penting terjadi berkat komunitas-komunitas yang ada di sana. Cara berpikir masyarakat Amerika Serikat sedang mengalami perubahan, ada semacam evolusi sekaligus revolusi yang terjadi ketika itu. Anak-anak muda berbicara soal ide baru yang harus kita dengar demi mencapai perdamaian, yaitu make love, not war. Fakta bahwa saya dan George dapat menyedot penonton jazz di era itu, yang dapat dikatakan periode terpenting dalam sejarah rock n" roll, merupakan pertanda besar bagi kami. Di tengah semaraknya musik rock n" roll, orang-orang masih berkenan datang ke penampilan kami yang jazzy. Saya merasa bahagia dapat mengalami era itu. Apalagi saya dan George juga memiliki album live dari masa-masa itu yang berjudul Al Jarreau and the George Duke Trio Live at Half Note 1965; itu menjadi semacam snapshot dari apa yang telah kami lalui ketika itu.

Menurut Anda, apa perbedaan jazz di masa jayanya, yang orang bilang antara dekade "50-an hingga "70-an, dengan jazz sekarang?
Jazz sekarang terkadang melupakan kredonya, yaitu untuk selalu terbuka dan siap terhadap perubahan. Tidak semuanya harus berunsur be-bop. Jazz meminta Anda untuk memanfaatkan sejarah demi membentuk apa yang Anda lakukan. Jazz meminta Anda untuk menghormati improvisasi. Miles Davis adalah salah satu eksponen hebat dari era awal jazz yang membuka pintu bagi musisi-musisi lain untuk bereksperimen. Lalu muncul Herbie Hancock, begitu juga dengan Chick Corea. Orang-orang inilah yang terus membuka pintu baru dan siap menghadapi perubahan.

Bisa jelaskan lebih lanjut soal hubungan Anda dengan George Duke. Apakah seperti hubungan antara guru dan murid, atasan dan bawahan, teman, atau keluarga?
(tertawa) Semuanya! George selalu mengajari hal-hal baru dan saya tidak mau melewatkan studi dari "Duke University of the Swing". Saya kagum terhadap dirinya, baik sebagai pianis solo maupun anggota trio. Saya juga menyukai caranya bernyanyi. Bagaimana seseorang bisa sama hebatnya dalam bermain piano dan bernyanyi? Saya tidak mengerti. Talenta yang luar biasa. George juga memiliki area bermain yang luas, ia pernah merilis album komposisi klasik bertajuk Muir Woods Suite dan juga pernah tampil heboh di atas panggung bersama Parliament Funkadelic. Keduanya ia lakukan dengan indah. Saya tidak tahu siapa lagi yang bisa melakukan hal seperti itu.

Apa nasihat paling tak terlupakan dan bermakna yang pernah Anda terima dari George Duke?
Kami sama-sama menjunjung tinggi ucapan "follow your heart". Kami sama-sama membuka diri terhadap musik baru. Seperti yang saya bilang tadi, George memiliki area bermain yang luas dan itu disebabkan oleh kecintaan dan keterbukaannya terhadap banyak jenis musik. Intinya, kami mendukung satu sama lain dengan cara berpikir masing-masing.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Free Download: Future Collective - "Molposnovis (feat. Anindita Saryuf)"
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Sonic Fair 2017 Resmi Pindah ke Lokasi yang Lebih Luas
  4. Menyemai Inspirasi di Archipelago Festival 2017
  5. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik

Add a Comment